Skip to main content

Posts

hatihati di jalan kurukshetra

hujan yang di rindukan

Seringkali hujan menyentuh bumi, namun kali ini semesta terasa selaras; derasnya diamini riuh jiwa-jiwa yang lelah, nyaris tanpa sengketa di ujung doa. ​rerumputan hutan merunduk khidmat, tanah tak perlu lagi menyaru legam, ia telah legawa memerah, menerima takdir dengan dada terbuka. ​satu makna pada setiap tetas yang jatuh: tak ada noda pada basah yang murni, sebab musim memang butuh ratap langit, agar benih-benih tak lenyap tersapu debu fana, hanya demi sebuah kata: tumbuh. ​namun, simpanlah satu mawas, akar akan membusuk dalam diamnya maut jika terus-menerus terjerat dalam genangan pekat. serupa jiwa-jiwa belia yang terkurung  di sudut-sudut ruang itu, di setiap petak yang kita sebut ladang harapan, mereka justru perlahan amnesia. ​ladang sawah seolah lupa,  jati diri mereka adalah hamparan lahan, tempat semai dan tuai bermuara, bukan kubangan bui yang memerangkap asa, di mana setiap orang adalah narapidana  tanpa nama tersangka... hujan ini, hujan yang di...

Latest posts

jubah pion

Rezim ini, Siluet!!

wajah kompeni anak-cucu Ken Arok

(b)ayuku...

makhluk halus

membaca debu Kurukshetra

di puasakan jarak

bertopeng lidah

malam

Liturgi Hening

hilang...

Srigala Melolong Rembulan