Skip to main content

Posts

hatihati di jalan kurukshetra

hulu sampah muara samudra

Di balik ketegaran yang kerap dipamerkan seorang laki-laki, berdiri sebuah takhta kesunyian yang amat dingin. Di tempat tertinggi yang ia perjuangkan, justru terpapar badai kesepian yang teramat sangar; tempat di mana ia merasa tak punya ruang untuk mengadu, tak punya hak untuk terlihat rapuh, dan tak punya jemari yang cukup hangat untuk membelai lukanya sendiri. Keputusasaan atas rasa sepi yang tak terbahaskan ini kerap menjelma menjadi kerapuhan yang salah arah, sebuah amarah yang meledak-ledak. Ketika hatinya luluh lantak oleh getir kehidupan, jeritan minta tolongnya justru mewujud sebagai makian, gertakan, dan benteng pertahanan yang membakar sekelilingnya. ​Namun, di balik kobaran amarah dan keangkuhan yang melukai itu, tersembunyi sebuah dorongan purba yang tak mampu ia ingkari: ia mencintai perempuan itu dengan segenap sisa jiwanya. Cinta yang dirasakannya bukanlah sekadar luapan gairah biasa, melainkan sebuah ikatan "cinta mati", sejenis ketundukan rohani dari jiwa ya...

Latest posts

lika liku laku luka laki-laki

salah mengeja

dikutuk untuk abadi

pahit yang manis

pantai tanpa garis

peluk malam kaum kusam

sendal jepit kiri

Wale, kum Salam

jeda spasi karsa-rasa

Dear, My Noble Adversary!

patologi lima perkara

residu dan aku