Jalan Sembuh
Di batas getir yang tak terucap, manusia kerap mengumandangkan tawa paling nyaring hanya untuk membungkam gemuruh di dada. Kita memilih tertawa bukan karena bahagia, melainkan agar retakan jiwa tak terdengar sebagai ratap di telinga dunia. Namun uniknya, ketika bahagia itu benar-benar datang menjelma gelombang cahaya, air mata justru menetes tanpa permisi, sebuah pengakuan purba bahwa hal paling indah sekalipun sanggup melukai dengan cara yang paling lembut. Begitulah kita, menenun tawa dan tangis dalam satu tarikan napas, menjadi kisah yang tak pernah utuh tanpa keduanya. Namun, mengunci rapi retakan di balik topeng tidak pernah benar-benar menghilangkan rasanya. Menimpa duka dengan pura-pura tangguh hanya membiarkan luka membusuk dalam diam. Padahal, siapa pun yang pernah berdarah hatinya, tanpa peduli seberapa dalam atau kelam duka yang dipikulnya, memiliki hak yang mutlak untuk sembuh. Tidak ada derita yang terlalu sepele untuk dipulihkan, dan tak ada jiwa yang ditakdirkan untuk ...