cermin waktu
Aku menatapmu, Sang Diri yang Terasing, di cermin yang tak pernah berdusta.
Wajahmu untuk dunia hanyalah topeng. Beratnya lebih pekat dari malam yang menelan bintang.
Di balik tawa, di balik sorak, ada ruang sunyi yang menunggu agar kau mengaku: kau lelah.
Kau lelah berpura-pura. Kau lelah menyesuaikan diri. Kau lelah menjadi bayangan yang bukan milikmu.
“Kesetiaan pada diri lahir dari sunyi, bukan tepuk tangan yang dipinjam.”
Setiap hari, kau menyerahkan denyut nadi pada ekspektasi orang lain.
Matamu memantulkan pujian, bukan realitas.
Kau mengejar sukses yang ditentukan lidah asing,
dan dalam paradoks sunyi itu, kau menikmati rantai yang mengikat.
“Rantai yang kau pilih terasa manis, tapi menjerat tanpa suara.”
Di pesta, kau ikut tertawa, menumpuk perhatian, menyamarkan kekosongan dengan kelucuan yang dipaksakan.
Tapi saat pintu kamar menutup, sunyi menyapamu.
Pertanyaan muncul, lebih keras daripada riuh:
Apakah gemerlap itu menyalakan sedikit cahaya dalam dirimu?
“Hanya di kesunyian yang tak berdusta, kau menemukan yang tak bisa dicuri dunia.”
Kau duduk. Keheningan menembus setiap celah.
Bayanganmu bukan musuh; ia guru.
Keghaiban bukan kosong, tapi ruang menyimpan kemungkinan.
Peristiwa luar hanyalah peta; keputusanmu adalah kompas.
Aku menatap gelap
gelap tak menatapku kembali.
Hanya ruang menunggu,
hanya waktu setia.
Lambat tapi pasti, kau belajar membedakan yang bisa dikendalikan dan yang hanya pantas dilepaskan.
Kau berhenti mengejar tepuk tangan.
Kau menyalakan api kecil dalam dirimu sendiri—api yang tak bisa dipadamkan dunia, hanya oleh kejujuranmu.
“Tak ada suara di sini, hanya nyala yang menolak redup.
Aku hadir tanpa saksi, dan tak tergoyahkan.”
Malam menua. Kau menatap batas antara diri dan Semesta.
Dunia hanyalah bayangan. ‘Aku’ hanyalah percobaan.
Keberanian adalah hadir tanpa topeng.
Kebebasan adalah tetap berdiri meski dunia membisu.
“Tidak ada mahkota di sini, hanya langkah yang tahu arah sendiri.”
Kau melangkah lebih dalam, menyentuh luka yang lama kau hindari.
Setiap kehilangan adalah pintu.
Setiap rasa sakit adalah kunci.
Di sana, Semesta berbisik tanpa suara: kau tak pernah sendiri.
Setiap detik, kau menjadi pengamat sekaligus pencipta Cahaya Batinmu.
“Aku bukan milik dunia, aku ruang yang menolak padam.”
Fajar menyingkap langit, tapi tak ada sorak, tak ada tepuk tangan.
Hanya keheningan bersih, menusuk, penuh kemungkinan.
Kau berdiri. Pulang bukan ke rumah, bukan ke orang lain, tapi ke diri sendiri, penuh luka, sunyi, dan kebebasan.
Api itu menyala, kecil tapi tak tergoyahkan, berdenyut selaras dengan seluruh keberadaanmu.
Aku adalah nyala yang tak bisa dicuri,
aku sunyi yang tak bisa dibayar.
Aku hadir,
tanpa izin,
tanpa penyesalan.
Di inti yang tak terlihat, Semesta diam. Jiwa tak menghakimi.
Kau hanyalah diri yang hadir, memilih setiap detik untuk menjadi otentik, sunyi, dan merdeka.
Kebebasan sejati bukan hadiah, bukan sorak, bukan mahkota, tetapi keputusan yang kau ulang setiap detik, di ruang sunyi antara detak pertama dan pikiran pertama.
“Dalam sunyi aku menemukan diriku, dalam keghaiban aku bebas, dan dalam keheningan aku pulang.”
Kau berdiri di ambang tanpa tepi, menatap dunia dan bayangan dirimu.
Semua yang kau kejar selama ini, pengakuan, sorak, mahkota, hanyalah fatamorgana.
Yang tersisa adalah pilihan: tetap menahan topeng, atau membiarkan diri terbuka sepenuhnya pada keghaiban.
Kau memilih keghaiban. Kau memilih keheningan. Kau memilih Cahaya Batin.
Di inti yang tak terlihat,
aku pulang untuk selamanya,
dan tak ada yang bisa mengusikku.
Aku hadir.
Aku bebas.
Malam bertemu fajar, sunyi bertemu cahaya.
Tak ada dunia yang bisa menandingi keheningan yang penuh kuasa itu.
Kau berdiri utuh, tanpa sorak, tanpa pengakuan, tanpa takut.
Hanya Cahaya Batin. Nyala kecil. Tak tergoyahkan.
Dan kau, Sang Jiwa, telah pulang ke rumah paling sunyi, namun paling nyata: dirimu sendiri.
Dan mungkin, Aku
Mungkin, baru
mulai belajar,
merangkak
sebelum berjalan dan berlari..
Pomalaa, 20251115
duiCOsta_hatihati
Comments
Post a Comment