Skip to main content

Posts

hatihati di jalan kurukshetra

Jalan Sembuh

​Di batas getir yang tak terucap, manusia kerap mengumandangkan tawa paling nyaring hanya untuk membungkam gemuruh di dada. Kita memilih tertawa bukan karena bahagia, melainkan agar retakan jiwa tak terdengar sebagai ratap di telinga dunia. Namun uniknya, ketika bahagia itu benar-benar datang menjelma gelombang cahaya, air mata justru menetes tanpa permisi, sebuah pengakuan purba bahwa hal paling indah sekalipun sanggup melukai dengan cara yang paling lembut. Begitulah kita, menenun tawa dan tangis dalam satu tarikan napas, menjadi kisah yang tak pernah utuh tanpa keduanya. ​Namun, mengunci rapi retakan di balik topeng tidak pernah benar-benar menghilangkan rasanya. Menimpa duka dengan pura-pura tangguh hanya membiarkan luka membusuk dalam diam. Padahal, siapa pun yang pernah berdarah hatinya, tanpa peduli seberapa dalam atau kelam duka yang dipikulnya, memiliki hak yang mutlak untuk sembuh. Tidak ada derita yang terlalu sepele untuk dipulihkan, dan tak ada jiwa yang ditakdirkan untuk ...

Latest posts

Wangi Busuk Seiring Sejalan

cieeee, aku kamu

Mengeja Takdir

Kalian Aku

puisi tak pernah puasa

puncak pencarian

Trnitas yang rabun

kaki tangan kepala, hati

SAPERE AUDE

Enam Enam Dua Enam

Seperti Yang Sudah-Sudah

risalah sunyi