Perayaan Rasa
Kaulah,
kawan tempur untuk menatap neraka tanpa berkedip, tetaplah di sini. Kita minum pahitnya malam ini sampai tuntas, menghirup pekatnya seduhan kopi hitam yang ampasnya mengendap tebal di dasar cangkir. Kita tahu benar, tidak semua kepahitan ini kita sukai, dan tidak semuanya datang di waktu yang tepat. Namun, kita tetap meneguknya dengan syahdu, sebab kita sadar bahwa hidup hanyalah seni menunggangi waktu. Lagipula, waktu sudah tentu berjalan tegak di atas jalur rel tulisan purba terdahulu, garis takdir yang telah dipahat jauh sebelum jiwa kita ditanya tujuh puluh tujuh kali tentang kesediaan, sebelum akhirnya kita dilemparkan turun ke dunia. Kau maklumi sebatang rokokku yang disulut dari api neraka, katanya, begitu mereka tuduhkan dengan bibir-bibir yang terlalu suci untuk sekadar memahami lebam.
Malam ini, di bawah derak jelaga yang merayap lambat, mari kita duduk di atas puing-puing penghakiman dunia. Dalam mabuk hati, kita sepakat membakar surga yang egois malam ini, seperti yang sudah-sudah; sebuah janjiku dan janjimu yang ditulis di atas abu, bahwa kita tak butuh firdaus buatan orang-orang yang tak pernah merasakan dinginnya dasar jurang. Di balik setiap hembusan asap yang mengangkasa, ada bisikan yang sengaja kita balikkan alurnya, sebuah pemberontakan sunyi dari dua jiwa yang telah terbiasa memeluk jelaga tanpa takut menjadi arang.
Di antara puing retak dan tumpahan luka,
kita belajar mengeja Kebenaran tanpa tanya.
Bukan pada megahnya monumen yang dingin,
melainkan pada tiap napas
yang nekat mendobrak penderitaan.
Aku yang menulis liriknya,
kau yang mengetuk iramanya,
dan kita aransemen bersama, tanpa nama,
tanpa perlu disembah siapa-siapa.
dalam tajuk kidung sunyi diambang petang.
Hidup tak pernah minta dimaafkan,
ia hanya menuntut dihidupi sampai remuk.
Maka kureguk pahitmu sebagai madu yang asing.
Sebab di kedalaman sepi yang paling telanjang,
kita akhirnya sadar:
penerimaan adalah satu-satunya
kesucian yang tersisa.
Sejak kau dan aku menyatu dalam ikatan, orang-orang puitis di luar sana menyebutnya kita. Namun bagi kita yang bernapas di balik tirai absurditas, itu adalah sebuah maklumat tak tertulis. Padahal tak akan ada kata ganti untuk aku dan kamu, bahkan kata kita. itu kata mereka saja. Sedang aku dan kamu tetap saja sebagai ruang-ruang satu sama lain yang tak pernah presisi, hanya bersisi, dan kita tau itu. Tapi sejak saat itu, aku dan kamu menjadi manusia yang sudah mati berkali-kali tapi menolak untuk dikuburkan. Kita adalah hantu bagi ketakutan kita sendiri, menari di atas beling-beling takdir yang pecah. Dunia mengira kita sedang hancur, padahal kita sedang sibuk mengumpulkan serpihan diri untuk membangun sebuah takhta baru dari puing-puing kekalahan.
Di sanalah, pada celah-celah retakan jiwa kita, sebuah romansa yang sakral mewujud tanpa sengaja: kita tak lagi sanggup dianiaya oleh resah akan tajamnya kenyataan. Aku dan kamu bertumbuh menjadi dua entitas yang meresapi tiap gejolak rasa tanpa perlu menuding, memeluk remang abu-abunya eksistensi tanpa lagi lancang menakar mana hitam dan mana putih.
Mungkin, justru dalam kepasrahan yang telanjang di hadapan takdir inilah, letak keindahan paling murni yang mustahil disentuh oleh tetangga bumi yang langit. Puncak kita ada di dasar lembah, sedang langit mereka kebanyakan ada di kata. Sebuah romantisme tanpa nama. Bagiku demikian, dan di dalam kedalaman batinmu yang paling sunyi, kuberharap kau pun mengaminkannya.
Di mata mereka, kita hanyalah anomali yang berjalan; namun di ruang batin kita sendiri, kita adalah keabadian kecil yang menolak padam meski dihantam deru badai yang berlalu lalang.
"Menjadi abadi bukanlah tentang tidak pernah mati, melainkan tentang berapa kali kau sanggup bangkit kembali dari debu yang sama dan tersenyum pada takdir yang gagal menghancurkanmu."
Kau dan aku, kita dibentuk dari adonan tanah yang sama: penuh lebam, retak di sana-sini, tapi terlalu sombong untuk sekadar bersimpuh meratapi nasib. Kegilaan yang anggun itu menjelma menjadi alkimia dalam ruang dapur kecilmu, sebuah panggung perjamuan tempat kau mengolah getir menjadi mahakarya. Di sana, jemarimu menari bersama kehancuran yang sublim: remukan wortel dan rebung yang pasrah, lumat bersama hancurnya telur dalam kawah minyak yang membara sebelum menjadi LUMPIA ALAMU. Dan karya itu hanya salah satu, dari sekian banyak racikan yang bisa kau tawarkan.
Dari sudut pandang Majnun yang menemukan kebenaran dalam kuali kehidupan, kau menyajikan lumpia yang renyah dan gurih, menutupi kehancuran bahan-bahannya dengan cita rasa yang meledak riuh. Bukankah hidup kita tepat seperti itu? Sebuah penyamaran tingkat tinggi di hadapan lidah-lidah dunia. Kita membungkus kepedihan yang remuk-redam dengan renyahnya ketabahan, mengubah luka menjadi kelezatan yang disyukuri tanpa perlu memamerkan amis darah di balik pembuatannya.
Terima kasih telah menjadi jangkar di tengah laut karamku, menjadi satu-satunya alasan mengapa takdir yang paling busuk sekalipun terasa seperti anugerah yang patut dirayakan. Jika dunia adalah arena peperangan yang dirancang untuk menghancurkan kita, maka memilikimu di sisiku adalah satu-satunya kemenangan yang tak mampu dirampas oleh siapapun. Bersamamu, aku belajar menertawakan penderitaan dan memeluk takdir dengan rasa syukur yang samar namun mengakar jauh ke dalam bumi. Aku, laki-laki yang tadinya hanya serpihan abu ini, akhirnya menemukan rumahnya tepat di dalam pelukanmu.
Terima kasih bijaksana..
Asyekk, eghh asuu..xixiixi
Pomalaa, 20260802
duiCOsta_hatihati
Comments
Post a Comment