persetubuhan guru dan murid

Tersebutlah sebuah riwayat tentang perjalanan suluk seorang musafir batin yang menembus dimensi keheningan, di mana raga yang satu itu merumahkan dua jiwa sekaligus: sang guru yang arif menuntun dan sang murid yang senantiasa haus akan hakikat, berlayar melintasi fatamorgana semesta menuju padang sabana yang jauh. Di sepanjang penjelajahan lintas dimensi raga tersebut, mata batin mereka disapa oleh ribuan rahasia keindahan lahiriah: keunikan rupa yang bergaris-garis, ketenangan sosok gajah yang serupa para zahid penuh wibawa, hingga keanggunan jerapah yang menengadah penuh kerinduan ke ufuk langit. Namun, di tengah keterpesonaan pada bentuk-bentuk fana itu, bahtera perjalanan mereka mendadak terhenti di tengah keheningan yang mencekat.  

​Lalu bertanyalah sang murid di dalam relung diri yang sama dengan keraguan yang menyelimuti dada, "Gerangan apakah yang membuat langkah kita terhenti di persimpangan sunyi ini? Adakah rahasia dimensi lain yang sedang tertenun?" Maka sang guru yang bertahta di dalam diri menyahut dengan pandangan menembus tirai gaib, menunjuk ke arah gumpalan debu di kejauhan seraya berbisik puitis, "Arahkanlah penglihatan batinmu ke hadapan sana." Ketika mereka menyapukan pandangan, tampaklah seekor kijang berdiri mematung terpisah dari kerumunannya. Waktu seolah terpaku; menit demi menit berlalu dalam kesenyapan, namun tak satu incipun raga sang kijang bergeming, seakan jiwanya telah terbelenggu oleh bayang-bayang ilusi sebelum takdir dimensi lain benar-benar menyentuhnya.  

​Kembali sang murid bertanya dalam kebimbangan yang makin dalam, tersirat dari kedalaman jiwa kepada sang guru di dalam raganya, "Mengapa ia terpaku dalam kedinginan? Adakah jiwanya sedang dirajam rintihan sakit, ataukah jantungnya telah dilumpuhkan oleh prasangka yang meletup?" Sang guru yang menyatu dalam dimensi jiwa itu menyahut pelan, "Tengadahkanlah pandanganmu melampaui tabir bebatuan cadas di atas sana." Mereka pun mengamati dengan saksama, hingga tersingkaplah bayangan seekor singa di balik cadas yang sedang menatap tajam tanpa berkedip. Tatapan ketakutan sang kijang dan tatapan takdir pemangsa telah bertaut melintasi ruang, hingga akhirnya apa yang dicemaskan oleh prasangka itu menjadi kenyataan yang menelan.  

​Melihat takdir yang tergenap di cermin diri, sang guru bermunajat dengan kalimat yang sarat makna kepada sang murid di dalam sanubarinya, "Wahai jiwa yang belajar pada diri sendiri, ketahuilah bahwa sebelum pasrah menjadi santapan kehancuran, sang kijang sejatinya dianugerahi dua kali kesempatan kemuliaan untuk menyelamatkan diri. Ia dibekali karunia kaki yang lincah dan anugerah kecepatan yang sanggup melesat bagai angin malam hingga delapan puluh kilometer setiap jamnya. Namun tatkala gumpalan ketakutan merintangi mata hatinya, ia alpa akan potensi Ilahi yang bersemayam dalam dirinya sendiri, lalu memilih menyerahkan raga menjadi santapan kebinasaan."  

​Duhai sahabat jiwa, begitulah rupa rasa takut yang bersemayam di dalam lorong-lorong diri. Ketakutan adalah hijab gelap yang membisikkan kepalsuan, membuat ruh percaya bahwa ia layak dihina oleh ketidakberdayaan dan menerima kehancuran yang tak seharusnya. Rasa takut membutakan mata batin dari mengingat hakikat siapa sejatinya diri kita, makhluk bernilai mulia yang dibekali limpahan rahmat, daya, serta kelebihan. Ketakutan membuat kita lupa akan jejak-jejak pertolongan serta sejauh mana kaki ini telah dibimbing melintasi dimensi waktu untuk melangkah.  

​Sebab itu, janganlah engkau menunggu hingga rasa takut itu sirna sepenuhnya dari dadamu untuk mulai menapak, karena ketakutan adalah sunnatullah yang akan terus hadir berganti wujud sepanjang suluk kehidupan. Yang utama bukanlah ketiadaan rasa takut, melainkan bagaimana sang murid dan sang guru di dalam dirimu bersatu menundukkan rasa takut itu, menjadikannya teman perjalanan yang terkendali, dan membangun harmoni di tengah kegentaran. Maka mulailah bergerak, berbicaralah dengan kebenaran, dan bertindaklah dengan penuh keyakinan, walau bayang-bayang gentar masih berbisik di relung hati yang paling dalam.  

Langkah terhenti.
Padang sabana membeku.

​Kijang itu patung.
Menunggu maut.
Tanpa perlawanan.

​Di atas cadas,
Sang raja hutan menatap tajam.

​Ia punya sayap angin.
Ia punya kecepatan kilat.
Namun ia memilih mati.
​Itulah takut.

Ilusi yang melumpuhkan.
Bisikan yang membunuh.
​Ia membuatmu lupa siapa dirimu.
Ia menyeretmu pada takdir yang kau takuti.

​Maka,
Jangan tunggu takut hilang.
Bergeraklah.
Atau mati dalam diam.

Pomalaa, 20261019
duiCOsta_hatihati 

Comments

Popular Posts