Liturgi Hening
akan ada masanya,
sebuah tangis terkesan lebih etis,
daripada senyum tawa yang dibuat-buat.
jikalau air mata keluar, jangan kau tahan,
biarkan saja ia meluncur tanpa beban,
sebab itu hanyalah debu yang terendap lama
di sudut-sudut jiwa yang terlupa.
dan itu adalah hak manusia, ambil saja...
lalu pergilah menyongsong pagi,
anggap saja bayi tua itu telah terlahir kembali,
dengan kulit yang baru namun ingatan yang purba.
sebab sunyi tak selamanya berarti mati,
ia hanyalah ruang tunggu bagi hati
yang lelah memahat topeng-topeng pualam
di bawah terik dunia yang semakin kelam.
maka jangan kau ganti duka dengan megah
jika batinmu masih ingin merebah,
biarkan rintih itu menjadi satu-satunya mantra
pengusir hantu-hantu kepura-puraan baka.
lihatlah ke dalam cermin retak itu,
tak ada lagi wajah yang harus kau jaga,
karena kebenaran tak pernah butuh riasan.
luka-luka itu sebenarnya adalah garis peta
menuju wilayah yang tak pernah terjamah
oleh mereka yang sibuk menenun tawa palsu.
biarkan malam menjadi jubahmu,
dinginnya adalah peluk yang paling jujur,
melebihi hangatnya kata-kata hampa
yang seringkali hanya basa-basi belaka.
kau tidak sedang hancur melacur..
kau hanya sedang meluruhkan kulit lama
yang kini terlalu sempit untuk jiwamu tumbuh saja.
basuhlah wajahmu dengan sisa lara,
biar luntur segala daki sejarah yang meronta,
karena hanya di atas tanah yang basah
benih-benih jati diri akan mulai merekah.
di ujung napas yang paling sunyi,
temukan dirimu yang asli;
bukan sebagai korban dari waktu,
namun sebagai arsitek dari rasa pilu.
biarkan dunia tetap bising dengan sandiwara,
sementara kau...
diam-diam menjadi samudera,
yang menampung segala badai
tanpa perlu menjelaskan apa-apa kepada siapa-siapa.
makka berjanjilah pada jalan,
bukan sebagai orang asing di jasad sendiri,
tapi sebagai penguasa atas setiap luka yang abadi.
karena di balik gerbang air mata itu,
ada sebuah kerajaan hening,
di mana hanya mereka yang berani menangis
yang diizinkan untuk benar-benar mengerti...
apa artinya menjadi bebas.
anak manusia,
hanya melukis tentang dua hal,
di kanvas kosong yang terkoyak
yang satu melukis mahkota senyum
untuk berpura-pura baik-baik saja..
yang satunya lagi,
goresan gambar selimut kaca mata
di paksa binar untuk matanya yang berkaca...
dan aku..
adalah singgasana yang memeluk keduanya!!
jika engkau peka,
meski semesta kebanyakan buta.
Pomalaa, 20260220
duiCOsta_hatihati
Comments
Post a Comment