kopi sebatang diam
Kepada kopi yang terlanjur pekat,
aku berhenti meminta pemanis.
Aku cuma menyimpan
ampas janji yang mengendap di dasar cangkir,
seteguk harapan yang menyisakan getir,
dan sisa-sisa waras yang kian terkikis.
Kalau memang pahit ini
adalah caramu merapikan benang kusut di kepalaku,
jujur saja. Takikamu terlalu perih.
Aku tak butuh petuah tentang penerimaan.
Aku cuma butuh jeda
untuk memastikan aku sedang dituntun,
bukan dibiarkan tersesat.
Kepada asap rokok yang terlanjur membuat pedih mata,
aku berhenti berpura-pura buta.
Aku cuma merawat
dada yang sarat sesak,
pundak yang kehabisan tempat bersandar,
dan sisa-sisa sabar yang mengepul jadi abu.
Kalau memang perih yang membakar ini
adalah caramu menguji daya tahanku,
jujur saja. Skenariomu terlalu kelam.
Aku tak butuh teologi tentang ketenangan.
Aku cuma butuh tanda
kalau aku sedang didengar,
bukan sekadar dipaksa bertahan.
Kepada samudra yang terlanjur diam,
aku berhenti mengharapkan kehangatan.
Aku cuma menyeret
langkah yang kelelahan dihantam gelombang,
sekeranjang rasa percaya yang hampir karam,
dan sisa-sisa riak yang kehilangan arah.
Kalau memang kedalaman tanpa tepi ini
adalah caramu mengajariku ketenangan, jujur saja.
Heningmu terlalu dingin.
Aku tak butuh khotbah soal keikhlasan.
Aku cuma butuh kepastian
kalau aku sedang dipeluk,
bukan sengaja ditenggelamkan.
Kepada kopi, halimun serintil, dan samudra,
aku tidak lagi menuntut jawaban dari megahnya riak atau riuhnya dunia.
Aku cukup menerima hadirmu apa adanya,
belajar lapang dada menangkap setiap sapa yang tak terucap,
sebagaimana ada asap, ampas, dan diam.
Pomalaa, 20261016
duiCOsta_hatihati
Comments
Post a Comment