dikutuk untuk abadi
Mati ternyata bukan liburan. Kita ini sering kali tergesa-gesa memadamkan lampu, padahal pertunjukan utamanya baru saja dimulai. Di atas tanah, kita sibuk menumpuk lelah seolah-olah kuburan adalah hotel bintang lima tempat tulang-belulang bisa selonjoran tanpa gangguan. Padahal, liang lahat cuma ruang tunggu, dan ruang tunggu itu punya dua petugas piket yang tidak bisa disogok pakai amplop atau koneksi kakek moyang.
Lucunya, logika kita sering mendadak dungu kalau bicara soal akhirat. Kita mengira kematian adalah tombol power yang mematikan seluruh penderitaan. Padahal, begitu tanah ditimbun dan derap langkah pelayat pelan-pelan menjauh, suara ketukan pintu pertama justru berbunyi. Di situlah Munkar dan Nakir datang sambil membawa lembar soal. Ini bukan lagi simulasi atau latihan soal di bangku kelas, melainkan Ujian Nasional sesungguhnya. Gimana tidak kocak? Kita yang baru masuk ruang ujian malah mengira sudah boleh pulang dan ganti baju.
Secara filosofis, manusia itu terjebak dalam keabadian yang tak bisa ditawar. Kita tidak pernah minta dilahirkan, tapi begitu ada, kita "dikutuk" untuk tidak bisa benar-benar tiada. Eksistensi kita tidak punya tombol delete, cuma ada tombol shift. Mau lari ke mana? Ke dalam tanah? Tanah pun cuma transit. Mau hancur jadi debu? Debu itu pun kelak dipanggil pulang untuk menyusun kembali ingatan, daging, dan dosa-dosanya. Suka tidak suka, kita ini makhluk abadi yang kepaten gagah, merasa bisa pensiun padahal masa kerja baru saja berganti sif.
Dan di sinilah puncaknya humor yang menyentil ikhtiar panik kita sehari-hari.
Bayangkan hari ini kamu jalan-jalan di pemakaman, lalu ada satu nisan terangkat dan satu mayat keluar pelan-pelan dari dalam tanah. Kamu pasti bakal menjerit setinggi langit, lari terbirit-birit sampai sandal putus, lalu sibuk memanggil orang pintar. Kamu takut setengah mati pada "hantu" yang keluar dari liang lahat.
Tapi coba renungkan baik-baik: besok, ketika terompet Sangkakala ditiup dan bumi membongkar isi perutnya, kamu juga bakal keluar dari dalam tanah dengan cara yang persis sama.
Lantas, kenapa kamu tidak takut pada dirimu sendiri? Mengapa kamu melupakan fakta bahwa hantu yang paling menakutkan, yang kelak merangkak keluar dari kegelapan tanah sambil membawa seluruh rekam jejak kelakuannya di dunia, tak lain dan tak bukan adalah dirimu sendiri?
Di bawah liang tanah yang belum dingin,
kami bersiap tidur siang,
membayangkan penderitaan bumi telah usai,
lalu pintu kubur diketuk Munkar dan Nakir.
Dua malaikat menatap heran,
"Lho, ini baru bel masuk ujian,
kenapa rombongan ini malah gelar tikar?"
Kami lupa,
abadi adalah kutukan yang membahagiakan.
Mati hanya cara pindah jam kalong,
suka tidak suka, eksistensi tak punya tombol padam.
Lucunya,
kalau sekarang ada bangkai bangkit, kami menjerit histeris.
Tapi besok saat trompet ditiup dan tanah pecah,
kami melangkah keluar sambil senyum-senyum,
sebab hantu yang bikin takut itu,
ternyata diri sendiri.
Pomalaa, 20261003
duiCOsta_hatihati
Comments
Post a Comment