Abunawas dan Majenun
Foto hitam-putih nan estetik terpasang rapi: bayangan para jemaah tersiram cahaya syahdu di dalam masjid. Namun, begitu mata turun membaca teksnya… BOOM. "Ia pergi ke masjid untuk mengadukan perlakuan orang-orang yang telah menzaliminya... namun ia justru mendapati mereka sedang salat di saf paling depan!" Abunawas mengusap janggut tipisnya, lalu memiringkan kepalanya sedikit. Di sampingnya, Majenun sedang menyipitkan mata menatap layar ponsel, mencari makna eksistensial dari sebuah komedi situasi yang baru saja lewat di beranda. "Aduuuh, Gusti..." Abunawas memecah keheningan dengan desahan yang sangat dramatis. "Ini komedi atau tragedi? Aku sampai bingung mau tertawa atau ikut sujud." Dia menunjuk layar ponsel dengan gerakan jari yang lentik dan anggun. "Coba perhatikan visualnya. Hitam putih yang syahdu, pencahayaan masjid yang begitu artistik, bayangan-bayangan jemaah yang bersujud pasrah. Estetikanya... chef’s kiss. "Astaga...