malam tanpa nama
Malam turun tanpa suara,
seperti tangan purba yang menutup mata bumi,
menghapus nama-nama yang terlalu sombong untuk ditinggalkan hidup.
Aku berjalan di antara pinus beku,
dengan napas yang retak seperti kaca dingin,
dan hati yang menunggu jawaban yang ia sendiri tak sanggup rumuskan.
Di kejauhan, angin menggulung bau besi dan salju,
tanda bahwa para roh tua telah membuka kembali
buku takdir yang halaman-halamannya hilang dari ingatan manusia.
Di tepi danau yang membatu,
kulihat sosok berjubah kabut,
wajahnya kosong seperti awal waktu sebelum cahaya diberi nama.
Ia tak berbicara,
namun seluruh hutan menjawab panggilannya,
seakan tanah pun ingat siapa ia, dan aku satu-satunya yang lupa.
“Apa yang kau cari?”
tanyanya tanpa suara,
suara yang hanya dapat didengar oleh ketakutanku sendiri.
Aku menggenggam dingin sampai tulang mengeluh,
lalu berkata:
“Kebenaran yang tidak memihak.”
Sosok itu tersenyum,
senyum tipis yang membuat bulan bersembunyi di balik awan,
seakan malam sendiri gentar melihatnya terbentuk.
“Kebenaran?” katanya.
“Kebenaran adalah pisau!
Yang memegangnya atau yang jatuh di atasnya,
keduanya tetap berdarah.”
Dan seketika kabut terbelah,
menampakkan tiga gagak di atas batu hitam.
Mereka menatapku lebih dalam dari tatapan manusia mana pun.
Yang pertama berbisik,
“Takdir berjalan sebelum kakimu melangkah.”
Yang kedua menambah,
“Keberanian bukan api,
tetapi dingin yang kau izinkan masuk
tanpa menutup pintu.”
Yang ketiga menutup,
“Nama yang tak kau jaga
akan dijaga oleh angin,
dan angin tidak pernah menyimpan apa pun.”
Aku menunduk, menatap bayanganku di permukaan es,
bayangan itu lebih jujur daripada wajahku sendiri.
Debu dingin hitam mulai turun,
abu dari hari-hari yang gagal kulindungi,
dan aku mengerti betapa ringkihnya waktu Tuhan-tak-bertuan ini.
Lalu langit utara retak,
seolah para dewa menekuknya dengan tangan yang muak menunggu.
Dari celah itu, jalan laut terbuka,
gelombang memisahkan dirinya seperti daging yang menyerah pada pisau,
menunjukkan arah yang hanya bisa diikuti oleh orang yang siap kehilangan dirinya.
Aku melangkah ke sana,
bukan karena aku berani,
tetapi karena malam lebih jujur
daripada kesunyian di kepalaku.
Dan ketika badai menelan jalan pulang,
aku akhirnya mengerti,
yang paling menakutkan dari kegelapan
bukanlah apa yang disembunyikannya,
melainkan apa yang diterangkan olehnya.
Makassar, 2025123
duiCOsta_hatihati
Comments
Post a Comment