Januari-Juni pada Oktober

Katanya, kataku.
Lahir di bulan Januari adalah takdir untuk menjadi arsitek ketenangan di tengah hembusan badai; sebuah benteng tempat banyak jiwa berteduh, meski fondasinya kerap diguncang oleh sunyi yang teramat legam. Sebagai laki-laki yang dilahirkan pada ambang awal tahun, ada kedukaan yang teramat sublim dalam cara kami memandang dunia. Kami terjangkit kecanduan yang janggal namun mendalam: kecanduan untuk mengendalikan segalanya, memikul setiap poros kekacauan agar tak runtuh menimpa mereka yang kami cintai, sembari membiarkan diri kami hancur secara rahasia di balik mantel ketangguhan yang tampak dingin. Friedrich Nietzsche pernah bersuara bahwa barangsiapa yang bertempur melawan monster harus berhati-hati agar tak menjadi monster itu sendiri, dan bagi laki-laki Januari, bertempur melawan kerentanan diri adalah peperangan saban hari. Bagi dunia luar, kami tampak kokoh tanpa celah, sebuah poros tak tergoyahkan. Padahal, meminta bantuan adalah bahaya laten yang kami takuti, seolah memperlihatkan retak pada pilar adalah dosa yang akan meruntuhkan seluruh tempat bernaung. 

​Namun di balik obsesi untuk tak pernah terlihat lemah, ada jeritan sunyi yang hanya berani berbisik pada kegelapan malam. Laki-laki Januari tidak merindukan tahta atau tepuk tangan riuh; ia mendambakan sebuah jeda, sebuah pelukan hangat saat jiwanya terpuruk di balik batas ketahanan terakhirnya. Kami mendambakan seseorang yang hadir bukan untuk meminta keteguhan, melainkan untuk meyakinkan bahwa tidak apa-apa jika sejenak berhenti berjalan, bahwa merawat diri sendiri bukanlah sebuah bentuk kekalahan atau pengkhianatan terhadap tugas kehidupan. Keindahan yang langka dan mencengangkan dari laki-laki Januari terletak pada keheningannya yang penuh daya. Ia menyerahkan seluruh pundaknya sebagai sandaran bagi kemanusiaan, namun di kedalaman batinnya, ia hanyalah jiwa yang rindu dirawat, rindu melepas perisai tanpa takut dihancurkan oleh penghakiman.  

​Lalu, di seberang musim yang melingkar, takdir mempertemukannya dengan seorang perempuan yang lahir pada buaian hangat Juni. Perempuan ini adalah simfoni dari kelembutan yang adaptif, sosok yang memiliki kecanduan alami untuk menjadi segalanya bagi orang-orang di sekitarnya. Ia adalah pembaca suasana yang ulung, yang melipat dirinya sedemikian rupa agar selaras dengan setiap ruang dan luka yang ditemuinya. Dalam riak keberadaannya, ia kerap membiarkan wajah aslinya tersamarkan di balik topeng kesempurnaan demi memastikan orang lain merasa nyaman dan dibutuhkan. Mengutip wawasan psikologi kedalaman Albert Camus, manusia sering kali menghabiskan hidupnya untuk membangun topeng demi kedamaian luar, dan perempuan Juni rela mengorbankan fragmen terhebat dari jiwanya demi meredakan ketegangan, demi memastikan tak ada murka yang mencoreng ruang yang ia jaga.  

​Akan tetapi, di balik obsestinya untuk meredakan setiap canggu dan membahagiakan semua jiwa, perempuan Juni menyimpan kerinduan yang teramat puitis. Ia tidak ingin selamanya dipuja karena topeng pelindung yang ia pakai; ia mendambakan seseorang yang benar-benar mampu menembus tirai itu dan melihat intisari dirinya yang utuh. Ia rindu dipilih dan dicintai bukan karena kepiawaiannya menyenangkan dunia atau usahanya yang tanpa henti untuk membuktikan nilai diri, melainkan karena keaslian jiwanya saat berada dalam sunyi. Ia adalah manifestasi dari harmoni yang rapuh, sebuah muara yang mendambakan kedamaian sejati, di mana ia tak perlu lagi menjadi pemadam bagi kemarahan orang lain atau mengorbankan kebutuhannya sendiri hanya agar tetap diinginkan.  

​Ketika kedua jiwa ini bertemu, terciptalah sebuah perpaduan paradoksial yang teramat anggun, sebuah metafora pertemuannya bumi yang keras membatu dengan angin hangat yang menyembuhkan. Laki-laki Januari yang terbiasa memikul beban sendirian akhirnya menemukan tempat berlabuh pada mata perempuan Juni, satu-satunya sosok yang tidak meminta keteguhan palsu darinya. Sebaliknya, perempuan Juni yang terbiasa meleburkan identitasnya demi orang lain, mendapati bahwa laki-laki Januari tidak menuntutnya bertopeng; ia melihatnya secara utuh, mencintainya tanpa perlu pembuktian apa pun. Di antara ketegasan dingin Januari dan kelembutan hangat Juni, terbangun sebuah romantisme filsuf yang tajam: dua jiwa yang sama-sama terbiasa berkorban untuk dunia, kini saling menyembuhkan dalam ruang tak bertopeng, menjadikan kelemahan masing-masing sebagai simfoni terindah dari kedaulatan cinta mereka.  

Ia memikul gunung dalam diam,
ia melipat diri dalam senyam.  

​Januari menyimpan retak,
Juni membalas dengan pelak.  

​Tak ada topeng di ruang ini,
hanya dua sunyi yang mengerti.  

​Batu karang dilebur angin,
hangat melepas mantel dingin.  

​Bukan tentang siapa pemenang,
tapi di mana jiwa pulang.  

​Satu takdir.
Dua getir.
Pulih.  

Inilah remah dari perjalanan waktuku: Januari yang mempersunting Juni tanpa sepetik bunga, tanpa sedikit pun ragu; dipandu setengah nekat yang buta, diiringi kepulan asap sebatang rokok dan sebuah nama yang hanya disapa “bukan siapa-siapa”. Lebih dari tiga dasawarsa aku memerhati, sejak tatapan pertama itu aku telah jatuh hati, abadi sekurang-kurangnya hingga detik ini. Bahtera ini kami rakit dua puluh dua tahun lalu, dan goresan ini sejatinya bukan dibuat untuk memperingati sebuah penanda, melainkan sebuah perayaan sunyi tanpa rencana, sebab Januari butuh mengisi ruang yang sedang bertemu jeda sebelum pulang kepada Juni. Mengalir begitu saja untuk mencoba menuang cerita pada kanvas ingatan yang tersisa di bulan kesepuluh, Oktober ini. Ini bukan lagi soal Januari, Juni, atau bulan-bulan lain yang datang dan pergi menunaikan kodratnya. Ini tentang aku dan tentangnya: perempuan kedua yang hadir sebagai cinta pertamaku setelah ibu, yang senantiasa kusemogakan menjadi keabadian yang terakhir.

​Pada titik ini, sejauh apa pun engkau melangkah, perempuanku, aku tahu engkau selalu melangitkan seluruh urusanku di balik heningmu. Terima kasih bijaksana. Sungguh tidak mudah bagimu memeluk Januari yang sendiri di bulan-bulan lainnya, menoleransi dingin yang sesekali merayap tanpa permisi.

​Maka kali ini, biarlah kububuhkan prasasti tanpa batu: izinkan aku tenggelam dalam samudramu jika keindahan hanya sebatas pantai yang kau tinggalkan; dan biarkan kukapung hujan yang menemanimu menyamarkan air mata, tanpa perlu lagi kita mempertanyakan dari mana datangnya mendung atau siapa yang memanggil petir.

​Sebab pada akhirnya, ketika waktu selesai menghitung angka dan ingatan mulai kehilangan bentuknya, aku tidak ingin diingat sebagai pemenang atas apa pun. Cukuplah jika nanti nafas ini habis, namaku tertinggal di kedalaman matamu, sebagai satu-satunya asing yang pernah kau biarkan pulang, lalu lenyap dengan tenang.

Pomalaa, 20261017
duiCOsta_hatihati 

Comments

Popular Posts