Dahaga

Lampu meja yang temaram membingkai bayangan Senja yang gemetaran di atas lembaran kertas lusuh. Di hadapannya, fenomena degradasi jiwa manusia terhampar telanjang. Manusia yang telah dihinggapi dahaga akut, entah haus akan perhatian, validasi, uang, kasih sayang, atau kekuasaan, secara bertahap sedang menanggalkan akal sehatnya. Ketika rasa haus itu memuncak, fokus manusia tak lagi tertuju pada bungkus, cara, atau standar ideal. Segala batas kepatutan runtuh, sebab yang penting baginya hanyalah satu: kebutuhan itu terpenuhi, tak peduli dari cawan mana ia mereguknya.

​Di gurun jiwa yang terbakar dahaga,
Standar moral runtuh tak tersisa.
Tak lagi peduli bungkus dan cara,
Asal dahaga terobati seketika.

​Racun pun disangka penawar rasa,
Busur musuh dipeluk bagai saudara.
Saat haus menguasai murni tatanan,
Manusia menukar kehormatan demi pemenuhan.

​Keadaan terasing ini melahirkan absurditas yang tragis. Seseorang yang haus validasi akan menjadi begitu buta hingga rela menerima perhatian dari siapa saja, bahkan dari tangan-tangan yang berniat buruk padanya. Mereka yang terlalu haus akan uang berhenti peduli dari mana lembaran itu berasal, tak lagi mengindahkan batas antara kebenaran dan kejahatan. Sementara jiwa yang haus akan kasih sayang memilih bertengger dalam lingkaran hubungan yang beracun dan tidak sehat, hanya karena ketiadaan itu jauh lebih menakutkan daripada disakiti setiap hari.

​Kebutuhan yang membesar tanpa kendali secara perlahan menumpulkan standar penilaian. Saat rasa haus itu memegang kendali penuh, kemampuan memilih secara bijak pun padam. Manusia tak lagi menimbang konsekuensi, tak lagi memedulikan kehancuran yang menunggu di ujung jalan, hanya demi memuaskan dahaga yang tak pernah benar-benar terobati.

Pomalaa, 20260814
duiCOsta_hatihati 

Comments

Popular Posts