Skip to main content

Posts

hatihati di jalan kurukshetra

lembar purba di senja baru

Duduklah sejenak, teman. Biar kutuangkan kopi yang barangkali kepulnya tak lagi kau kenali aromanya. Kau lihat ruang di antara kita sekarang? Ia tak lagi berisi udara, melainkan beton-beton bisu yang kau susun satu per satu setiap kali kau memilih untuk tidak bicara. Kau berubah menjadi sesuatu yang asing, sesuatu yang beku, seolah-olah kutub utara tiba-tiba pindah ke kursi di hadapanku ini. Aku tidak tahu apa yang sedang kau kunyah dalam kepalamu, tapi diammu itu adalah sebuah hukuman purba yang paling jahat, sebuah pengkhianatan ontologis terhadap esensi pertemanan kita. Jika kau punya belati, tusukkan saja di depan dadaku agar aku tahu di mana letak sakitnya. Ditelanjangi oleh kebenaran yang paling pahit sekalipun bagiku adalah sebuah kehormatan, ketimbang dibiarkan meraba-raba dalam kabut teka-teki yang kau ciptakan tanpa alasan yang jelas. Aku lebih berharap ketelanjanganmu, kita setubuhi satu sama lain tapi sehelai benang, meski itu harus menghancurkan kenyamanan, karena ternyata...

Latest posts

hujan yang di rindukan

jubah pion

Rezim ini, Siluet!!

wajah kompeni anak-cucu Ken Arok

(b)ayuku...

makhluk halus

membaca debu Kurukshetra

di puasakan jarak

bertopeng lidah

malam

Liturgi Hening

hilang...