menikah empat kali
“Di hadapan cermin waktu, kita sering mengira akad telah menuntaskan segalanya. Padahal, ia baru saja mengetuk pintu gerbang pertama dari empat lapis samudra yang harus direnangi bersama.” Pernahkah kita merenungi kembali secangkir kopi yang mendingin di atas meja, tatkala asap rokok mengepul perlahan melukis udara malam? Ada keheningan yang teramat pekat di sana, menyisakan ruang bagi jiwa untuk menatap ulang perjalanan yang telah terpatri selama puluhan tahun. Dua puluh dua tahun membersamai seorang wanita, belahan jiwa yang kini menjadi rumah bagi penat dan pulang, bukanlah rentang waktu yang singkat. Ia adalah sebuah ziarah panjang, sebuah madrasah kehidupan yang mengajarkan bahwa ijab kabul hanyalah bait pembuka dari sebuah wirid panjang bernama rumah tangga. Orang sering kali tertipu oleh gemerlap pesta pernikahan. Mereka menyangka bahwa menyatukan dua insan dalam satu atap adalah puncak dari segalanya. Padahal, secara batiniah, pernikahan yang sejati tidak terjadi hanya sekal...