puisi tak pernah puasa
duhai belahan jiwa...Bacalah puisi, Nak. Sebab dalam denyut takdir yang misterius, derita akan mengetuk pintu hatimu tanpa wajah yang kau kenal, tanpa nama yang tertulis, dan tanpa peta jalan untuk kau jelaskan pada dunia. Situasi saat ini menuntut ku menuliskan bait-bait ini, bukan sekadar merangkai kata, melainkan seperti seorang penyair yang sedang memahat prasasti untuk sebuah sejarah rasa yang sunyi. Aku ingin mengukir setiap luka purba kita menjadi nasehat yang hidup, menyuling kepedihan masa lalu menjadi kenangan yang teduh, dan mengubah perih yang pernah mencabik dada menjadi sebentuk keindahan baru yang bisa kaubagi, seperti air mata yang bertransformasi menjadi butiran embun bagi jiwa-jiwa yang dahaga. Saat duka itu datang, egomu mungkin akan menjerit, “Mengapa harus rasa sakit ini yang terpilih untukku, ya Rahman?” Dan ketahuilah, semesta akan berbisik lembut lewat angin malam, “Sebab dalam kepedihan yang runtuh itulah, engkau sedang berada di titik paling dekat denga...