amor fatiku cahaya

Ada masa dalam hidup ketika segalanya menjadi hening, bukan karena dunia berhenti berbicara, tetapi karena batin terlalu bising untuk mendengar. Pikiran berdesakan seperti ribuan tamu tak diundang, menuntut untuk diselesaikan, padahal tuan rumahnya sendiri sedang kehilangan arah.

kadang bukan dunia yang berisik, 
kitalah yang tak lagi pandai mendengarkan diam.

Di tengah kebuntuan itu, aku sering merasa ditinggalkan oleh sesuatu yang dulu begitu dekat: oleh cahaya, oleh makna, oleh rasa hadir yang dulu terasa utuh. Ada ruang kosong di dalam diri yang tak bisa diisi oleh apa pun, tidak oleh kata, tidak oleh orang, bahkan tidak oleh doa yang gugur di tengah jalan. Hingga akhirnya, diam menjadi satu-satunya bahasa yang tersisa.

Dan di dalam diam itu, aku teringat sebuah kisah lama: tentang seorang yang suci, yang pernah merasakan sepi yang bahkan para bijak pun tak sanggup menanggungnya. Ia, yang disebut kekasih dari Yang Tak Terlukiskan, sempat kehilangan suara langit. Lama ia menunggu, hingga keheningan menjadi ujian. Lalu turunlah wahyu yang dinamai Ad Dhuha, serupa fajar yang menyapa lembut setelah malam yang panjang:
“Tuhanmu tidak meninggalkanmu, dan tidak pula membencimu.”

mungkin sunyi bukan tanda ketiadaan, 
tapi cara langit menguji seberapa dalam kita mampu percaya.


Aku merenung lama pada makna itu. Betapa bahkan yang suci pun pernah merasa hilang arah; bagaimana mungkin aku tidak? Aku, yang rajin menciptakan dosa, yang jatuh dalam kelemahan yang sama berkali-kali, namun masih berharap disapa oleh kasih yang tak tampak. Mungkin yang membedakan bukan siapa yang bersih dan siapa yang kotor, tetapi siapa yang mau tetap menunggu cahaya, meski mata telah lelah menatap gelap.

Ad Dhuha bagiku bukan sekadar kisah masa lalu, tapi cermin bagi setiap jiwa yang sedang kehilangan arah. Ia berbisik lembut di balik setiap kegelisahan: bahwa kegelapan bukanlah akhir, dan kehilangan bukanlah penolakan. Cahaya tidak pernah benar-benar padam; ia hanya bersembunyi di balik kabut pikiran kita sendiri.

cahaya tidak hilang,
dia hanya menunggu hati cukup hening untuk menemuinya kembali.

Barangkali yang kita sebut kehilangan hanyalah cara semesta mengajarkan kita melihat dengan cara yang baru. Seperti malam yang menelan langit agar bintang bisa bicara. Seperti luka yang membuka jalan bagi pemahaman yang lebih dalam.

terkadang, yang terlihat seperti kehancuran hanyalah bentuk baru dari kelahiran.

Hidup, pada akhirnya, bergerak dalam siklus duha dan malam: antara terang dan gelap, antara kepastian dan ragu, antara doa yang dijawab dan doa yang dibiarkan menunggu. Fajar selalu datang, tapi hanya bagi mereka yang bertahan cukup lama untuk tidak pergi di tengah malam.

Kini aku mulai mengerti, kebuntuan bukan akhir, melainkan panggilan untuk berhenti sejenak dan mendengarkan arah yang lebih halus. Keterlambatan cahaya bukan hukuman, melainkan jeda agar pandangan kita tak silau ketika terang akhirnya datang.

seringkali, 
penantian adalah bentuk kasih yang paling tersembunyi.

Jika aku menoleh ke belakang, aku tahu: aku pernah diselamatkan dari masa lalu yang lebih kelam, dibimbing keluar dari labirin yang tampak mustahil. Maka, mengapa kini aku harus meragukan tangan yang sama?

Ad Dhuha bukan sekadar nama wahyu; ia adalah fajar kesadaran yang terbit di hati setiap jiwa yang sempat merasa ditinggalkan. Ia mengajarkan bahwa kasih tidak pernah pergi, hanya berubah bentuk.

Dan kini aku tahu,
meski baru sebatas tau,
cahaya itu tidak pernah benar-benar hilang.
Ia hanya menunggu aku belajar melihat dengan cara yang baru. Ia hanya menunggu hati ini cukup tenang
untuk melihatnya, kembali.

percayalah, itu saja.

Pomalaa, 20251107
duiCOsta_hatihati 

Comments

Popular Posts