residu dan aku
Dulu, sebelum paham peta batinku, jiwaku bekerja mirip bengkel restorasi. Setiap barang rongsok yang lewat langsung kuanggap sebagai benda antik yang wajib diselamatkan. Ketika ada yang datang membawa cerita retak, kusediakan semen dan cat perbaikan. Saat seseorang meniupkan debu kegagalan, mataku perih ikut menangis. Pun sewaktu ada yang menyeret bangkai impian yang membusuk, pintu garasi utama langsung kubuka lebar-lebar. Lambat laun, hakikat interaksi itu makin terang. Tidak semua yang datang membawa kerusakan berniat membenahinya. Sebagian hanya menjadikan diriku penampungan barang bekas, mencari sudut gelap untuk membuang beban, lalu pergi tanpa pernah berpikir untuk membersihkannya. Kini, arsitektur pikiranku telah berubah. Indra meraba, akal memilah, dan nurani menilai. Aku tak lagi memosisikan diri sebagai montir utama bagi setiap jiwa yang singgah. Terutama sewaktu mereka membongkar mesin masa lalu, memamerkan rakitan yang sengaja dibakar, lalu menuntutku menyalakan kembal...