Enam Enam Dua Enam
Hari ini, ketika angka di kalender menunjuk pada 6 Juni, aku menyadari bahwa semesta sering kali bekerja dengan cara yang paling rahasia dan tak terduga. Kemarin, tanggal 5, seharusnya tubuhku sudah diterbangkan angin menuju pulau seberang. Manusia merencana, namun sepotong alasan teknis dari maskapai tiba-tiba menahan langkahku di bumi yang sama dengannya. Bagi dunia, itu mungkin sebuah penundaan atau gangguan jadwal. Namun bagiku, itu adalah konspirasi langit yang paling indah. Tuhan sedang sengaja mematahkan sayap pesawat, agar aku tetap tinggal; agar aku tidak kehilangan sedetik pun waktu untuk mengeja syukur di hari lahirmu. Ini bukan sekadar kebetulan teknis. Ini adalah berkah yang menyamar, sebuah jeda yang sengaja ditenun oleh takdir agar aku bisa berada di sini, di sisimu, merayakan detak jantungmu yang memulai babak baru. Ya, babak baru yang mungkin berulang, tapi dengan waran dan aroma yang selalu di perbaharui oleh waktu. Sejak tahun 2004 yang sakral itu, ketika janji su...