Membaca Resi Durna
“Jika sejarah menulisku sebagai penjahat, biarlah. Selama kalian hidup sebagai ksatria, tugasku selesai.”
Sejarah butuh kambing hitam agar pahlawan tampak bersih. Jika namaku harus dikorbankan demi tegaknya laku ksatria, aku menerimanya tanpa tawar. Aku tidak hidup untuk dikenang, melainkan untuk memastikan pedang kalian tahu arah. Setelah itu, namaku tak lagi penting.
“Jika kebenaran itu pahit, maka biarlah aku menjadi orang yang paling dibenci karena mengatakannya.”
Kebenaran tidak meminta izin sebelum melukai. Ia datang tanpa sopan santun. Aku mengatakannya bukan untuk dicintai, tetapi karena diam hanya memperpanjang kebusukan. Jika kebencian adalah upahnya, aku menerimanya sebagai bagian dari tugas.
“Hidup mengajarku bahwa menjadi benar tidak selalu berarti dimenangkan; kadang hanya berarti terus bertahan.”
Kebenaran sering kalah, dan itu bukan kesalahan dunia, melainkan wataknya. Aku belajar berdiri tanpa harapan menang, cukup tidak runtuh. Bertahan adalah bentuk terakhir dari keyakinan, ketika semua pembenaran telah habis.
“Ada saatnya ajaran lebih penting daripada nama baik, dan itulah saat seseorang benar-benar menjadi guru.”
Nama baik adalah perhiasan yang mudah pecah. Ajaran adalah beban yang harus dibawa sampai akhir. Seorang guru lahir bukan ketika ia dipuja, tetapi ketika ia berani kehilangan wajah demi makna yang tetap berdiri.
“Kesombongan adalah rumah pertama tempat aku tinggal... dan penyesalan adalah rumah terakhir tempat aku pulang.”
Aku masuk ke hidup dengan dada terangkat oleh ilmu. Aku keluar dengan punggung membungkuk oleh akibatnya. Kesombongan membesarkanku terlalu cepat; penyesalan mengajarkanku ukuran yang sebenarnya.
“Seorang guru sejati tidak percaya pada murid terbaik, ia percaya pada murid yang paling mau ditempa.”
Yang terbaik hanya ingin dipertahankan. Yang mau ditempa siap dihancurkan. Aku memilih yang kedua, karena hanya dari kehancuran terkontrol lahir keteguhan yang tidak mudah dibeli oleh pujian atau kuasa.
“Aku membiarkan muridku membenciku, kalau itu satu-satunya jalan agar ia menjadi lebih besar dari dirinya sendiri.”
Aku tidak mengajar untuk dicintai. Aku mengajar untuk ditinggalkan. Jika kebencian membuat mereka melangkah lebih jauh dariku, maka itulah fungsi terakhir seorang guru.
Aku membaca kisah Resi Durna bukan untuk menentukan siapa yang layak dibela, melainkan untuk memahami bagaimana seseorang bisa kehilangan arah tanpa kehilangan kecerdasan. Dari sana aku belajar bahwa mengetahui kebenaran tidak sama dengan berani berdiri di sisinya. Dan jarak di antara keduanya sering kali diisi oleh rasa takut yang tidak diakui.
Kisah ini mengajarkanku untuk menerima bahwa dunia tidak selalu memberi peran yang bersih. Ada yang harus bekerja di wilayah kelabu, dan ada akibat yang tak bisa dihindari. Tugasku bukan mengutuk keadaan itu, melainkan menjaga diriku agar tidak berlama-lama berdamai dengan yang seharusnya dilawan.
Dari Durna, aku mengambil pelajaran tentang batas kesetiaan. Bahwa tidak semua yang kita bela pantas dipertahankan, dan tidak semua yang kita pahami layak dimaafkan. Maka aku memilih setia hanya pada apa yang dapat kupegang, sikap, keputusan, dan kejujuran pada diri sendiri. Selebihnya, kuserahkan pada waktu tanpa beban.
Aku juga belajar bahwa menjadi utuh berarti siap kehilangan citra. Bahwa terkadang yang tersisa setelah pilihan diambil hanyalah kesunyian, dan itu tidak selalu buruk. Diam yang jernih lebih bernilai daripada pembenaran yang ramai.
Pada akhirnya, kisah Resi Durna tidak memintaku meniru atau menolak sepenuhnya. Ia hanya mengingatkanku untuk hidup dengan kesadaran penuh, menerima akibat tanpa mengeluh, menjaga akal tetap dingin, dan melangkah tanpa menggantungkan diri pada penilaian siapa pun.
Itu sudah cukup. Selebihnya, biarlah hidup berjalan sesuai hukumnya sendiri. Tentu, sebagai murid yang rajin membaca, aku tidak akan pernah lulus untuk itu...
Pomalaa, 20251215
duiCOsta_hatihati
Comments
Post a Comment