Dahaga
Lampu meja yang temaram membingkai bayangan Senja yang gemetaran di atas lembaran kertas lusuh. Di hadapannya, fenomena degradasi jiwa manusia terhampar telanjang. Manusia yang telah dihinggapi dahaga akut, entah haus akan perhatian, validasi, uang, kasih sayang, atau kekuasaan, secara bertahap sedang menanggalkan akal sehatnya. Ketika rasa haus itu memuncak, fokus manusia tak lagi tertuju pada bungkus, cara, atau standar ideal. Segala batas kepatutan runtuh, sebab yang penting baginya hanyalah satu: kebutuhan itu terpenuhi, tak peduli dari cawan mana ia mereguknya. Di gurun jiwa yang terbakar dahaga, Standar moral runtuh tak tersisa. Tak lagi peduli bungkus dan cara, Asal dahaga terobati seketika. Racun pun disangka penawar rasa, Busur musuh dipeluk bagai saudara. Saat haus menguasai murni tatanan, Manusia menukar kehormatan demi pemenuhan. Keadaan terasing ini melahirkan absurditas yang tragis. Seseorang yang haus validasi akan menjadi begitu buta hingga rela menerima ...