dikutuk untuk abadi
Mati ternyata bukan liburan. Kita ini sering kali tergesa-gesa memadamkan lampu, padahal pertunjukan utamanya baru saja dimulai. Di atas tanah, kita sibuk menumpuk lelah seolah-olah kuburan adalah hotel bintang lima tempat tulang-belulang bisa selonjoran tanpa gangguan. Padahal, liang lahat cuma ruang tunggu, dan ruang tunggu itu punya dua petugas piket yang tidak bisa disogok pakai amplop atau koneksi kakek moyang. Lucunya, logika kita sering mendadak dungu kalau bicara soal akhirat. Kita mengira kematian adalah tombol power yang mematikan seluruh penderitaan. Padahal, begitu tanah ditimbun dan derap langkah pelayat pelan-pelan menjauh, suara ketukan pintu pertama justru berbunyi. Di situlah Munkar dan Nakir datang sambil membawa lembar soal. Ini bukan lagi simulasi atau latihan soal di bangku kelas, melainkan Ujian Nasional sesungguhnya. Gimana tidak kocak? Kita yang baru masuk ruang ujian malah mengira sudah boleh pulang dan ganti baju. Secara filosofis, manusia itu terjebak dalam...