Ketika Kurawa Silau Olehmu, Teman..

Perjalanan ini bermula dari sebuah pengamatan jarak jauh terhadap sebuah entitas organisasi, di mana kita tidak hanya melihat struktur, tetapi juga potensi yang terbelenggu. Ada sebuah ironi yang tertangkap mata, sebuah wadah yang seharusnya dinamis justru stagnan, seolah-olah potensi besarnya sengaja dipasung oleh sebuah budaya kolektif yang mengidap neophobia, ketakutan akut terhadap segala sesuatu yang baru.

​Berangkat dari kegelisahan tersebut, seseorang hadir dengan membawa narasi gagasan baru sebagai bentuk tanggung jawab moral. Kehadiran gagasan ini bukanlah upaya untuk menginvasi, melainkan sebuah manifestasi harapan agar organisasi tersebut berhenti melakukan repetisi atas kesalahan yang sama secara terus-menerus. Namun, di sini letak paradoksnya, sering kali seseorang hanya menginginkan pertumbuhan kolektif, namun ia lupa bahwa pertumbuhan menuntut keberanian untuk meninggalkan zona nyaman, sebuah harga yang jarang sekali ingin dibayar oleh mereka yang sudah terlanjur mapan dalam kebiasaan.

​Realita kemudian menghantam dengan keras saat kita menyadari bahwa budaya lama memiliki akar yang jauh lebih dalam daripada logika. Argumen seilmiah apa pun sering kali layu di hadapan sentimen tradisi. Akibatnya, setiap ide yang dipresentasikan justru disambut dengan tatapan penuh kecurigaan. Alih-alih dipandang sebagai solusi yang mencerahkan, gagasan tersebut justru dipersepsikan sebagai serangan terhadap kemapanan emosional mereka. Dalam titik ini, kita belajar satu hal yang pahit, tidak semua upaya perbaikan akan disambut dengan tangan terbuka, karena terkadang, niat tulusmu justru dipetakan sebagai ancaman terhadap status quo.

​Ketegangan ini meningkat ketika tindakanmu dianggap sebagai upaya untuk menjatuhkan, padahal yang ingin kamu runtuhkan hanyalah tembok ego yang sudah terlalu lama berdiri angkuh menghalangi kemajuan. Sayangnya, bagi mereka yang identitasnya sudah menyatu dengan jabatan dan kebiasaan, ego adalah benteng terakhir yang tidak boleh diganggu gugat. Hal yang paling menyakitkan adalah ketika masukan konstruktifmu justru dikonstruksikan sebagai bentuk kesombongan. Tuduhan seperti "merasa paling benar" atau "paling bisa" dilemparkan sebagai mekanisme pertahanan diri mereka, padahal motif utamamu hanyalah upaya tulus agar keadaan tidak jatuh ke dalam kerusakan yang lebih dalam.

​Pada akhirnya, di tengah hiruk-pikuk penolakan itu, muncul sebuah kesadaran eksistensial bahwa niat baik tidak akan pernah terlihat baik di mata subjek yang belum siap untuk bertransformasi. Cahaya hanya akan menyilaukan bagi mereka yang lebih memilih kenyamanan di dalam kegelapan. Maka, pilihan terakhir yang paling bermartabat adalah memilih untuk diam. Diam di sini bukanlah bentuk apatisme atau hilangnya kepedulian, melainkan sebuah keletihan jiwa karena melihat niat suci terus-menerus dipelintir menjadi narasi negatif yang tak pernah kamu maksudkan.

​Pada akhirnya, kita sampai pada sebuah kebenaran universal yang getir, bahwa sebuah gagasan besar tidak pernah mati karena ia keliru secara logika, melainkan ia mati karena ia ditolak oleh hati yang belum memiliki kapasitas untuk menerima perubahan. Kebenaran sering kali kalah bukan oleh kesalahan, melainkan oleh ketidaksiapan mental penerimanya.


Temporary Camp, 20251222
duiCOsta_hatihati 
untukmu teman seperjalanan,
dan kepada Leading Hand-nya Leader

di dunia ini,
tidak ada yang benar-benar "benar"!

Comments

Popular Posts