peluk mesra majnun
Kita berlayar dalam bahtera yang kita sebut "hidup", merancang peta, memetakan rute, yakin bahwa setiap kompas menunjuk ke arah kebahagiaan. Namun, adakalanya, gelombang kebingungan datang, dan bahtera kita terombang-ambing. Saat itulah, dari kedalaman yang tak terduga, dari jurang yang ditakuti oleh nalar yang terlampau lurus, terdengar bisikan. Bukan bisikan kegilaan, melainkan gaung kebenaran yang terlalu jujur untuk diterima oleh telinga yang terbiasa dengan simfoni kepalsuan. Mereka, para "jiwa yang disingkirkan", bukanlah gila. Mereka adalah cermin, dan cermin, sebagaimana mestinya, tak pernah berbohong.
Aku adalah cermin, kawan,
Bukan untuk merayumu,
dengan fatamorgana,
Tapi untuk menamparmu,
dengan citra yang kau tolak.
Lihatlah, itu wajahmu!
Bukan masa depanmu,
tapi masa kini yang kau sembunyikan.
Betapa ngeri, bukan?
Menjadi dirimu sendiri.
Bayangkan sebuah pasar, riuh rendah dengan janji-janji masa depan yang cerah, dijual murah oleh pedagang fatamorgana. Lalu muncullah ia, sang pemegang cermin, berteriak lantang: "Lihatlah masa depanmu! Gratis!" Orang-orang bergegas, mata mereka berkilat dengan hasrat. Namun, yang mereka lihat hanyalah bayangan samar diri mereka, berkelindan dengan angan dan ketakutan paling mendalam. Si "gila" itu tersenyum miris. "Itu masa depan kalian," katanya, "kabur, tak jelas, namun selalu tentang kalian. Bukankah ironis, obsesi kita pada 'esok' hanya mengembalikan kita pada 'kini' yang tak pernah kita hadapi?" Dan kesadaran itu, datang bagai tamparan dingin di pipi, membangkitkan kebodohan yang selama ini nyaman bersembunyi. Oh, betapa naifnya kita, mendambakan ramalan ketika kebenaran diri adalah ramalan paling akurat.
Jiwa kita, kadang kala, terlampau berat dengan duka yang tak terucap, mengendap seperti lumpur di dasar bejana. Kita memeluknya, menjaganya seolah ia adalah pusaka. Namun, di tepi sungai waktu, seorang perempuan tua membersihkan lumpur, dan ia berbisik, "Aku mencuci kesedihan." Ada anak-anak yang bertanya, dengan mata polos, "Apakah lumpur itu kesedihan, Nenek?" Ia tersenyum, senyum yang membawa beban berabad-abad. "Bukan, Sayang. Lumpur itu hanyalah wadahnya. Aku melepasnya ke sungai, agar kesedihan itu sendiri tahu rasanya dibuang. Agar ia tak lagi mengira dirinya adalah bagian tak terpisahkan dari dirimu." Mengalirkan duka, bukan menenggelamkan diri di dalamnya. Bukankah kita selalu diajari untuk 'mengatasi' kesedihan? Mengapa tidak 'melepaskan'nya saja? Seperti kotoran, ia hanyalah residu yang perlu dibersihkan.
Duka, apa kabar luka,
kau tamu tak diundang,
Mengapa kau berkeras tinggal di ruang hatiku?
Pergilah,
biarkan sungai membawa dirimu,
Agar kau mengerti,
bukan aku yang butuh dirimu,
Tapi kau yang butuh dilupakan.
Ironi lain, yang mengoyak tatanan sosial, terjadi ketika hierarki terbalik. Seorang pengemis, bukan menerima, melainkan memberi. Ia menyodorkan koin kepada seorang saudagar kaya, yang pongah dan terbiasa memberi dari posisinya yang tinggi. Kemarahan meledak di wajah sang saudagar. "Hinaankah ini?" teriaknya. Namun sang pengemis, dengan mata yang menatap jauh ke dalam jiwa, menjawab pelan, "Tuan, saya hanya memberikan Anda kesempatan untuk merasakan pengalaman menerima. Sesuatu yang mungkin, dalam kekayaan Anda, telah lama terlupa." Koin itu jatuh, bukan karena amarah, melainkan karena kesadaran yang menyentak. Tangannya yang selalu terbuka untuk memberi, kini terbuka untuk menerima, dan di situlah, ia merasakan kekayaan sejati: kerentanan dan kehangatan dari sebuah pemberian tulus. Sebuah paradoks yang membebaskan jiwa dari belenggu status.
Dan jika kebenaran adalah obat pahit, maka kepalsuan adalah candu yang membuai. Di pengadilan absurd, seorang yang dicap gila menjadi hakim. Ia tak mengadili kejahatan tubuh, melainkan kejahatan jiwa: dusta. Vonisnya: satu hari di "penjara kejujuran" untuk setiap kebohongan. Terdakwa, terbiasa bersembunyi di balik topeng, tertawa sinis. "Mana mungkin?" Namun, sang hakim gila, dengan tatapan tajam, membalas, "Mulai sekarang, katakan kebenaran. Kau bebas." Tangis meledak. Bukan tangis penyesalan, melainkan tangis ketakutan. Ketakutan untuk berhadapan dengan diri yang telanjang, tanpa perisai kebohongan. Penjara kejujuran. Begitu sederhana, namun begitu brutal. Ia keluar, bukan bebas dari hukuman, melainkan ringan dari beban yang selama ini membelenggu jiwanya.
Kau merantai dirimu dengan dusta,
Membangun istana dari ilusi yang rapuh.
Aku tawarkan kunci kebebasan:
Beranilah telanjang di hadapan dirimu,
Dan lihatlah,
betapa kosongnya penjara yang kau takuti.
Dan di puncak keheningan, dalam kamar yang menjadi saksi bisu pergulatan batin, seseorang yang dianggap hilang akal menulis surat. Bukan surat cinta, bukan surat keluhan, melainkan pengakuan yang mengguncang eksistensi. "Maaf, Tuhan," tulisnya, "aku lupa berhenti menjadi manusia." Lalu, sebuah tindakan aneh: surat itu dibakar, abunya dihirup. Tidur. Keesokan harinya, ia menulis lagi: "Terima kasih, aku ingat menjadi abu." Ini bukan puisi biasa. Ini adalah manifesto pelepasan total. Sebuah keinginan untuk mengikis setiap lapisan identitas yang membebani, agar menjadi ringan, seringan debu, yang bisa terbawa angin. Ia tak ingin menjadi manusia yang terlalu penuh, terlalu kompleks, terlalu terbebani oleh eksistensinya sendiri. Ia hanya ingin pulang, ke ketiadaan yang murni.
Kemanusiaan,
beban yang berat,
Terlalu banyak aku,
terlalu banyak milik.
Biarkan aku menjadi debu yang melayang,
Menyatu dengan angin,
lepas dari sangkar bernama diri.
Inilah kebebasan sejati, bukan?
Menjadi bukan apa-apa.
Maka, ketika orang-orang menunjuk mereka dengan jari, melabeli mereka 'gila', sesungguhnya merekalah yang menyingkap kegilaan di balik kewarasan kita. Kata-kata mereka adalah cambuk yang membangunkan, melukai ego kita, namun menyembuhkan jiwa. Kita tertawa, kita marah, kita diam, dan di antara semua itu, tersadarlah kita: Kegilaan yang sejati bukanlah ketiadaan akal, melainkan kejujuran yang menolak untuk bernegosiasi. Ia adalah cermin yang sakral, yang tidak pernah sudi berbohong, meskipun kebenaran itu menghancurkan ilusi yang kita bangun dengan susah payah. Mereka, sang Pembuka Tabir, memanggil kita dari misteri langit, bukan untuk menenggelamkan, melainkan untuk membukakan mata.
Pomalaa, 20251118
duiCOsta_hatihati
Comments
Post a Comment