Singgasana Takhta Sunyi
Dunia acap kali silau oleh suara yang bising. Kebanyakan jiwa, yang terlalu riuh oleh kekosongan mereka sendiri, sering kali terkecoh oleh keramaian. Mereka mengira kepak sayap yang bergemuruh adalah tanda kekuatan, dan kata-kata yang dilontarkan dengan lantang adalah takhta kehebatan yang harus ditakuti. Sebaliknya, jiwa yang memilih hening kerap dinilai dengan kacamata sempit: dikira jerih, penakut, atau tak bertaji.
Betapa dangkalnya mata telanjang membaca kedalaman.
Sebab di balik diam yang dianggap hampa itu, ada semesta yang sedang bekerja. Kepala mereka tidak sedang kosong; ia adalah ruangan maha luas tempat situasi dibaca dengan cermat, dan setiap gerak-gerik diperhatikan tanpa sedikit pun terlewat. Tatapan mereka yang tajam bukanlah sekadar gestur angkuh, melainkan cermin dari kepekaan murni, sebuah indra batin yang sanggup menguliti mana ketulusan yang sejati, dan mana topeng palsu yang dipoles rapi.
Ketika jiwa yang tenang ini memilih mengalah, kebanyakan orang yang dibutakan ego cepat-cepat merayakan kemenangan murahan. Padahal, mengalahnya jiwa ini bukanlah pertanda kalah, apalagi lemah. Mereka hanya paham sebuah filsafat sederhana: meladeni ketegaran kepala yang bebal adalah bentuk pemborosan energi yang sia-sia. Bagi mereka, ketenangan batin adalah takhta tertinggi; menang dalam debat yang tak berarah hanyalah ilusi yang menipu.
Mereka menepi dari keramaian bukan karena terasing atau papa pergaulan. Mereka hanya terlalu menghargai daya hidupnya. Mengapa harus menukar kedamaian dengan percakapan basa-basi yang dangkal dan melelahkan? Dan jika dalam keheningan itu mereka masih mengulurkan tangan untuk menolong, itu bukan karena mereka butuh pengakuan. Itu terjadi karena jiwa mereka pernah ditempa oleh luka. Mereka tahu persis betapa dinginnya berada di dasar jurang, sehingga nurani mereka menolak membiarkan jiwa lain merasakan perih yang sama.
Secara psikologis dan spiritual, ini adalah puncak dari penguasaan diri (self-mastery). Ketenangan mereka adalah benteng, dan kendali emosinya adalah senjata. Mereka tak perlu menggertak untuk ditakuti, tak perlu memamerkan taring untuk disegani. Namun ingatlah, saat jiwa setenang ini akhirnya mengambil satu langkah keputusan, pergerakannya seperti ketukan takdir: presisi, telak, dan tepat sasaran.
Sayangnya, dunia yang dungu sering kali mengira kesabaran adalah kelemahan yang bisa dimanfaatkan. Mereka lupa bahwa laut yang paling tenang menyimpan kedalaman yang sanggup menenggelamkan. Ketika batas sabar itu akhirnya terlampaui, jiwa yang tadinya penuh hangat dan peduli dapat bertransformasi menjadi sosok yang paling dingin, asing, dan tak tersentuh. Tak ada amarah yang meledak-ledak, hanya ada pintu yang dikunci rapat dari dalam untuk selamanya.
Maka, berbicaralah dengan santun di hadapan heningnya orang yang sabar. Karena di dalam diamnya, ada kedamaian yang agung, sekaligus ketegasan yang tak tertandingi.
Ada bahasa hening
Di dalam telaga yang tak bergelombang,
ada mata air yang membaca bayang-bayang.
Jangan kausangka sepi itu kalah,
ia hanya menyimpan gemuruh yang tak tergoyah.
Batu karang tak pernah berteriak pada ombak,
ia hanya diam, namun waktu yang menunduk pasrah.
Maka jagalah jarak dari sabar yang terluka,
sebab ketika ia menjelma asing,
pintu tak lagi punya kunci untuk dibuka.
Dunia memang sebuah panggung lelucon yang janggal. Jiwa-jiwa yang dingin dan hening ini tak pernah populer naik podium; nama mereka tidak dielukkan dalam tepuk tangan riuh, tak pula memburu sorot lampu panggung. Di lingkaran-lingkaran kecil, di mana gerombolan ghibah berkumpul menganyam rahasia dan prasangka, sosoknya justru kerap menjadi bahan percakapan yang umum dan paling menarik. Mereka diperbincangkan, dinilai, dan dihakimi oleh mulut-mulut yang sibuk menutupi ketakutan mereka sendiri.
Namun, di sinilah letak ironi yang menggelitik.
Anehnya, anggota gerombolan yang sama itu, tanpa mereka sadari, sering kali tertuntun menyapanya hanya untuk sekadar mencari tahu arah jalan. Saat tersesat dalam kebingungan hidup, langkah kaki mereka justru terarah pada sosok yang tadinya mereka bicarakan. Di sisi lain, dalam gelap dan misteri, dalam sunyi mereka menemuinya, mencarinya hanya untuk bersandar, memuntahkan cerita tanpa batas. Mengapa? Sebab sejauh ini, hanya jiwa hening itulah yang sanggup mendengar, menampung seluruh beban, dan merelaksasi jiwa mereka dengan ketenangan setelahnya.
Lalu apa yang terjadi ketika terang kembali datang dan mereka bergabung lagi dengan gerombolannya? Pola lama berulang kembali. Padahal dihinggapi rasa kagum dan jatuh hati yang mendalam, perasaan itu mereka rias rapi dengan rasa iri, dengki, dan benci. Mereka kembali memandang miring demi menyelamatkan gengsi dan menyatu dengan riuhnya kerumunan.
Sebuah lingkaran hipokrisi yang sempurna. Dan yang lebih luar biasa? Sosok yang tenang ini sangat memahami seluruh pola itu tanpa pernah menjadikannya beban, apalagi mengemis agar tervalidasi. Ia membiarkan dunia memainkan peran kekanak-kanakannya, sementara ia tetap berdiri kokoh dalam keheningannya yang agung.
"Ia adalah mercusuar di tengah malam: dicari saat badai dan dikutuk saat terang, namun ia tetap berdiri tanpa pernah meminta laut mengucapkan terima kasih."
Sumber dari inspirasi tulisanku ini adalah teman. Teman yang secara karakter bertemu kesamaan dan di waktu bersamaan kamipun berbeda. Taulah kamu maksudku...
Fajar tak pernah meminta disembah malam,
Dalam sunyi ia menampung segala keluh yang kelam.
Pada terang, mereka mencerca dan lupa arah pulang,
Diamnya tetap utuh, tak butuh dipuja sayang,
Petunjuknya abadi, meski ditukar dengki bersilang.
Pomalaa, 20260804
duiCOsta_hatihati
Comments
Post a Comment