jatuh hati pada jarak
Sejak zaman purba, ketika manusia pertama mendongak menatap langit, hingga zaman di mana teknologi mencapai puncaknya, bahkan hingga saat manusia modern mulai jenuh dengan segala kemudahan lalu memilih kembali pada kesederhanaan peradaban masa lalu, ada satu hal yang abadi mengiringi sepanjang lintasan waktu. Paradigma setiap generasi tidak pernah berubah: mata dan hati manusia selalu memandang bulan itu indah, persis seilusi falsafah "rumput tetangga terlihat lebih hijau" , atau yang dalam keheningan mistisme Kejawen dirawat secara sufistik sebagai sawang sinawang. Kita terus menerus terjebak dalam ilusi pandangan, mengagumi apa yang tak terjangkau, sembari meragukan bumi yang sedang kita pijak. "Apakah aku sungguh mencintai apa yang kulihat, ataukah aku hanya terpesona oleh jarak yang membentang di antaranya?" bisik batinku saat menatap pijar pucat di cakrawala malam. Sebenarnya, kamu tidak pernah benar-benar jatuh cinta pada bulan; kamu hanya jatuh cinta pada j...