jatuh hati pada jarak
Sejak zaman purba, ketika manusia pertama mendongak menatap langit, hingga zaman di mana teknologi mencapai puncaknya, bahkan hingga saat manusia modern mulai jenuh dengan segala kemudahan lalu memilih kembali pada kesederhanaan peradaban masa lalu, ada satu hal yang abadi mengiringi sepanjang lintasan waktu. Paradigma setiap generasi tidak pernah berubah: mata dan hati manusia selalu memandang bulan itu indah, persis seilusi falsafah "rumput tetangga terlihat lebih hijau", atau yang dalam keheningan mistisme Kejawen dirawat secara sufistik sebagai sawang sinawang. Kita terus menerus terjebak dalam ilusi pandangan, mengagumi apa yang tak terjangkau, sembari meragukan bumi yang sedang kita pijak. "Apakah aku sungguh mencintai apa yang kulihat, ataukah aku hanya terpesona oleh jarak yang membentang di antaranya?" bisik batinku saat menatap pijar pucat di cakrawala malam.
Sebenarnya, kamu tidak pernah benar-benar jatuh cinta pada bulan; kamu hanya jatuh cinta pada jaraknya. Dari atas permukaan bumi ini, bulan tampak begitu mulus, bercahaya, dan memancarkan ketenangan yang tak tersentuh. Namun tak seorang pun ingin mengingat betapa sunyi, gersang, dan berdebunya permukaan itu saat disingkap dari dekat. "Mengapa mata ini selalu mudah tertipu oleh siluet yang terpantul dari kejauhan?" tanyaku pada pendar remang yang hinggap di jendela kamar. Jarak bekerja sebagai tirai misteri, menyembunyikan retakan dan menyisakan bayangan perak yang seolah tanpa cela.
Lantas, apa saja yang sebenarnya kerap kita pandang indah dari kejauhan? Kita menatap kilatan kehidupan orang lain di etalase media sosial, mendambakan posisi atau pekerjaan impian yang belum pernah kita jalani bercucuran keringat, mengagumi sosok yang tampak sempurna hanya karena kita belum benar-benar mengenalnya, hingga memeluk kenangan masa lalu yang terasa jauh lebih indah dari wujud aslinya. "Berapa banyak ilusi yang telah kubangun dalam benakku sendiri hanya untuk melarikan diri dari kenyataan hari ini?" desah hati ini, menyadari betapa ringkihnya persangkaan manusia yang kerap terpikat oleh bayangan fatamorgana.
Tanpa kita sadari, jarak adalah seorang editor yang maha handal. Ia secara lihai memotong bagian-bagian yang berantakan, menyunting kepedihan, dan hanya menyisakan sorotan terbaik untuk dipamerkan. Dari jauh kamu hanya dipaksa melihat hasil akhir yang memukau, namun dari dekat barulah kamu disuguhi hamparan proses, rasa lelah, kesepian, dan retaknya fondasi yang menyangganya. "Mengapa aku begitu mudah memuja mahakarya orang lain tanpa pernah sudi menyaksikan kejatuhan dan luka di balik pembuatannya?" tanyaku pada sunyi yang kian membesar.
Maka, yang paling berbahaya sesungguhnya bukanlah jarak itu sendiri, melainkan keputusan-keputusan konyol yang kamu ambil karena terpedaya olehnya. Kamu mulai membandingkan hidupmu yang penuh sorotan jarak dekat (close-up) dengan panggung pertunjukan orang lain (highlight reel), nekat meninggalkan apa yang nyata dan hangat demi mengejar bayangan asing yang belum teruji, lalu mengira bahwa rasa kecewa adalah tanda salah memilih, padahal kekecewaan itu hanyalah bukti sah bahwa kamu akhirnya sudah cukup dekat untuk melihat wujud aslinya. "Apakah aku harus terus meratapi hilangnya pesona, ataukah ini saatnya aku belajar menerima kenyataan tanpa topeng?" renungku dalam kepasrahan yang mendalam.
Ada tiga langkah berani yang mestinya kau ambil dalam menanggapi ilusi jarak ini. Pertama, bertanyalah pada dirimu sebelum iri atau terpukau: "Apa yang tidak kulihat dari keindahan ini?" Kedua, dekatilah segala sesuatu dengan kesadaran penuh; jika kamu menginginkan sesuatu, cari tahu dulu sisi tidak indahnya dan tetaplah memilihnya dengan mata terbuka lebar. Ketiga, tataplah kembali apa yang sudah ada di dekatmu hari ini, pasanganmu, pekerjaanmu, dan rumahmu pernah menjadi "bulan" yang dulu sangat kamu dambakan. "Apa yang dahulu membuatku begitu terpesona hingga aku rela berjuang untuk sampai di titik ini?" bisikku lembut, memanggil kembali ingatan yang terabaikan.
Pada akhirnya, cinta dan kesadaran yang dewasa adalah keberanian untuk mencintai bulan bersama seluruh krater dan bopeng di permukaannya. Ia dicintai bukan karena ia sempurna tanpa cacat, melainkan karena kamu telah melihat seluruh keburukan, kedalaman jurang, serta kesunyiannya, namun hatimu tetap mantap untuk bertahan dan memilihnya. "Kini aku paham," bisikku pada diri sendiri di bawah naungan malam, "keindahan sejati tidak terletak pada jarak yang menipu, melainkan pada ketulusan untuk memeluk kenyataan yang telah telanjang."
Bukan bulan.
Tapi jaraknya.
Bukan rumputnya
Tapi kepemilikannya..
Bisa jadi jatuh hati
pada jarak dan apa saja
yang tak dimiliki.
Kau sibuk memuja.
Dari jauh.
Tanpa tahu gersangnya.
Jarak itu pembohong yang rapi.
Memangkas retak.
Menyisa kilau.
Lalu kau silau.
Membandingkan milikmu.
Dengan bayangan asing.
Konyol.
Mencintai itu sederhana.
Tatap dari dekat.
Terima kraternya.
Atau pergi.
Jangan banyak bicara!!
Pomalaa, 20261014
duiCOsta_hatihati
Comments
Post a Comment