Skip to main content

Posts

hatihati di jalan kurukshetra

menikah empat kali

​“Di hadapan cermin waktu, kita sering mengira akad telah menuntaskan segalanya. Padahal, ia baru saja mengetuk pintu gerbang pertama dari empat lapis samudra yang harus direnangi bersama.” ​Pernahkah kita merenungi kembali secangkir kopi yang mendingin di atas meja, tatkala asap rokok mengepul perlahan melukis udara malam? Ada keheningan yang teramat pekat di sana, menyisakan ruang bagi jiwa untuk menatap ulang perjalanan yang telah terpatri selama puluhan tahun. Dua puluh dua tahun membersamai seorang wanita, belahan jiwa yang kini menjadi rumah bagi penat dan pulang, bukanlah rentang waktu yang singkat. Ia adalah sebuah ziarah panjang, sebuah madrasah kehidupan yang mengajarkan bahwa ijab kabul hanyalah bait pembuka dari sebuah wirid panjang bernama rumah tangga. ​Orang sering kali tertipu oleh gemerlap pesta pernikahan. Mereka menyangka bahwa menyatukan dua insan dalam satu atap adalah puncak dari segalanya. Padahal, secara batiniah, pernikahan yang sejati tidak terjadi hanya sekal...

Latest posts

toga, kepala, ruang, rasa dan kosong

rindu kepada rindu

Heii, Antek-antek Asing!!!

reuni dalam pelayatan

persetubuhan guru dan murid

celana dalam malaikat

Januari-Juni pada Oktober

kopi sebatang diam

jatuh hati pada jarak

maaf, sekali lagi

No BRA Day

hulu sampah muara samudra