Jakarta, ibu durhaka

Jakarta,
ia selalu datang sebagai ingatan yang tak pernah selesai.
Sebuah cerita yang abadi justru karena lupa tak pernah bisa kupaksa.
Ia menetap bukan di kepala, melainkan di dada
di ruang yang tak bisa diusir dengan logika...

Aku menyebutnya ibu,
bukan karena ia lembut,
melainkan karena darinyalah aku pertama kali belajar berjalan
lalu jatuh tanpa sempat dituntun.

Di rumah ibu kota itu,
aku merasakan bagaimana kasih bisa berubah wajah menjadi kekuasaan.
Bagaimana para jelata, termasuk aku
dipeluk dengan syarat,
diperhatikan sejauh berguna,
dan dilupakan begitu lelah tak lagi bertepi.

Setiap kali perjalananku harus singgah padanya,
aku tak berdaya.
Marah yang tak menemukan alamat,
suram yang tak tahu kapan pagi,
kelam yang menetes tanpa suara.

Sekali,
dan aku jera.

Aku bertahan hanya satu purnama.
Tiga puluh malam yang terasa seperti ujian eksistensi,
apakah aku manusia,
atau sekadar angka yang bisa diganti?
Namun begitulah paradoks ibu yang durhaka itu.
Ia melukaiku dengan cara paling sunyi,
namun tetap menjadi malaikat langkah awalku.
Ia mengusirku,
namun sekaligus memberiku kaki.
Dari Jakarta aku pergi,
melalang buana ke banyak tempat.
Puluhan, mungkin ratusan kota, besar, kecil,
bahkan pulau-pulau yang namanya tak sempat kukenal sepenuhnya.

Aku pergi membawa satu kata yang tak pernah kutulis,
namun selalu kubaca dalam diriku:
karya.
Buku tanpa tulisan itu lahir dari pengkhianatan,
dari rasa tak diterima,
dari keberanian untuk berkata:
aku tak betah, tapi aku bertumbuh.

Jakarta tak pernah benar-benar kuampuni,
namun juga tak pernah sepenuhnya kubenci.
Seperti ibu pada umumnya,
ia salah dengan caranya sendiri,
dan aku dewasa karena luka-lukanya.

Kini, setiap kali namanya disebut,
aku tak lagi gemetar.
Aku hanya tersenyum kecil,
senyum seseorang yang pernah patah,
senyum yang tak pernah sanggup,
menolak patuh..
namun memilih berjalan lebih jauh
alih-alih menetap dalam dendam.

Jakarta,
kau ibu yang gagal memeluk,
namun tanpamu
aku takkan pernah tahu ke mana kakiku ingin pergi.

Kala itu Jakarta,
pada umumnya katanya,
Anjing akan patuh pada tuan,
tuannya yang memberi makan
bahkan se-anjing apapun tuan itu sendiri.

Kala itu Jakarta,
apa kabar denganku?
yang patuh tanpa pernah kau sentuh...
yang tunduk sementara selalu berpuasa?
bahkan untuk kepatuhanku saat itu,
sampai kini belum ku beri nama...

Jakarta, 20251229
duiCOsta_hatihati 

Comments

Popular Posts