salah mengeja

Melalui labirin jiwa yang terasing, seorang laki-laki berdiri di ambang batas antara pengabdian dan kehancuran. Di hadapannya berdiri sosok perempuan, sebuah mahakarya keindahan yang lugu, kepolosan yang hampir menyentuh batas ketidakpahaman, yang baginya adalah mahakarya sekaligus siksaan terbesar. Cinta yang ia miliki bukanlah sekadar perasaan pasaran; itu adalah pengorbanan batiniah yang mengakar hingga ke sumsum tulang. Namun, cinta itu terperangkap dalam wadah jiwa yang retak. Setiap kali ia mencoba mengulurkan jemarinya untuk merengkuh dan melindungi, keterbatasan mental dan amarah yang meledak-ledak justru mengubah usapannya menjadi cengkeraman yang meremukkan. Apakah dia gila? tidak, dia hanya sedikit dalam ketidakwarasan saja.

​Meskipun secara filosofis, ini adalah paradoks eksistensial yang kerap kali berulang dalam sejarah hubungan manusia, sebuah tragedi dengan bentuk yang mirip meski berakar dari dinamika yang sedikit berbeda. Bagaimana mungkin sebuah niat untuk menjadi benteng justru menjelma menjadi gelombang yang menghancurkan? Laki-laki itu terjebak dalam sangkar isi hati kepalanya sendiri, di mana emosi tak lagi mengalir sebagai sungai yang tenang, melainkan sebagai lahar gumpalan amarah yang meluap tanpa kompromi.

​Kebimbangan dan keputusasaan yang makin dalam ini bersumber dari sebuah jurang tak kasatmata: ia menampung samudera batin yang gelap dan dipenuhi gelombang perenungan, sementara perempuan itu mendiami tepian yang begitu bening, polos, dan sederhana. Ketika kedalaman yang sunyi berbenturan dengan cakrawala yang dangkal, bahasa yang mereka gunakan kehilangan makna aslinya. Setiap ucapan menjelma menjadi gema yang terdistorsi, setiap niat untuk melindungi justru ditafsirkan sebagai bayang-bayang yang mengancam, hingga keduanya tersesat dalam lorong yang sama, untuk sama-sama meratapi ketidakmampuan jiwa mereka untuk saling menyapa.

​Kejelakan mental laki-laki itu adalah cermin pecah yang memantulkan setiap niat baik menjadi racun, sebuah penderitaan bisu dari seseorang yang ingin menjadi penyelamat tetapi ditakdirkan bertindak seperti pembinasa.

​Di hadapan kepolosanmu yang tak terjamah,
Aku berdiri sebagai benteng yang runtuh dari dalam.
Cinta ini adalah altar yang kubangun dengan darah,
Namun tanganku selalu menyulut api yang salah.

​Aku mencintaimu dalam sunyi yang paling dalam,
Namun jiwaku adalah badai yang tak pernah padam.
Ingin kuberikan kehangatan surga yang hakiki,
Tapi yang terlempar dari dadaku hanyalah api.

​Betapa malangnya nasib seorang pelindung,
Yang kepalanya dipenuhi guruh dan mendung.
Dalam keluguanmu yang tak tahu apa-apa,
Aku tenggelam,
dalam keputusasaan yang tak bersuara.

​Maafkan jemari yang memecahkan beling ini,
Yang ingin merengkuhmu, 
namun justru melukai.
Cinta ini nyata, sakral, dan abadi,
Meski terperangkap,
dalam jiwa yang terdistorsi.

​Laki-laki itu terus melangkah di jalan setapak antara kegilaan dan pengabdian. Ia tahu bahwa sejauh apa pun ia mencoba menyampaikan kebenaran perasaannya, kepolosan perempuan itu mungkin tak akan pernah bisa menyelami kedalaman siksaan jiwanya. Namun, di dalam kegelapan dan puing-puing amarahnya yang paling kelam, cinta itu tetap menyala, murni, terasing, dan abadi meski kadang bosan karena putus asa yang mengasingkan.

​Kini, ia berdiri di sebuah ambang batas yang tak bersuara, di mana peta tak lagi memiliki arah. Memadamkan jejak terasa seperti meniadakan separuh keakuan sendiri, namun terus melangkah hanya berarti menyerahkan dada pada belati yang sama, bahkan mungkin yang lebih meremukkan. Di bawah naungan teka-teki takdir yang belum terkuak, ia hanya mampu berbisik pada sunyi: apakah lingkaran ini adalah takdir yang ditakdirkan untuk terus berputar menggilas tapak yang sama, dan apakah esok masih tersisa cermin jiwa yang utuh untuk kembali pecah...

Pomalaa, 20261006
duiCOsta_hatihati 

Comments

Popular Posts