Hilang di Sembilan Tahun
Lalu berkatalah seorang musafir yang telah sembilan tahun melangkahkan kakinya di bawah naungan istana kerja yang sama: "Bicarakanlah kepada kami tentang kelelahan jiwa yang tak bersuara, tentang raga yang masih tertambat tatkala jiwa telah lama berlayar." Dan ia mengangkat wajahnya yang teduh, tatapannya menembus cakrawala waktu yang silam, lalu bersabda: Dahulu, tempat ini adalah ladang di mana benih-benih impianku berakar. Nawa warsa berlalu, dan setiap tetes keringatku adalah karsa yang kusiramkan dengan rasa bangga. Aku dipanggil sang kebanggaan, pekerja yang berhati lurus, yang tak rela membiarkan beras dan sepiring nasi tercemar atau pekerjaan terhenti sebelum fajar menyingsing. Di dalam lorong-lorong batu ini, aku merasa diriku ada; aku adalah tiang yang menopang atap, dan jiwaku bersatu dengan bumbungan bangunan ini. Namun, waktu adalah sungai yang tak pernah berhenti mengalir. Datanglah nahkoda baru dengan bahasa yang asing bagi nuraniku. Ia membawa panji-panji ...