Heii, Antek-antek Asing!!!
Di sebuah negeri yang selalu sibuk merayakan kedangkalan, di mana setiap krisis terasa seperti kiamat kecil yang dikemas dalam format tontonan berita pukul tujuh malam, hidup terasa seperti parade tanpa akhir, sebuah pertunjukan sirkus yang badut-badutnya telah lama kehilangan selera humornya. Kita, para penghuni paviliun ini, dididik dalam kurikulum ilusi: waktu adalah garis lurus, sebuah jalan tol membosankan yang menghubungkan masa lalu kelam, Zaman Batu, kerajaan-kerajaan besar yang kejayaannya hanya ada dalam buku sejarah yang ditulis ulang, dengan masa kini yang konon gemilang. "Majulah, majulah," pekik para ideolog, seolah-olah kemajuan itu sendiri adalah tujuan akhir, sebuah 'surga' di ujung jalan beraspal yang semakin panjang. Tapi, di balik aspal yang panas itu, di bawah fondasi 'pembangunan' yang rapuh, kita lupa bahwa nenek moyang kita melihat waktu bukan sebagai garis lurus yang angkuh, tapi sebagai daur, sebuah lingkaran yang tenang dan tak beruj...