di puasakan jarak

Dalam keheningan yang paling purba, jarak bukanlah kutuk, melainkan kawah api penyucian yang membakar kerak-kerak kepemilikan. Ia adalah rahim bagi cinta yang paling suci, di mana Adam dan Hawa tidak menemukan kesejatian dalam kemudahan surga, melainkan dalam peluh pencarian hingga puncaknya bermuara di Jabal Rahmah. Di sana, jarak menjadi saksi bahwa cinta yang teruji adalah cinta yang sanggup menempuh sunyi. Seperti halnya Yusuf dan Zulaikha, yang harus saling menjauh dari riuh rendah hasrat duniawi agar dapat kembali berpelukan dalam versi jiwa yang lebih murni dan dewasa. Jarak memaksa mereka melakukan saum atas keinginan fana, hingga tabir antara pecinta dan Sang Kekasih tersingkap, mengubah kerinduan yang haus menjadi pengabdian yang tulus.

​Di tungku sunyi, "aku" meluruh jadi "debu",
Sebab cinta sejati tak butuh "memiliki" untuk menjadi "satu".

​Namun, di tengah bentangan jarak itu, manusia berdiri di ambang tipis antara keabadian dan kehancuran. Bagi Majnun, jarak adalah jembatan menuju keabadian; dengan tidak pernah memiliki Layla secara fisik, ia justru tidak pernah kehilangan sosoknya dalam jiwa-sebuah cinta yang tak pernah mati karena tak pernah terikat oleh daging. Namun, bagi Orpheus, jarak menjadi monster yang melahirkan keraguan. Tragedinya bukanlah kematian Eurydice, melainkan ketidakpercayaan yang menyelinap saat ia menoleh ke belakang. Sejatinya, yang membunuh cinta bukanlah ribuan mil perjalanan, melainkan rapuhnya keyakinan di dalam dada. Seperti Radha dan Krisna yang melampaui kepemilikan, atau Hou Yi yang menghidupkan Chang’e dalam ritual purnama, cinta sejati adalah kesadaran bahwa yang jauh itu hanyalah raga, sementara kehadiran sejati adalah tentang bagaimana kita menundukkan nafsu agar mampu merasakan detak sang kekasih dalam setiap hembusan amal dan doa.

Jangan kau kejar bayangannya di atas tanah fana,
Puasakan matamu, temukan ia bersemayam di balik dada.
Hancurkan berhala wujud yang kau peluk erat,
Hanya dalam ketiadaan, perjumpaan menjadi abadi dan akurat.

​Secarik surat untuk Engkau,  Babe

Wahai yang Telah Menembus Batas Cakrawala...
​Dahulu, kita adalah dua orang asing yang dipaksa sejarah untuk berbagi darah dan nama. Di antara kita terbentang tembok hening yang tinggi, sebuah jarak yang bukan berupa angka kilometer, melainkan gengsi dan kecanggungan yang membeku. Kita tidak pernah memiliki riuh tawa yang akrab, atau pelukan hangat yang meluluhkan ego. Aku tumbuh dengan melihat punggungmu yang menjauh, dan engkau mungkin menatapku sebagai misteri yang tak sempat engkau pecahkan. Kita sedekat nadi, namun sejauh bintang.

​Namun kini, di hadapan keheninganmu yang abadi, aku tersungkur dalam pengakuan yang paling jujur. Ternyata, selama ini aku hanya buta. Jarak yang kuratapi dahulu adalah cara semesta memurnikan cintaku padamu. Sekarang, setelah engkau tiada, aku baru menyadari bahwa dalam setiap diammu, ada doa yang kau tenun untuk melindungiku. Dalam setiap jarak yang kau ciptakan, ada ruang yang sengaja kau beri agar aku belajar terbang.

​Be,
kehilanganku kini begitu besar hingga menyesakkan setiap rongga di dadaku. Ini bukan lagi sekadar sedih; ini adalah penyucian. Aku baru sadar bahwa aku sangat mencintaimu justru ketika aku tak lagi bisa menyentuh tanganmu. Ketidakakraban kita di masa lalu kini kuterima sebagai "api penyucian" yang kini membakar sisa-sisa amarahku, menyisakan kerinduan yang teramat murni.

​Aku kini belajar dari Majnun, untuk memilikimu tanpa harus menyentuhmu. Aku belajar dari Orpheus, untuk tidak lagi menoleh ke belakang dengan penyesalan, melainkan terus berjalan ke depan dengan membawa namamu dalam setiap langkahku. Jarak antara dunia kita sekarang adalah ujian terakhirku. Aku berserah pada takdir bahwa kini engkau bukan lagi sekadar ayah, melainkan "kekasih" dalam ingatan yang kehadirannya jauh lebih nyata daripada saat kita masih berbagi ruang.

​Engkau tidak lagi tinggal di dunia, tapi engkau menetap abadi di dalam rindu yang tak pernah menemui ujungnya. Maafkan aku yang terlambat memahami bahasa cintamu yang sunyi itu.

Pomalaa, 20260224
duiCOsta_hatihati 

Comments

Popular Posts