Wangi Busuk Seiring Sejalan
Ada, sungging senyum di rekah yang tak merah, hanya melihat kalian tumbuh. Indah mendinginkan darah. Ada, diatas ranjang takdir yang jalang, cukup merayakan tiap hirup napas Tidak di lapis tertinggi, tapi terbang. Ada, yang merengkuh puncak kejayaan di balik cakrawala, ada pula yang dengan tabah, merajut ketahanan diri dalam sunyi. Lucunya, aku jujur tersenyum untuk itu. Menangmu? Aku ikut senang. Sederhana... sebab bagiku, triumph milikmu adalah ekstase yang merayap di bawah kulitku. Hanya tarian sunyi dari jiwa-jiwa yang saling meminjam waktu. Tapi ya... manusia memang suka aneh. Kalau langkahku adalah pedih matamu, dan dan begah bagi dadamu. ya sudah. Bersetanlah dengan itu. Tak perlu repot-repot menghapus rias wajahmu. karena wewangian bangkai, sudah menusuk sejak lama, dari jauh pula.. Bqhkan secara teori, mana ada kawan yang mati sesak melihat panggung kawan riuh tepuk tangan? Kita, bukan itu Kebetulan saja, sesama b...