patologi lima perkara
Selama hampir seperempat abad melangkah, berdiri, dan mengamati gelombang manusia dalam labirin industri, menyaksikan megah berdirinya entitas hingga meratapinya saat karam menjadi puing, aku sampai pada sebuah muara pemahaman bahwasanya keruntuhan sebuah persekutuan kerja jarang sekali disebabkan oleh kemiskinan akal atau ketiadaan intelegensi. Sejarah pertukangan manusia mencatat bahwa benteng-benteng megah sering kali dihuni oleh jiwa-jiwa paling cerdas di zamannya, namun rubuh bukan karena gempuran musuh dari luar, melainkan oleh korosi halus yang menggerogoti tiang penyangga secara senyap. Bagaikan penyakit kronis yang merayap tanpa rasa sakit, ia menipu mata dengan paras keharmonisan di permukaan, padahal di dalam organ vitalnya, kesakitan tengah menjalar menuju ajal. Sembilan puluh persen persekutuan yang tercerai-berai sejatinya tidak dibunuh oleh kerasnya zaman, melainkan oleh kemunculan lima patologi mematikan yang dibiarkan bertakhta. Dalam falsafah luhur leluhur Jawa, tempa...