makhluk halus
Debu, hati, sudut yang temaram, di mana aroma kopi beradu dengan bau tanah setelah hujan, dia duduk termenung. Jemarinya yang lentik mengelus pinggiran cangkir porselen, seolah mencari kehangatan yang telah lama hilang dari jiwanya. Sosoknya adalah personifikasi dari sebuah melankolia yang indah namun mematikan. Syahdu yang mencekam. Dia adalah Hawa yang lahir dari puing-puing altar yang retak. Masa kecilnya bukanlah taman bermain, melainkan sebuah medan perang sunyi di mana kata-kata ayahnya menjadi mortir yang menghancurkan benteng pertahanannya. Juga tentang anomali cinta pertama jatuh hati kepada kutukan yang mengerikan. Sang bunda hanya mampu memeluknya dalam bisu, memberikan perlindungan yang rapuh di balik gorden-gorden rumah yang selalu tertutup rapat. Takut, khawatir dan gundah busana itu tumbuh bersamanya, menjalar seperti tanaman merambat yang mencekik pohon inangnya, meninggalkan bekas luka yang tak kasat mata namun terus berdenyut tiap kali petir menyambar di l...