sebelum benderang gelap
Di atas rumput, para pikiran liar berbaring santai,
mengunyah kenangan seperti permen basi,
permainan masa kecil, rangkaian bunga yang sudah layu,
dan tawa yang terdengar seperti seseorang mencoba
menertawakan hidup yang tak mau ditertawakan.
Di lorong-lorong batin, wajah-wajah dilipat rapi
seperti kertas origami yang gagal menjadi burung.
Setiap hari ada saja kabar baru
tentang kebodohan yang merasa dirinya dewasa.
Kadang aku bertanya,
Apa bedanya kewarasan dan kebocoran bendungan?
Keduanya pecah tiba-tiba,
keduanya meninggalkan seseorang
yang mencoba berenang dalam dirinya sendiri
tanpa pelampung.
Dan entah kenapa,
kepalaku selalu kedatangan tamu,
seseorang yang bukan aku,
tapi sangat ingin mengatur ulang aku
seperti furnitur usang di ruang tamu kosmos.
Mereka bilang,
“Tenanglah, hidup cuma badai kecil di dalam telinga.”
Padahal aku tahu,
bahkan awan pun punya rasa humor
yang kadang melempar petir hanya untuk hiburan.
Namun jika suatu hari
dunia memainkan nada yang tidak kita sepakati,
dan hati tiba-tiba menari dengan irama yang tak dikenal,
temuilah aku di sudut gelap semesta,
tempat segala kegilaan terlihat wajar
dan kewarasan terdengar seperti lelucon murahan.
Di sana kita bisa tertawa,
atau pura-pura waras,
mana pun yang lebih konyol,
aku, kamu atau ketidak-warasan itu sendiri...
Pomalaa, 20251117
duiCOsta_hatihati
Comments
Post a Comment