Singgasana Takhta Sunyi
Dunia acap kali silau oleh suara yang bising. Kebanyakan jiwa, yang terlalu riuh oleh kekosongan mereka sendiri, sering kali terkecoh oleh keramaian. Mereka mengira kepak sayap yang bergemuruh adalah tanda kekuatan, dan kata-kata yang dilontarkan dengan lantang adalah takhta kehebatan yang harus ditakuti. Sebaliknya, jiwa yang memilih hening kerap dinilai dengan kacamata sempit: dikira jerih, penakut, atau tak bertaji. Betapa dangkalnya mata telanjang membaca kedalaman. Sebab di balik diam yang dianggap hampa itu, ada semesta yang sedang bekerja. Kepala mereka tidak sedang kosong; ia adalah ruangan maha luas tempat situasi dibaca dengan cermat, dan setiap gerak-gerik diperhatikan tanpa sedikit pun terlewat. Tatapan mereka yang tajam bukanlah sekadar gestur angkuh, melainkan cermin dari kepekaan murni, sebuah indra batin yang sanggup menguliti mana ketulusan yang sejati, dan mana topeng palsu yang dipoles rapi. Ketika jiwa yang tenang ini memilih mengalah, kebanyakan orang yang dibutaka...