petunjuk dari utara

Serigala masih melolong,
sembari menelanjangi tulang-tulang mayat,
tapi kini,
ia melakukannya di samping excavator
yang lengannya berdiri seperti dewa perang mekanik
diam, namun selalu haus akan kehancuran berikutnya.

Di belakangnya,dozer menggeram rendah
seperti naga tanah yang malas dibangunkan,
dan truk-truk raksasa berbaris
bagai gerombolan raksasa Utara
yang siap menghancurkan lembah, 
tanpa meninggalkan nama.

Di tengah yard berdebu itu,
seorang karl berdiri, 
mantel kerja lusuh,
helmnya penuh goresan,
seperti perisai veteran perang.
Ia memegang RTX GNSS,
trimble hanyalah nama.
seperti pendeta memegang kitab takdir,
mengukur dunia bukan untuk membangunnya,
melainkan untuk menaklukkannya.

Angin panas dari mesin menderu
mengiris udara seperti pekikan valkyrie,
dan ia tahu:
di kelompok klan ini,
rapat bukanlah rapat,
melainkan ritual perang.
Deadline bukanlah tanggal,
melainkan batas antara hidup 
dan reputasi yang dikoyak.
Dan setiap kesalahan
selalu membawa aroma kematian karier
yang mengendap seperti kabut di fjord.

Ia menatap refleksinya 
pada kaca pintu alat berat,
retak oleh debu dan diesel,
dan sadar bahwa musuh terbesarnya
bukanlah kompetitor,
bukan cuaca,
bukan medan,
melainkan dirinya sendiri
yang mulai lelah bertarung
di dunia yang menuntut kekuatan 
yang bahkan para dewa pun enggan memikulnya.

Namun ia tertawa.
Tawa yang berat,
seperti starter mesin tua yang memaksa hidup kembali.
Sebab ia tahu,
kebijaksanaan jarang lahir dari meja yang bersih,
tetapi tumbuh dari perang yang gagal,
alaram subuh,
disini misalnya..
dan malam-malam,
yang hanya ditemani sorotan lampu tower crane
yang bergoyang seperti obor purba di puncak gunung.

Saat fajar menyapa yard dengan warna oranye berkarat,
serigala pun berhenti merobek jenazah,
dan excavator menunduk seperti memberi hormat.
Ia mengangkat helmnya,
bukan sebagai tanda siap bekerja,
tetapi sebagai deklarasi
bahwa ia tidak pernah terlahir untuk tunduk pada badai,
bahkan badai yang berbentuk target proyek,
audit dan laporan mingguan.

Karena hanya mereka 
yang berani menatap kekacauan operasional
sebagai medan perang suci,
yang pantas memahat takdirnya
di atas tanah yang terus digali oleh cakar baja.

mati suri di megahnya nama besar,
atau menanti pergi di jalan keluar,
sunyi...
mati..

Pomalaa, 20251118
duiCOsta_hatihati 

Comments

Popular Posts