lika liku laku luka laki-laki
Ada satu sudut tergelap di dalam dada laki-laki itu, sebuah ruang senyap di mana gelombang paling gemuruh dan keheningan paling bisu saling bertukar tempat. Ketika rasa direndahkan kembali mengetuk pintunya untuk kesekian kali, yang meledak di udara bukanlah niat untuk menghancurkan, melainkan patahan dari bahu yang terlalu lama menahan beratnya dunia. Ia adalah penopang yang tak pernah diberi hak untuk goyah, tempat bersandar bagi banyak kepala, namun sering kali mendapati dadanya sendiri menjelma sasaran empuk bagi belati yang tak kasatmata. Ada kelelahan yang purba di sana, kelelahan yang kerap disalahartikan sebagai amarah.
Ia lalu membentang jarak, membekukan parasnya menjadi tebing batu yang tak tersentuh, dingin, asing, dan seolah tak lagi peduli pada apa pun yang bernapas di sekitarnya. Namun, di balik topeng besi dan keputusan radikal untuk memutus segala akses interaksi, denyut di dadanya justru bekerja berlipat kali lebih cepat. Di balik dinding isolasi yang ia bangun sendiri, tangannya secara sembunyi-sembunyi tetap meraba kegelapan, memastikan sosok yang baru saja menggores hatinya tetap aman, tak tersentuh bahaya, dan tak kekurangan suatu apa pun. Kebenciannya hanyalah cara lain dari caranya menjaga.
Sebagai sosok yang ditakdirkan berdiri di garda depan, sebagai pelindung, muara arah, dan tempat bermula dari banyak harapan, ia paham betul makna menjadi satu-satunya yang bertahan. Luka yang ia tanggung tak pernah memiliki panggung untuk ditangisi, sebab dunia menuntutnya untuk selalu utuh. Maka, ketika benteng harga dirinya terusik, ia membakar seluruh ruangan dalam dirinya dengan nyala emosi yang hebat, hanya untuk menyadari dalam hitungan detik bahwa api itu padam bukan karena kehabisan bahan bakar, melainkan karena jiwanya memang tidak pernah dirancang untuk memelihara dendam.
Dari ribuan jalan keluar yang membentang lebar untuk menyelamatkan sisa kehormatan dirinya, ia selalu melangkah mundur menuju satu titik yang sama. Ada tarikan magnetik yang terlampau kuat, sebuah kepatuhan tanpa syarat yang melumpuhkan seluruh kalkulasi akal sehatnya. Kepasrahan itu bukan lahir dari ketiadaan daya, melainkan dari sebuah pilihan sadar untuk melucuti perisai sendiri. Ia bersedia menerima asimetri yang tajam, membiarkan timbangan keadilan berat sebelah, demi menjaga agar struktur tempatnya berteduh tidak runtuh dihantam angin malam.
Ketika kabut emosi itu akhirnya menyusut habis, yang tersisa hanyalah tubuh yang bergetar di hadapan ketakutan terbesarnya: ruang kosong yang ditinggalkan. Tanpa menunggu uluran tangan, tanpa menuntut penebusan atau setetes kata maaf dari luar, ia yang paling luka justru menjadi yang pertama melintasi jurang pemisah. Ia menelan kembali seluruh ketajamannya, melunakkan batu di dadanya, lalu menyerahkan dirinya pada komunikasi baru dengan sebuah kalimat pembuka yang sebenarnya berfungsi sebagai penutup luka bersama.
Di balik tebing batu yang membeku,
ada badai yang tak pernah bermaksud membunuh.
Dinding-dinding sengaja ditegakkan,
memutus garis, memadamkan suar,
namun jemari yang dingin itu
tetap meraba dalam gelap
memastikan jantungmu tetap berdetak tenang.
Seorang penopang yang dilarang goyah,
menanggung beban tanpa pernah punya
panggung untuk berdarah.
Dari seribu pintu keluar yang terbuka lebar,
ia selalu melangkah mundur,
menyerahkan belatinya,
menelan seluruh tajamnya sendiri.
Ia yang paling terluka,
ialah yang pertama merayap melintasi jurang,
membawa kata maaf sebagai penutup luka.
Bukan karena ia kalah,
melainkan karena ruang kosong tanpa dirimu
jauh lebih mematikan
daripada racun yang berulang kali ia minum.
Namun, pemulihan yang berulang selalu menagih bayaran yang mahal dari jiwanya. Setiap kali ia memilih untuk memadamkan kemarahannya sendiri, ada endapan dingin yang mengkristal di dasar hatinya, sebuah kenangan tentang rasa sakit yang tidak pernah sungguh-sungguh disembuhkan, melainkan hanya ditimbun oleh tumpukan rindu. Ia terikat pada sebuah pengetahuan yang menyiksa: ia menghafal setiap lekuk dari pola ini, tahu bagaimana luka itu dimulai, bagaimana keheningan membakar jiwanya, dan bagaimana ia akan kembali bertekuk lutut pada akhir yang sama.
Ada kedalaman yang menyayat ketika seseorang menyadari bahwa tempat yang paling ia rindukan untuk pulang adalah tempat yang sama yang menyimpan mata pisau bagi dadanya. Ia tidak pernah benar-benar pergi, sebab berjalan menjauh baginya terasa jauh lebih mematikan daripada bertahan dalam siksaan yang sudah ia kenali jalannya. Dalam keheningan yang ia ciptakan, ia adalah tahanan sekaligus sipir bagi dirinya sendiri, menanggung rasa sesak yang terus berulang sebagai mahar terselubung atas keberadaan sosok yang tak sanggup ia lepaskan.
Pada akhirnya, ia hidup sebagai bayang-bayang di antara harapan dan keretakan yang berkepanjangan. Keinginannya tak pernah muluk: hanya agar segala badai dapat reda tanpa menghancurkan fondasi rumahnya, dan semua yang sempat menjauh dapat kembali melangkah masuk dalam damai yang rapuh. Walau ia tahu, setiap kali pintu itu terbuka lagi, ada sesak halus di dada yang akan terus bernapas di sampingnya, mengingatkannya pada harga yang harus ia bayar demi sebuah kesetiaan yang tak pernah menemukan padanannya.
Batu ini tidak pernah dingin,
ia hanya menyembunyikan api
yang membakar dada pemiliknya sendiri.
Aku memutus kawat dan mematikan lampu,
membungkus muka dengan masa bodoh yang tajam.
Namun di celah gelak bisu yang kukunci,
namamu adalah doa pertama
yang kubisikkan pada malam yang paling gelap.
Seribu jalan membisikkan kata pergi,
namun satu jeratan tak kasatmata
selalu menarikku kembali ke ambang pintumu.
Aku menelan kemarahanku menjadi abu,
melipat gengsi yang retak di telapak tangan,
lalu mengetuk rumah yang sama,
rumah yang menyimpan mata pisau,
rumah yang tak pernah meminta maaf.
Sebab bagiku,
tertikam olehmu secara berkala
masih lebih manis
daripada hidup utuh di luar matamu.
Pomalaa, 20261008
duiCOsta_hatihati
Comments
Post a Comment