Pomalaa, belajar sunyi di tengah kebisingan

Nama yang kudengar sebagai gema, bukan panggilan keras, melainkan bisikan yang menetap. Sebuah titik di Sulawesi Tenggara yang terasa akrab bagi jiwa yang pernah terlalu lama hidup di tanah terbuka. Setelah Konawe Utara, Morowali, dan Bahodopi di tahun 2022, Pomalaa tidak datang sebagai kejutan, melainkan sebagai kelanjutan: fragmen perjalanan yang seolah menunggu untuk dilengkapi.

22 Juli 2024.
Aku masih berkarya di Gresik, mengawal proyek SMPEI, ketika Pomalaa mulai menjelma sebagai kemungkinan yang menggoda. Ia tampak seperti obat dari rindu lama, rindu bermain dengan tanah, jembatan, pad grading, sloping, culvert, dan fasilitas yang menuntut keberanian sekaligus ketelitian. Sebuah medan dinamis yang tak bisa didekati dengan semangat semata, melainkan strategi yang tepat agar kegagalan lama tidak menjalar dan berulang.
Aku tahu, pengalaman buruk tidak pernah benar-benar pergi.
Ia hanya menunggu kita lengah.

Kami datang.
Aku dan dia, seorang teman, guru, dan jika kata itu masih pantas dipakai hari ini, seorang sufi, socrates modern tanpa altar.
Kami tidak datang membawa janji kemenangan. Kami datang untuk melihat, mengamati, dan merumuskan. Kami bicara tentang rencana, konsep, dan harapan dengan nada yang tertata, seolah ketertiban pikiran bisa menjinakkan kenyataan.
Namun pada akhirnya, semua jalur analisis bermuara pada satu kesimpulan yang tak bisa ditawar, 
itu tidak cukup.

Dari sudut mana pun, suara akhirnya sama, pesimisme yang tidak berisik, tapi konsisten. Kapal ini berpotensi karam. Bukan karena satu badai besar, melainkan karena kendala yang datang seperti penyakit kronis, pelan, sistemik, dan menggerogoti dari dalam. Pergantian nahkoda, dengan awak kapal yang abadi... sampai pada satu hikmah apakah "kami di ajarkan barangkali suatu hari menahkodai?". Jika tidak atau bukan lalu untuk apa silang sengkarut ada di pemegang kendali yang bagi kami menjadi kendala?.
Kami bertahan bukan karena yakin selamat, melainkan karena pergi bukan pilihan, atau tanpa pilihan, hehhehhe...

Bagiku, tidak ada pintu keluar yang benar-benar terbuka, meski ingin sekali rasanya mengutuk dan mengetuk.
Maka aku menetap, sampai akhir, bahkan jika akhirnya untuk hancur, sebelum sembuh

Jum’at, 26 Desember 2025.
Dan hari ini aku sembuh meski cacat tak sepenuhnya pulih.
Dengan luka yang tidak sepenuhnya hilang, tapi cukup matang untuk diceritakan.
Sembuh, meski belum layak dirayakan. Karena kebebasan sejati tidak selalu datang bersama sorak sorai.
Perjalanan ini tidak lahir dari satu sebab.
Ia terbentuk dari persilangan kepentingan, budaya yang keras kepala, dan ketidaklaziman yang terus direproduksi, namun entah mengapa selalu dituntut untuk diselaraskan. Lagi dan lagi.

Bukan perjalanan tersulit yang pernah kutempuh, tapi salah satu yang paling rumit. Pasukannya besar, mungkin yang terbesar sepanjang perjalananku sejauh ini.
Aku bekerja bersama manusia-manusia dengan latar belakang hebat,
muda, kritis, idealis.
Di sisi lain, anak-anakku di rumah, tanpa sadar, turut mendidikku, mengajarkanku memahami watak manusia modern, cepat bersuara, cepat menilai, namun sering lupa mendengar... dan diluar itu semua, mereka memuja kejelasan, apapun alasannya. semua harus terteorikan..

Aku bersyukur.
Aku sembuh tanpa membawa dendam.
Jiwa-jiwa yang menganggapku musuh tidak kutolak, justru kurengkuh agar tubuh, jiwa, dan ruhku bertumbuh.
Stoikisme membisikkan pelajaran yang sederhana namun kejam
Kita tidak berkuasa atas arah angin, tapi bertanggung jawab penuh atas cara kita berdiri.

Pomalaa,
di luar segala dinamikanya,
adalah perjalanan yang sangat gado-gado.
Pedasnya tak beraturan.
Asinnya kelewat, seperti pemuda yang nyidam kawin.
Sering hambar karena terlalu banyak air.
Kadang manis kecap yang bahkan tenggorokanku sendiri enggan mengakuinya sebagai rasa yang akrab.

Namun di sanalah kejujurannya.
Ini bukan ujian seorang murid yang mengejar ijazah.
Tak ada lembar pengesahan, tak ada tanda tangan dosen, dekan, atau rektor.
Tak ada institusi yang berdiri sebagai validator.
Ini adalah perjalanan yang bising untuk menguji satu hal yang sunyi:
seberapa jauh hatimu sungguh ingin tenang.

Tidak semua yang selamat harus terlihat menang.
“Apa yang kau pertahankan selama ini?”
“Bukan proyeknya. Tapi diriku sendiri.”

Aku tidak pulang sebagai pemenang,
aku pulang sebagai seseorang
yang tidak melacurkan dirinya.

Jika suatu hari Pomalaa hanya menjadi satu bab dalam buku hidupku,
biarlah ia dibaca tanpa nostalgia berlebihan.
Tidak sebagai kisah heroik, tidak pula sebagai tragedi.
Cukup sebagai catatan bahwa
aku pernah berada di sini,
pernah hampir karam,
namun memilih selamat tanpa kehilangan diri.
tanpa menukar jiwa dengan kompromi murahan.
Aku tidak keluar sebagai orang baru.
Aku keluar sebagai diriku sendiri,
utuh, dingin, dan sadar.

Dan bagi sebagian orang,
itulah bentuk kemenangan yang paling sunyi.

Kendari, 20251227
duiCOsta_hatihati 

Comments

Popular Posts