maaf, sekali lagi
Maaf, Sekali Lagi
Di ambang pintu yang dingin dan membisu,
aku berdiri melipat retakan di telapak tangan.
Malam membungkus sisa-sisa
badai yang tadi meletup,
meninggalkan abu dari harga diri
yang kubakar sendiri
hanya agar ruangan ini tak selamanya gelap.
itu saja..
Aku hanyalah lelaki,
yang kerap memenjarakan diri di balik tebing batu,
membentang jarak,
memutus kawat,
dan memasang paras paling asing.
Namun di balik topeng besi,
yang kupakai untuk bertahan,
jemariku yang gemetar,
selalu meraba kegelapan,
memastikan engkau tak tersentuh dingin,
memastikan jantungmu tetap berdetak,
tenang di tempatmu berada.
Dari seribu pintu keluar,
yang membentang lebar untuk pergi,
aku selalu berputar arah,
melangkah mundur menuju titik yang sama.
Bukan karena aku tak merasa luka,
melainkan karena ruang kosong tanpamu,
jauh lebih mematikan,
daripada racun yang berulang kali kuminum
sendiri...
Maka kubawa kembali,
kepala yang tertunduk ini,
kumenelan seluruh ketajaman
yang sempat menyala,
dan kutaruh martabatku
tepat di bawah telapak kakimu.
Tanpa menunggu uluran tangan,
tanpa menuntut sebaris penebusan,
aku kembali melintasi jurang
yang kubuat sendiri.
Maaf, sekali lagi...
Bukan karena aku yang bersalah
atas sembilu yang tertancap,
melainkan karena aku tak pernah sanggup
membayangkan dunia
di mana aku hidup utuh,
namun berada di luar matamu.
maaf, sekali lagi....
Pomalaa, 20261014
duiCOsta_hatihati
Comments
Post a Comment