Trnitas yang rabun
Di ruang kepala, nalar membangun menara kaca, memahat bayang-bayang tentang esok, yang tak kunjung membaca. Ia juru tulis yang lelah, menyulam rajutan kecemasan, sementara pilar-pilarnya retak oleh bisingnya angan. Di bawahnya, hasrat menjalar bak akar liar yang haus, menarik pusat gravitasi diri, ke dasar yang tanpa altar. Ia adalah kuda penantang angin yang menolak kekang, memaksa langkah berlari menuju tubir yang gersang. Dan hati, oh hati, hanyalah bentang tanah yang terbelah, menjadi medan tempur, tempat keduanya saling beradu arah. Ia banjir oleh emosi, kering oleh ambisi, terombang-ambing di antara dinginnya nalar dan panasnya aksi. Cukup..!! Mari padamkan tungku yang terlalu membara ini. Tidurkan liar nafsu, senyapkan bisingnya baris aksara diri. Kembali ke titik tiada, menetralkan arus yang kacau, agar yang tersisa hanyalah keheningan murni, tanpa silau. Bismillaaahi... Kalibrasi Ulang Kepala, Hati, dan Hasra...