reuni dalam pelayatan

Disaat seorang pria telah menikah, maka hakikatnya dia sudah "MATI", sebab seluruh hela napas dan jerih payahnya kini telah dihibahkan hanya demi membahagiakan istri dan anak-anaknya. Namun, layaknya kearifan ala Abu Nawas yang kerap menyembunyikan kebenaran paling dalam di balik selimut kelakar, "kematian" seorang suami bukanlah sebuah tragedi yang meratap, melainkan sebuah makrifat pengorbanan yang disambut dengan senyum ikhlas.  

​Maka, jangan heran bila pada suatu malam di sudut pos ronda, di mana aroma kopi hitam beradu dengan gemeretak kartu remi, terdengar sebuah tanya yang memecah hening.  

​"Mengapa bapak-bapak yang sudah letih bekerja seharian masih saja sibuk kumpul-kumpul sampai larut malam?" tanya seorang pemuda yang baru saja memasuki gerbang pernikahan, matanya memancarkan keheranan atas tingkah para seniornya. "Apakah ini sekadar pelarian dari riuhnya suara tangis bayi dan omelan rumah tangga?"  

​Orang tua berpeci yang duduk di sudut meja perlahan menyeruput kopinya, menatap si pemuda dengan kerlingan mata penuh siasat khas Abu Nawas. "Bantah itu, wahai anak muda! Jangan menuduh para pejuang ini sedang melarikan diri. Kamu kira kami berkumpul di sini untuk mencari kebebasan?"

​"Lalu untuk apa lagi kalau bukan untuk bersenang-senang?" sergah si pemuda masih penasaran.
​Orang tua itu tersenyum tipis, lalu berbisik pelan namun bernas, "Ketahuilah, kami di sini tidak sedang melarikan diri, melainkan sedang menunaikan kewajiban moral yang amat luhur. Kita semua di meja ini adalah jasad-jasad yang jiwanya telah 'pasrah' sejak akad diucapkan. Kita hidup tiap hari hanya untuk membelikan beras, membayar sekolah, dan memastikan senyum di rumah tetap terukir. Diri kita yang dulu merdeka? Sudah lama almarhum."  

​Pria di sebelahnya menepuk pundak si pemuda seraya menambahi, "Jadi, jika kamu melihat bapak-bapak berkumpul melingkari meja, sebenarnya kami ini sedang saling melayat satu sama lain!"  

Di tengah malam yang beku,
Kematian adalah mahar janji,
Diikhlaskan demi senyum yang bukan milk sendiri.

​Lalu kumpul dalam lingkaran semu,
Saling melayat dengan kartu,
Sebab kita telah tiada.

​Gelak tawa seketika meledak di pos ronda itu, sebuah tawa yang renyah namun sarat akan keheningan maknawi. Si pemuda pun manggut-manggut, akhirnya paham bahwa dalam tiap cangkir kopi dan canda jenaka malam itu, para suami sedang saling melayat kelelahan, menyemangati sesama 'arwah' pejuang keluarga, sebelum besok subuh bangkit kembali untuk menjelma menjadi pahlawan yang tak kenal lelah.  

Pomalaa, 20261020
duiCOsta_hatihati 

Comments

Popular Posts