Kepala, kaki tangan
Sunyi di Puncak Senyap: Metafora Tubuh dan Beban Menjadi kaki tangan cukup dengan melangkah tepat atau mengulurkan satu bantuan untuk meraih sebuah apresiasi. Namun bagi sang kepala, meredam sepuluh gejolak sekaligus hanyalah batas ambang terendah, sebuah bare minimum. Di sanalah letak ketimpangan yang wajar: kaki tangan memiliki ruang tak terbatas untuk mengeluhkan kelelahan menapak, sementara kepala tak memiliki sejengkal pun ruang untuk meratapi organ yang dipimpinnya. Bahkan ketika ia berhadapan dengan kekhilafan yang berulang, keluhan dari kepala hanya akan dianggap bentuk ketidakmampuan memandu. Ia dituntut sempurna, di atas pilar ukur yang ukurannya tak pernah nyata. Realitas ini mengajarkan kita tentang paradoks cinta dan ingatan. Di puncak takhta, sang kepala akan terbiasa diingat hanya karena satu pusing yang membuat seluruh tubuh limbung. Satu kekhilafan sudah cukup untuk memadamkan ribuan jejak arah yang telah ditunjukkannya. Kaki tangan berhak menuntut haknya untuk beri...