Teruntuk: Seseorang di Dalam Diriku yang Selalu Aku Ragukan

Ada satu ruang di dalam diriku yang tak pernah benar-benar utuh: aku sendiri.
Aku berjalan dalam gelap, menyusuri lorong-lorong batin yang sunyi, sambil menggenggam serpihan rasa yang tak pernah selesai kutafsir. Di sana, aku temui bayangku sendiri—seorang asing yang kukenal. Ia diam menatapku, lalu berbisik:

“Mengapa kau selalu ragu pada dirimu sendiri, padahal kau tahu kepada siapa hatimu sebenarnya bersandar?”

Aku terdiam. Lalu menjawab dalam hati, setengah percaya, setengah menghiba:

Selain padaMu aku sisakan dari sepenuh hati,
karena selainMu, ujung sana adalah sakit hati.
Selain daripadaMu aku sisakan dari segenap jiwa,
karena kemungkinan akhir cerita adalah sakit jiwa.

Dan sungguh, betapa rapuh cinta jika tak bertumpu pada keabadian. Cinta yang menggantung pada sesama ciptaan selalu menuntut imbalan: perhatian, pengakuan, keberlanjutan. Namun padaMu—cinta menjadi penyerahan. Menjadi teduh tanpa syarat. Menjadi rumah yang tak pernah pergi.

Aku pernah mencoba membagi hati, menyisipkan harap pada yang fana, mengira cinta manusia bisa menampung seluruh luka dan harapan. Namun yang fana hanya bisa mencintai sebatas kemampuannya mengerti. Sisanya adalah retakan. Sisanya adalah pengkhianatan sunyi yang tak disebutkan. Dan aku, selalu kembali dengan hati yang kehilangan bentuk.

Tuhan, aku lelah menjadi versi yang orang lain harapkan. Aku letih mencintai apa yang tak tahu cara menjaga. Maka aku kini memilih pulang—kepadaMu, dan kepada diriku yang pernah aku tinggalkan.

Dalam pencarian yang panjang dan perih, aku akhirnya sadar:

Bahwa hati dan jiwa adalah milik cinta.
Tapi cinta itu sendiri bukan tujuan.
Ia hanyalah kendaraan menuju Diri Sejati.
Dan Diri Sejati itu hanya akan ditemukan saat bersandar pada-Mu.

“Jangan mencintai apa yang tak bisa menyelamatkan jiwamu,” kata bisik hatiku di malam paling gelap.

Lalu aku berhenti. Berhenti memaksakan bahagia dari dunia yang tak mengenalku. Berhenti berharap pada tangan yang tak sanggup menggenggam. Dan aku biarkan cinta mengambil bentuk tertingginya: penyerahan.

Kini aku mulai merawat diriku sendiri. Bukan untuk dicintai, melainkan untuk layak menjadi wadah cinta yang benar. Aku mulai mencintai tanpa menggenggam, memiliki tanpa memaksakan. Aku mulai berbicara pada bayangan yang dulu ingin kutinggalkan. Dan pelan-pelan, aku berdamai.

Jika suatu hari aku jatuh cinta lagi, biarlah aku hanya jatuh kepada kebaikan. Kepada keikhlasan. Kepada cinta yang tidak membelenggu, tapi membebaskan.

Manusia mengejar cinta karena ingin pulang. Tapi seringkali lupa, bahwa rumah satu-satunya adalah yang menciptakan jiwa.

Aku menulis ini untuk seseorang di dalam diriku yang selalu aku ragukan. Aku ingin ia tahu—bahwa segala luka dan gelisah adalah penanda bahwa kita sedang diarahkan, bukan ditinggalkan.

Dan pada akhirnya, hati dan jiwa hanyalah untuk cinta. Tapi cinta sejati sepenuh hati dan jiwa… hanya layak untuk Tuhan. Yang tak akan menyakiti. Yang tak akan pergi. Yang tak pernah meminta kita menjadi apa-apa, selain pulang dengan utuh dan bersih.

Yogyakarta, 20250405
duiCOsta_hatihati 

Comments

Popular Posts