cieeee, aku kamu
Di bibir, aku memuji bahwa Kekasih itu Maha Adil. Namun di dalam hati, aku protes keras ketika keadilanmu tidak berpihak kepada ingin dan anganku. Pengakuan paling sadisku adalah: yang kupuja selama ini bukanlah kamu, melainkan berhala dari bayangan diriku sendiri yang merasa tak pernah salah. Pantas saja jalan pintas ke surga kita terasa buntu, jalan cepat ke sana terasa panjang berkelok. Jika sejauh ini ruang cinta kita terasa begitu sunyi dan sempit, itu karena aku telah mengusir semua orang yang layak, hanya demi menyisakan aku dan aku untuk menetap dan memenuhi seruang surga itu. Pada akhirnya, aku berharap masih ada waktu untuk merayumu kembali, seperti yang sudah-sudah. Agar berhala yang kupahat sendiri runtuh tanpa jasad, dan aku bisa kembali memelukmu tanpa canggung setelah kamu Cemburu. Aku rida dihalau dari surga solipsistik rekayasa egoku, demi melarung dan luluh dalam rengkuhan magfirat maha-ada yang kau bentangkan. Sebuah rahasia manis yang baru kusadari: petunjukmu...