hulu sampah muara samudra
Di balik ketegaran yang kerap dipamerkan seorang laki-laki, berdiri sebuah takhta kesunyian yang amat dingin. Di tempat tertinggi yang ia perjuangkan, justru terpapar badai kesepian yang teramat sangar; tempat di mana ia merasa tak punya ruang untuk mengadu, tak punya hak untuk terlihat rapuh, dan tak punya jemari yang cukup hangat untuk membelai lukanya sendiri. Keputusasaan atas rasa sepi yang tak terbahaskan ini kerap menjelma menjadi kerapuhan yang salah arah, sebuah amarah yang meledak-ledak. Ketika hatinya luluh lantak oleh getir kehidupan, jeritan minta tolongnya justru mewujud sebagai makian, gertakan, dan benteng pertahanan yang membakar sekelilingnya.
Namun, di balik kobaran amarah dan keangkuhan yang melukai itu, tersembunyi sebuah dorongan purba yang tak mampu ia ingkari: ia mencintai perempuan itu dengan segenap sisa jiwanya. Cinta yang dirasakannya bukanlah sekadar luapan gairah biasa, melainkan sebuah ikatan "cinta mati", sejenis ketundukan rohani dari jiwa yang sekarat kepada satu-satunya mata air penyembuh. Ia membakar segalanya dengan amarah, tetapi pada saat yang sama, ia bertekuk lutut di hadapan bayang-bayang perempuan itu, menyadari betul bahwa tanpa kehadiran sosok tersebut, jiwanya hanyalah puing-puing yang berhamburan di tepian kehampaan.
Di seberang ketegangan itu, berdirilah sang perempuan dengan segala kesederhanaannya. Di mata dunia yang dangkal, ia mungkin tampak lugu, polos, bahkan kerap dicap bodoh karena terus bertahan dan tersenyum di tengah hantaman badai amarah. Namun, keluguan itu bukanlah bentuk kelemahan, melainkan kepasrahan agung dari jiwa yang telah melampaui ego. Ia tidak membalas api dengan api, tidak pula meladeni keangkuhan dengan perdebatan. Dalam kediamannya yang tulus, tersimpan pemahaman mendalam yang tak terjangkau oleh logika umum: ia melihat rasa sakit yang tersembunyi jauh di balik topeng amarah sang laki-laki.
Perempuan itu adalah samudra luas yang tiada bertepi. Hatinya adalah kedalaman yang mampu menampung segala jenis jeritan, duka, dan kegetiran kehidupan yang mengalir dari pelbagai hulu penderitaan sang laki-laki. Setiap bentakan, luka, dan keputusasaan yang diluapkan kepadanya diterima tanpa prasangka, lalu diendapkan perlahan di dasar lubuk hatinya yang teduh. Ia menyerap pahitnya racun amarah dan mengubahnya menjadi ketenangan air asin yang luas, menjadi tempat terakhir di mana segala gelisah yang meluap-luap akhirnya menemukan muara untuk menjadi hening.
Dua jiwa ini terkunci dalam sebuah tarian eksistensial yang tragis sekaligus agung. Sang laki-laki, dalam kesepian dan ketidakberdayaannya, terus memuntahkan duri-duri amarah sebagai pelampiasan atas duka yang tak sanggup ia tanggung sendiri. Sementara sang perempuan, dengan ketulusan yang melampaui Nalar, membentangkan jiwanya sebagai pelabuhan. Pertemuan mereka adalah pertemuan antara badai yang mengamuk dan lautan yang melapangkan dada; sebuah drama kemanusiaan di mana kelemahan ekstrem yang menyamar sebagai amarah bertemu dengan kekuatan mahaluas yang menyamar sebagai kepolosan.
Pada akhirnya, di batas antara kehancuran dan keabadian, cinta mereka menjelma menjadi pengorbanan filosofis yang sunyi. Perempuan itu tidak sekadar bertahan, melainkan menyediakan muara bagi jiwa yang tersesat untuk pulang. Di dalam samudra kasihnya, amarah sang laki-laki meluruh, ketakutannya menguap, dan kesepian yang membakarnya perlahan tenggelam dalam kedamaian. Dalam pelukan samudra yang tak pernah menolak hulu mana pun itu, sang laki-laki akhirnya menemukan bahwa puncak dari segala pengembaraan dan amarahnya hanyalah sebuah kerinduan untuk berlutut dan dicintai dalam keheningan.
Muara dan Badai Sunyi
Di puncak singgasana yang dingin dan sepi,
seorang lelaki berlutut,
menggenggam belati amarahnya sendiri.
Ia membakar dunia,
karena takut pada gema jiwanya yang rapuh,
namun di hadapanmu,
ia adalah duka yang memohon sembuh.
Engkau datang dengan murni,
yang tak terjamah zaman,
dibaca bodoh oleh dunia yang patuh pada hitungan.
Namun hatimu adalah samudra,
melintasi batas dan benua,
menampung seribu hulu duka,
membuka diri menjadi muara.
Biarlah amarahnya pecah
bagai gelombang menghantam karang,
di dalam kedalaman jiwamu,
segala racun meluruh dan tenang.
Sebab ia mencintaimu
dengan keputusasaan yang paling abadi:
sebuah jiwa yang membakar sekelilingnya,
hanya untuk berlutut
di muaramu yang tak pernah mati...
Pomalaa, 20261010
duiCOsta_hatihati
Comments
Post a Comment