wajah kompeni anak-cucu Ken Arok
Dalam koridor korporasi yang dingin, manusia sering kali hanyalah bayang-bayang yang berdansa di atas panggung ambisi, mengenakan topeng-topeng yang membiaskan cahaya kebenaran. Kita terjebak dalam teater absurditas, di mana keberhasilan sering kali hanyalah fatamorgana yang dibangun di atas fondasi keropos, dan kegagalan adalah hantu yang disembunyikan di balik tirai laporan tahunan. Di sini, di antara deru mesin fotokopi dan aroma kopi yang basi, terbentang spektrum jiwa-jiwa yang tersesat para aktor yang memerankan peran-peran tragis tanpa menyadari bahwa panggung tempat mereka berpijak sedang perlahan runtuh dimakan rayap ketidaktulusan. Logika hanyalah peluru hampa, di tangan mereka yang memuja gema, menanam mawar di atas bara, lalu bertanya mengapa tangan terbakar duka. Ia adalah arsitek menara pasir yang memandang setiap butir debu sebagai emas murni, seorang visioner yang buta akan angka namun fasih mengeja kata "ekspansi." Baginya, setiap pengeluaran ad...