Heii, Antek-antek Asing!!!
Di sebuah negeri yang selalu sibuk merayakan kedangkalan, di mana setiap krisis terasa seperti kiamat kecil yang dikemas dalam format tontonan berita pukul tujuh malam, hidup terasa seperti parade tanpa akhir, sebuah pertunjukan sirkus yang badut-badutnya telah lama kehilangan selera humornya. Kita, para penghuni paviliun ini, dididik dalam kurikulum ilusi: waktu adalah garis lurus, sebuah jalan tol membosankan yang menghubungkan masa lalu kelam, Zaman Batu, kerajaan-kerajaan besar yang kejayaannya hanya ada dalam buku sejarah yang ditulis ulang, dengan masa kini yang konon gemilang. "Majulah, majulah," pekik para ideolog, seolah-olah kemajuan itu sendiri adalah tujuan akhir, sebuah 'surga' di ujung jalan beraspal yang semakin panjang. Tapi, di balik aspal yang panas itu, di bawah fondasi 'pembangunan' yang rapuh, kita lupa bahwa nenek moyang kita melihat waktu bukan sebagai garis lurus yang angkuh, tapi sebagai daur, sebuah lingkaran yang tenang dan tak berujung. Bagi mereka, waktu berputar seperti spiral, bukan seperti kipas angin yang hanya muter di tempat, berulang dalam siklus yang sama, dari menanam hingga memanen, dari terbit hingga terbenam. Dan dalam keangkuhan modern kita, kita menganggap lingkaran itu sebagai masa lalu yang ketinggalan zaman, sementara kita sendiri terjebak dalam ketiadaan makna yang disajikan sebagai 'progres'.
Dan ketika kematian akhirnya datang, dalam bentuknya yang paling klise, paling diprediksi, paling 'rutin', seseorang 'meninggal dunia', sebuah frasa yang terdengar seperti pengumuman keberangkatan di stasiun kereta api, kita kembali ke frasa-frasa yang telah kehilangan kekuatannya. "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun," gumam orang Islam, "Dari-Nya, kembali kepada-Nya." Sementara orang Jawa, dengan sinisme yang lebih elegan, menyebutnya "sangkan paraning dumadi," asal-muasal kepulangan, bukan sebagai garis lurus yang berhenti di titik mati, tapi sebagai lingkaran yang akhirnya kembali ke titik awal. Ironinya, di negeri ini, kita lebih sering merayakan kepulangan daripada merayakan kedatangan. Dan kepulangan itu sendiri, seringkali, bukan ke pelukan Pencipta, tapi ke pelukan kelembaman, keheningan yang tak bertepi, ke ketiadaan yang kita takutkan namun kita pelihara. Kita, para penghuni negeri ini, adalah ahli dalam menciptakan upacara kepulangan, dalam meratapi kematian yang kita ciptakan sendiri melalui ketidakpedulian dan korupsi jiwa.
Sekarang, negeri ini sedang berada dalam masa 'malam'. Kegelapan bukan hanya menyelimuti langit, tapi juga merasuk ke dalam relung hati, ke dalam setiap kebijakan, ke dalam setiap keputusan yang diambil oleh para pemimpin yang, konon, kita pilih sendiri. "Malam," kata mereka yang lelah, yang putus asa, yang lebih suka tidur daripada berjuang, "ya sudah, tidur saja, nanti juga pagi." Sarkasme di sini, dingin dan mematikan, adalah bahwa bagi mereka, pagi hanyalah rutinitas, sebuah siklus biologis yang tak membutuhkan partisipasi mereka. Mereka yang berteriak "sudah malam!" bukanlah musuh fajar; mereka adalah penjaga malam, mereka yang masih terjaga ketika yang lain terlelap dalam ilusi bahwa kejahatan akan hilang dengan sendirinya ketika matahari terbit. Mereka adalah orang-orang 'eling lan waspada', seperti pesan Ronggowarsito di zaman edan, yang tahu bahwa malam adalah jam kerjanya maling, waktu tirakat, waktu benih tumbuh di dalam tanah sebelum satu daun pun kelihatan. Para pemimpin kita, dalam ketidakmampuan mereka, adalah orang-orang yang tidur dan menyuruh semua orang ikut tidur, mengklaim bahwa 'terang benderang kok' ketika kegelapan semakin pekat. Mereka adalah pencuri yang bekerja di siang hari, dengan senyum ramah dan kebijakan yang seolah-olah mulia, tapi malam ini, di 'malam' yang kita hadapi sekarang, mereka telah kehilangan penyamaran mereka.
Malam bukan akhir, melainkan awal. Ini adalah sebuah jeda yang kejam namun perlu, sebuah ruang untuk melihat ulang, merumuskan, dan menata kembali puing-puing peradaban yang telah kita runtuhkan. Peradaban, pada akhirnya, tidak memiliki waktu; ia cuma dapat giliran. Giliran kita, di negeri ini, sepertinya adalah untuk menjadi contoh bagaimana sebuah bangsa bisa runtuh bukan oleh serangan dari luar, tapi oleh pembusukan dari dalam, oleh kebusukan hati dan ketidakmampuan untuk bangun di gelap malam ini. Qum, fa-andhir! Bangunlah, sinau bareng lah, proteslah! Tapi jangan protes seperti badut di media sosial yang hanya mencari perhatian. Proteslah dengan ketajaman pikiran, dengan sinisme yang jernih, dengan kesadaran bahwa "liciknya hegemoni waktu linear ala modern Eropa atas waktu Daur tradisi Timur" telah membuat kita kehilangan jati diri, terjebak dalam kebetulan kosmik yang menyedihkan yang kita sebut 'Indonesia'. Dan kebetulan itu, malam ini, terasa seperti lelucon yang tak lucu lagi.
Malam dingin.
Toko tutup.
Suara sunyi.
Maling masuk.
Janji manis.
Utang menumpuk.
Tanah dijual.
Rakyat terpuruk.
Kalian tidur.
Kami terjaga.
Kalian sibuk.
Membeli surga.
Waktu berputar.
Bukan lurus.
Giliran tiba.
Kalian tergerus.
Tulisan ini lahir dari bilik-bilik gubuk kaum kusam, mewakili jeritan, keringat, dan kepedihan kaum kusam lainnya di penjuru negeri. Ini adalah perlawanan mutlak dan bentuk ketidaksetujuan kami terhadap rezim antek-antek asing yang tanpa malu, dengan lidah bercabang dan kepalsuan telanjang, justru berteriak: "Heiii, antek-antek asing!"
Pomalaa, 20261021
duiCOsta_hatihati
Comments
Post a Comment