Merdeka Setengah Tiang

Syahwat zaman ini tak lagi melulu soal kemolekan tubuh yang kasat mata, melainkan dahaga akan atensi yang tak pernah terpuaskan. Nalar sehatku sering kali didera iba melihat bagaimana harga diri dan martabat kini diukur lewat angka-angka digit di layar gawai, seolah nilai hakiki seorang manusia bisa ditakar hanya dari berapa banyak pasang mata yang sudi memandang dan memberi singgungan jempol. Manisku, ketahuilah bahwa kehormatan seharusnya tak pernah perlu ditukar dengan atensi murahan. Namun entah salah siapa, di tanah yang riuh oleh ceramah moral dan khotbah tentang kebaikan ini, orang-orang justru berbondong-bondong menggadaikan martabat di jagat maya demi segelintir pengakuan. Seandainya perut mereka kenyang, beras di dapur melimpah, dan masa depan tak terasa sesuram ini, pastilah mereka lebih memilih hangat berjubah dalam martabat daripada harus bertelanjang di tengah riaknya zaman hanya untuk sekadar bertahan hidup.

Layar gawai ini terus memutarkan dramaturgi,
menampilkan angka-angka yang memuji kelayakan,
sementara dapur-dapur di pinggiran
sibuk menawar harga untuk secentong ketenangan.

​Manisku, tidakkah kau lelah
memoles raut demi tepuk tangan semu?
Kita dipaksa bertaruh dengan kehormatan,
hanya agar tak dianggap asing
di tengah rimba yang silau oleh citra.

​Di sini, di tanah yang riuh oleh seruan moral,
banyak jemari terampil mengetik kebenaran,
namun enggan mengulurkan genggaman
pada mereka yang giginya gemetar menahan lapar.


​Melihat krisis yang terus merayap itu, aku mendadak cemburu pada bulan ini. Aku cemburu melihat bendera-bendera yang bebas melambai di peluk angin, gagah tanpa beban, sementara kita yang bernyawa justru harus saling berpelukan erat hanya demi menahan gigilan dari pelik dan dinginnya kenyataan. Aku cemburu pada panggung-panggung perayaan yang mengagungkan angka pencapaian, sementara anak-anak didik di kelas-kelas berdebu hanya dikenyangkan oleh hafalan dan dogma, tetapi dimiskinkan dari proses belajar memupuk lahan kehidupannya sendiri. Hatiku rasanya hancur terbantai oleh rasa cemburu yang menggerogoti dada. Aku merasa seperti seorang veteran perang yang ditikam sunyi di teras panti jompo; menua dalam kelam sembari menyaksikan kemerdekaan yang dulu diperjuangkan dengan darah dan air mata, kini hanyalah komoditas yang dimanipulasi oleh para maestro pembuat narasi.

Aku tersinggung pada podium yang megah itu.
Mikrofon-mikrofon bebas mendengungkan janji
di bawah tatapan langit yang kian muram,
sedang kita harus terus merangkak
mencari celah di antara himpitan garis hidup.

​Aku cemburu pada bulan ini.
Gedung-gedung tinggi dibangun begitu sigap,
namun jiwa-jiwa di bawah naungannya
dibiarkan kerdil tanpa ruang untuk bertumbuh.
​Hatiku runtuh diterpa kenyataan ini.

Seperti seorang buruh tua yang ditelan jelang malam,
duduk terdiam di sudut pemukiman kumuh,
menyaksikan kisah kesejahteraan
hanya menjadi naskah indah milik penguasa.

​Lalu, setiap kali aku membuka gawai di hening malam, hampir seluruh algoritma di berandaku membaca negeri ini sebagai deretan kabar duka yang tak kunjung usai. Setiap usapan layar hanya menyajikan ironi, jeritan yang terbungkam, dan ketimpangan yang dipoles rapi. Di titik itulah aku kerap bertengkar dengan pikiranku sendiri, bertanya-tanya apakah semua duka ini memang realitas yang telanjang, ataukah sekadar prasangkaku saja yang sudah terlanjur muram memandang dunia? Jika memang prasangkaku yang keliru dan aku yang terlalu picik, beritakanlah kepadaku dengan sejujurnya, tentang di mana ada kemakmuran nyata yang benar-benar berpihak dan merengkuh kelas bawah. Beritahu aku agar aku bisa kembali percaya, bahwa tanah air tempat kita berpijak ini bukanlah negeri yang kena guna-guna, dan bukan pula sebuah panggung megah di mana rakyatnya tertidur lelap, terhipnotis oleh gema gendam para penguasa.

Setiap kali baris berita melintas di linimasa,
negeri ini selalu dilukiskan dalam warna kelabu.
Lalu aku tertunduk dan merenung:
apakah mataku yang terlalu muram melihat dunia?

​Jika prasangkaku memang keliru,
tunjukkan padaku satu sudut saja
di mana keringat rakyat kecil
dibayar tuntas dengan rasa aman dan tenteram.

​Agar aku terbebas dari rasa sangsi,
bahwa tanah air ini bukan sekadar panggung ilusi,
tempat harapan rakyat diecer murah
demi mempertahankan tahta dan narasi.

Aku..?
Jangan pikir hanya karena aku mengutarakan kisah nyata dari selatan yang penuh dengan hiruk pikuk mewakili separuh lebih dari isi hati negeri ini, lalu aku sanggup menanggung, memperbaiki apalagi mengatasi semua carut marutnya kenyataan. Jangan kira aku dan banyak lagi aku-aku di pelosok sana yang menggemakan suara rintih senada lantas mampu seandainya duduk di singgasanamu. BUKAN ITU, tapi setidaknya itu yang kami rasakan secara jujur sebagai penunjuk jalan dan fakta bahwa kami menderita sejak KAU PRESIDENNYA. Biar aku bisikkan saja kenyataan yang tak sepantasnya kalian sanggah.

Pertama, Reformasi kemarin dulu kemana jika pembungkaman atas nama stabilitas nasional? 
Kedua, Apa bedanya zaman ini dengan jahiliyah sebelumnya jika pada kenyataannya engkau buta-tuli untuk kami tapi sama sekali tidak bisu untuk menebar dogma dan arogansi?
Ketiga, kapan kamu mati dan kami kembali memiliki harapan meski kami sendiri tak yakin dengan rezim berikutnya, tapi setidaknya kami punya jeda meski sekedar ganti suasana.

Pomalaa, 20260806
duiCOsta_hatihati 

Comments

Popular Posts