Liturgi Hening
akan ada masanya, sebuah tangis terkesan lebih etis, daripada senyum tawa yang dibuat-buat. jikalau air mata keluar, jangan kau tahan, biarkan saja ia meluncur tanpa beban, sebab itu hanyalah debu yang terendap lama di sudut-sudut jiwa yang terlupa. dan itu adalah hak manusia, ambil saja... lalu pergilah menyongsong pagi, anggap saja bayi tua itu telah terlahir kembali, dengan kulit yang baru namun ingatan yang purba. sebab sunyi tak selamanya berarti mati, ia hanyalah ruang tunggu bagi hati yang lelah memahat topeng-topeng pualam di bawah terik dunia yang semakin kelam. maka jangan kau ganti duka dengan megah jika batinmu masih ingin merebah, biarkan rintih itu menjadi satu-satunya mantra pengusir hantu-hantu kepura-puraan baka. lihatlah ke dalam cermin retak itu, tak ada lagi wajah yang harus kau jaga, karena kebenaran tak pernah butuh riasan. luka-luka itu sebenarnya adalah garis peta menuju wilayah yang tak pernah terjamah oleh mereka yang sibuk menenun tawa palsu. ...