ngono yow ngono, ning ojo ngono
Teman,
Di bawah bayang-bayang menara lonceng tua yang tak lagi berdentang, Lingga dan Yoni mengikat janji tanpa ikrar yang mereka sebut kedaulatan jiwa. Mereka adalah dua tubuh yang bernapas dalam satu irama; berbagi remah roti saat kelaparan, dan saling meminjamkan bahu saat dunia menjadi terlalu berat untuk dipikul. Di mata orang-orang, pertemanan mereka adalah pahatan karang yang tak sanggup digerus ombak, sebuah simfoni kesetiaan yang mustahil disumbangkan oleh iri hati. Namun, sejarah selalu menyimpan ironi yang sunyi: di tanah paling subur tempat cinta tumbuh pesat, racun prasangka menyerap nutrisi yang sama untuk membesar.
Pertemanan,
Sejatinya adalah susunan paradoks yang indah sekaligus mengerikan. Kita membentengi diri dari serbuan musuh di luar, tetapi tanpa ragu menyerahkan kuncinya kepada seorang yang kita sebut karib; kita mengenakan perisai besi di hadapan dunia, namun melepaskannya sepenuhnya saat berdiri di dekatnya. Lingga membuka setiap retak di jiwanya kepada Yoni, menelanjangi semua kelemahan yang ia sembunyikan dari raksasa kehidupan. Ia lupa bahwa dengan menunjukkan tempat jantungnya berdetak, ia sekaligus sedang menggambar peta paling presisi bagi siapa pun yang kelak ingin menancapkan belati tanpa pernah meleset.
Klimaks itu datang bukan dengan gemuruh badai, melainkan dalam senyap keputusan yang dingin. Ketika sebuah kesepakatan besar bernilai kejayaan dan nama baik dipertaruhkan, Yoni memutar kemudi tatanan moralnya. Dengan satu garis tangan yang tenang namun mematikan, ia menyerahkan Lingga pada jurang kehancuran demi memeluk mahkota keuntungannya sendiri. Tikaman itu tidak mendarat di dada bagian depan tempat pertahanan bersiaga, melainkan merobek punggung, tepat di titik di mana Lingga meyakinkan dirinya bahwa ia sedang dilindungi.
Sakit dari luka tersebut tidak bersumber dari tajamnya baja, melainkan dari jemari yang memegangnya. Tikaman seorang asing hanya akan melahirkan benci yang sederhana dan mudah disembuhkan oleh waktu, namun tikaman dari orang terdekat mengguncang fondasi eksistensi diri. Lingga tidak hanya kehilangan harta dan reputasinya, ia kehilangan realitas; setiap kenangan manis berubah menjadi arsenik yang meracuni ingatan, dan setiap tawa masa lalu mendadak terdengar seperti ejekan yang direncana. Harga dari sebuah kepercayaan yang runtuh dibayar tunai dengan kematian rasa percaya pada manusia, selamanya.
Dada yang kau peluk itu,
adalah dada yang menyimpan bisik takdirmu,
Punggung yang kau sandarkan itu,
adalah ladang paling subur bagi sembilu.
Sebab musuh jauh hanya mampu
menggores kulit dan bayang-bayang,
Namun belahan mendekat
untuk memastikan detakmu benar-benar hilang.
Ada peluang...disana
Di dekat dada
tempat jantungmu menari hangat,
Di sana pula
rahasia napasmu paling mudah disumbat.
Renungkanlah wahai jiwa yang terlena oleh kehangatan kedekatan: bahaya terhebat dalam hidup jarang sekali datang dari jarak yang jauh. Musuh yang terang-terangan bertelanjang dada di seberang lautan hanya sanggup melempar tombak yang arahnya dapat kau hindari. Namun, orang yang berbaring di sebelahmu, yang napasnya berhembus di lehermu, tidak membutuhkan tenaga besar untuk memadamkan cahayamu. Jarak yang sangat dekat adalah jarak paling efisien untuk sebuah pembunuhan, baik bagi raga, maupun bagi jiwa.
Punggung kita adalah wilayah paling rapuh karena ia berada di luar jangkauan penglihatan kita sendiri. Ketika kita membiarkan seseorang berdiri rapat di sana, kita sedang menaruh taruhan paling mahal dalam hidup kita. Jantung kita berdetak begitu dekat dengan tangan mereka; potensi kehidupan yang luar biasa hebat berada tepat berdampingan dengan potensi kematian yang sama dahsyatnya. Kehangatan tubuh mereka bisa menjadi selimut yang menyelamatkan dari dingin, atau justru menjadi pengalih perhatian saat mata pisau diselipkan di antara tulang rusuk.
Pada akhirnya, Lingga berjalan menyusuri sisa hidupnya sebagai seorang pertapa di tengah keramaian, membawa parut luka yang tak akan pernah pudar. Ia memahami hukum tertinggi dari perniagaan manusia: harga untuk belajar memahami kedalaman jiwa seseorang kerap kali harus dibayar dengan kehancuran jiwa kita sendiri. Kedekatan adalah keindahan yang menuntut kewaspadaan abadi, sebab di dunia yang fana ini, belati yang paling dalam merobek daging adalah belati yang digenggam oleh tangan yang pernah kita cium dengan penuh kasih.
Maka kamu, kalian, janganlah pernah begitu, sebagaimana aku pun selalu berjuang menjaga diri agar tak menjadi jemari yang merobek dada yang kupeluk. Namun, bila hal pahit itu sudah telanjur terjadi pada jiwamu, atau setidaknya pernah kau dengar gaungnya di lorong-lorong takdir orang lain, belajarlah dari kearifan orang Jawa yang terpatri dalam rahasia pusaka keris. Keris disimpan bukan semata-mata untuk menusuk, melainkan untuk menguji sejauh mana keheningan jiwa sang pemilik sanggup menahan tajamnya lekuk bilah.
Dari sana terukir falsafah adiluhung: ngono ya ngono, ning aja ngono, boleh saja melangkah, tetapi jangan pernah melampaui batas keharusan. Saat dekat jangan terlalu rapat, sebab jarak yang terlalu tipis kerap melahirkan kelengahan dan gesekan yang melukai; namun saat jeda jangan pernah tanpa sapa, agar ruang yang terbentang tidak berubah menjadi rawa prasangka yang membusukkan rindu.
Sebab pada akhirnya, seluruh kedalaman, batas, dan kehangatan dalam pertemanan hanyalah soal bagaimana kita memegang m diri, terhadap sesuatu yang dengan angkuhnya sering kita sebut sebagai kendali.
Pomalaa, 20260810
duiCOsta_hatihati
Comments
Post a Comment