celana dalam malaikat

Setiap kali keputusasaan mengetuk pintu hidupku dan rasanya ingin menyerah, aku selalu menunduk menatap sehelai kain legendaris ini. Celana dalam yang telah bersamaku hampir lima tahun, sebuah benteng pertahanan yang babak belur dihantam badai keringat, dentuman kentut tak terduga, dan kerasnya sang waktu.
  
​Warnanya tak lagi sejelas masa jayanya. Karet lingkar pinggangnya sudah melar pasrah, dan benang-benang jahitannya mulai terurai satu per satu. Bahkan di sudut bawah, cobaan hidup telah membuat kainnya sobek cukup lebar hingga sang “burung” mulai berani mengintip keluar mencari udara segar.
  
​Namun, lihatlah! Apakah kain itu memutuskan untuk hancur dan lepas? Tidak. Kain itu tetap bertahan membungkus sisa-sisa harga diriku dengan setia. Ia menolak untuk pensiun sebelum tugasnya benar-benar selesai.
  
​Jika selembar celana dalam yang sobek dan compang-camping saja masih menolak untuk menyerah pada takdir, lalu atas alasan apa aku, seorang lelaki yang diciptakan untuk bertarung, harus bertekuk lutut? Selama masih ada benang yang tersisa, aku akan terus melangkah. Tetap bertahan, tetap berjuang!
​Di balik celana jins yang gagah,
Ada pertempuran sunyi yang tak pernah terucap.
Sehelai kain usang berusia lima tahun,
Bertahan di tengah gempuran zaman 
dan hembusan angin.
  
​Jahitannya merintih, warnanya kusam memudar,
Karetnya menyerah pada gravitasi.
Hingga sebuah robekan hadir,
Membiarkan sang "burung" menampakkan paruknya, mengintip dunia luar.
  
​Namun di sanalah letak keagungannya.
Ia tak pernah minta diganti,
Ia tak pernah berniat berhenti.
Meski robek, meski diterpa keringat dingin 
dan keputusasaan,
Ia tetap berada di posisinya: melindungi.
  
​Begitulah aku.
Biar hidup merobek-robek impianku,
Biar nasib membuatku tampak konyol dan babak belur,
Aku tak akan pernah menyerah.
Karena lelaki tidak diukur dari seberapa baru pakaiannya,
Tapi dari seberapa tangguh ia bertahan 
saat semuanya mulai hancur!

Tapi ini bukan tentang celana dalam.
​Ini tentang aku, tentangmu, dan tentang mereka yang berada di medan Kurukshetra yang sama. Sebuah medan laga tempat kita bertaruh keringat, air mata, dan rasa lelah demi sebuah impian. Meski jiwa kita terancam koyak dan takdir terus memukuli kita tanpa ampun, kita menolak untuk menyerah. Kita adalah para petarung yang akan terus berdiri tegak hingga garis akhir!

​Sebagaimana aku menasihati diriku sendiri, sebagai seorang lelaki yang pada akhirnya kelak pasti berdiri sendiri.
​Dengarlah baik-baik: terlahir sebagai laki-laki bukanlah sebuah kutukan, melainkan sebuah derita indah yang dipilih untuk kita peluk dengan penuh rasa kasih sayang. Tidak ada tempat untuk merengek, tidak ada waktu untuk mengeluh. Jangan manja!! Untuk kalian semua yang sudah terlanjur lahir sebagai laki-laki!!

​Dunia tidak akan pernah merawat rasa lelahmu, maka usap air matamu, perbaiki posisi celana dalammu yang sobek itu, dan kembali bertarung!

Bila semua perempuan dianugerahi telapak kaki sebagai surga bagi anak-anaknya, bukankah setiap laki-laki boleh sedikit saja berbangga ketika punggungnya diciptakan untuk menanggung semua neraka?

Pomalaa, 20261016
duiCOsta_hatihati 

Comments

Popular Posts