Srigala Melolong Rembulan

Di bawah pendar bias siang yang remang,
Moralitas diletakkan di atas rak paku,
berdebu dan usang.
Kita bukan lagi subjek yang mencari makna,
Hanya dua mamalia yang lupa cara pakai celana.

​Posisi ini sungguh filosofis, Sayang.
Aku menatap punggungmu, bukan matamu,
Karena menatap masa depan itu terlalu berat,
Lebih baik menatap belikat sembari berbuat maksiat.
Kata Nietzsche, "Tuhan telah mati,"
Mungkin Beliau hanya sedang tutup mata,
Tak tega melihat kita meniru gaya herder tetangga
Sambil menggonggongkan janji-janji hampa.

​"Barangsiapa yang melolong pada rembulan di tengah persetubuhan, sesungguhnya ia sedang melakukan orasi ilmiah tanpa audiens." duiCOsta_20260206

Ouuuwwwoooo!
Suaraku melengking, sok puitis seperti serigala,
Padahal aslinya cuma rintihan takut ketahuan semesta...
Aku melolong pada rembulan yang bulat dan pucat,
Mempertanyakan: apakah ini "Kehendak untuk Berkuasa"
Atau sekadar "Kehendak untuk tidak pakai kondom" yang celaka?

Filsafat materialisme dialektika sedang kita uji:
Apakah keringat ini karena cinta, atau suhu gudang yang tak terpuji?
Kontainer ini adalah gua Plato yang sesungguhnya,
Bayangan kita memanjang di dinding, bergoyang tak punya harga diri,
Meniru gaya herder penjaga gerbang yang setia,
Padahal kita hanyalah manusia yang sedang khilaf berjamaah.
Dan itu, sangat biasa...
Lumrah kata orang jawa.

​"Kita ini bebas!" teriakku sambil memegang pinggangmu,
Padahal kita cuma tawanan hormon yang sedang membelenggu.
Di atas palet kayu, di antara stok mur dan baut, 
juga APD jika ada...
Kita melolong lirih, 
takut ketahuan dan dipecat dengan maut.

​Catatan Lapangan: "Nikel mungkin bisa tahan karat, tapi janji setia di dalam kontainer gudang biasanya langsung korosi begitu pintu dibuka." _duiCOsta_20260206

Secara filosofis, ini adalah puncak pencapaian manusia:
Mengkombinasikan insting purba dengan manajemen logistik yang gila.
Satu sentakan untuk Schopenhauer yang pesimis,
Satu gonggongan untuk libido yang tak pernah habis.
Dinding kontainer berdentang, “Prang! Dung! Prang!”
Seolah alam semesta ikut bertepuk tangan, atau mungkin sedang meradang.

​Hingga tibalah saat klimaks yang agung itu...

​Di detik paling puitis, saat jiwaku nyaris menyatu dengan alam,
Dan lolongan serigalaku mencapai nada yang paling dalam,
Tiba-tiba pintu kontainer terbuka dengan suara ngiit yang nyaring.

Bukan malaikat maut, 
bukan pula Socrates yang datang berunding,
Tapi videografer misterius yang berteriak sambil membawa clipboard berdebu:

​"WOI! Dilarang beraktivitas tanpa helm dan rompi pelindung!"
​Seketika filsafat runtuh, libido menguap jadi uap air,
Kita terpaku dalam posisi anjing lelah menjurai lidah
dengan akting yang sangat tidak mahir.

Ternyata, 
musuh terbesar eksistensialisme bukanlah neraka,
Melainkan standar operasional prosedur yang merusak suasana.

​Kesimpulan Metafisika: "Cinta itu buta, tapi audit keselamatan kerja punya mata di mana-mana." _duiCOsta_20260206 

dan kali ini,
tajuk itu ku beri nama
Srigala melolong rembulan..
di sini, di ritme kerja yang terkutuk
juga di sempurnakan perilaku penguasa
yang tanpa tunduk...
terima kasih, kami belajar untuk selamat
dari kalian kebanyakan....

Pomalaa, 20260207
duiCOsta_hatihati 

Comments

Popular Posts