Monolog: Renungan Perayaan
(Panggung gelap. Hanya ada seberkas cahaya lampu minyak atau lampu meja pijar yang temaram. Seorang penampil berbusana era kolonial akhir, jas kerah tinggi yang sedikit longgar, rambut tersisir rapi namun menyiratkan kelelahan berpikir, duduk di balik meja kayu tua. Di depannya berserak buku-buku tebal, catatan pena tinta, dan sehelai kain Merah Putih yang terlipat rapi. Ia berdiri, melangkah ke depan meja, menatap penonton dengan tatapan tajam, analitis, sekaligus membakar semangat.)
Hari ini, Senin, 17 Agustus 2026.
Di atas kertas sejarah, kita kembali memperingati repetisi waktu. Aku kibarkan benderaku, Merah Putih. Bendera dari sebuah negeri dengan narasi agung dan sejarah yang terlampau panjang. Aku kibarkan ia hari ini bukan sebagai kepatuhan buta pada kalender kekuasaan, melainkan sebagai manifestasi kesadaran: sebuah penghormatan sakral kepada keringat darah kakek-nenek kita yang dulu merobek langit penjajahan kolonial dengan kesadaran politik yang matang.
Hanya itu. Hanya itu esensi yang tersisa.
(Ia berjalan mondar-mandir, gerakannya gelisah, memikirkan nasib bangsanya)
Kalian, para elit di singgasana kekuasaan, mengibarkan bendera yang sama hari ini untuk alasan yang kontradiktif. Kalian mengibarkannya untuk meromantisasi masa lalu, merayakan legitimasi artifisial, dan bersyukur atas warisan geografis para moyang. Kalian mengenang jasa, melantunkan memoria heroik di gedung-gedung berpendingin udara, dan memanjatkan doa-doa prosedural yang hampa substansi.
Tapi mari kita gunakan nalar. Mari kita bedah realitas ini dengan pisau analisis yang jujur.
Doa kami hari ini berbeda, Tuan-Tuan yang terhormat. Doa kami: semoga rantai degenerasi moral generasi ini segera putus, agar rahim pertiwi lekas melahirkan kembali manusia-manusia merdeka yang berpikir, bukan sekadar kawanan domba yang paksa patuh.
(Suaranya mendadak menggelegar, berapi-api, menggugah gelora revolusioner)
Sekali lagi, dengar baik-baik! Hari ini bukan untuk merayakan kemerdekaan yang katanya sudah tuntas dicapai secara de facto dan de jure di atas dokumen-dokumen arsip yang berdebu!
Karena hari ini, maaf... dengan segala ketegasan revolusioner, kita belum merdeka!
Kita sedang berdarah-darah, memikul beban ganda, berjuang bertahan hidup dari sebuah anomali struktural yang paling mematikan: penjajahan yang dilakukan oleh darah dan daging pertiwi sendiri tanpa sadar!!
(Ia menghantam meja pelan, matanya menyala)
Bagaimana kita bisa menyebut ini kemerdekaan, jika pikiran rakyat disetir oleh kebodohan yang dipelihara, dan perut mereka dikendalikan oleh monopoli modal? Merdeka itu bukan sekadar pergantian wajah penguasa dari kulit putih ke kulit sawo matang, atau kembalinya hak yang sempat terganggu kepada pewaris kandung anak bangsa!!. Jika mentalitasnya tetaplah mentalitas budak komprador tidaka akan merubah apapun bahkan lebih dari sekedar penderitaan normal pada umumnya. Kemerdekaan 100 persen adalah harga mati, bukan kemerdekaan tiruan yang menyisakan kemiskinan struktural di setiap sudut desa!
(Ia menarik napas, nada bicaranya kembali dingin, menukik tajam secara intelektual)
Penghormatan tertinggi kami hari ini hanyalah sehelai bendera yang berkibar di pucuk tiang nurani. Namun, jika kalian datang ke halaman Republik ini dengan agenda selebrasi yang hipokrit, pesta pora di atas penderitaan rakyat, pawai kemunafikan di atas reruntuhan keadilan sosial, maka ketahuilah...
Mungkin, sebagai bentuk protes epistemologis dan antitesis terhadap kemunafikan kalian, aku akan dengan terpaksa mengibarkan bendera One Piece.
Sebuah bendera bajak laut fiktif di tengah dunia yang nyata-nyata dibajak oleh para oligarki. Mengapa? Karena aku merasa muak dan malu.
Malu dengan segala retorika kemerdekaan yang kalian dengungkan. Kemerdekaan yang kalian gadang-gadang itu, secara sosiologis dan ekonomis, tidak lebih dari sebuah kemerdekaan setengah tiang.
Sebuah tragedi eksistensial, di mana kami, kaum proletar dan kaum terpelajar yang waras, dipaksa terus berkabung atas nama Tuhan. Berkabung menyaksikan meritokrasi yang dibunuh, hukum yang diperjualbelikan di pasar gelap kekuasaan, dan tanah air yang dijarah oleh penjajah berwajah lokal.
Kalian, para tuan pemangku takhta... bukannya memerdekakan rakyat dari cengkeraman kebodohan dan kemiskinan, justru menjelma menjadi imperialis baru di rumah kita sendiri!
(Ia menatap lurus ke depan, menembus batas panggung, suaranya menjadi bisikan tajam yang mengiris)
Maka, perhatikanlah bendera setengah tiang ini. Sebab di sanalah letak perlawanan kami yang sesungguhnya: berpikir, melawan, dan menolak tunduk pada tirani bangsa sendiri.
Merah Putih kukibarkan hari ini,
bukan untuk pesta, bukan pula selebrasi,
hanya tanda takzim pada keringat leluhur
yang merobek tirani di masa silam.
Kalian mengarak bendera dengan riuh doa,
berharap generasi usang ini lekas binasa,
lalu lahir kembali jiwa-jiwa merdeka
yang tak lagi lupa pada makna.
Sebab hari ini, di atas tanah sendiri,
kita bukan merayakan kemerdekaan sejati;
kita tengah berdarah-darah, bertahan mati-matian
dari cengkeraman penjajah berdarah pertiwi.
Maka jika pesta pora ini terus kalian dengungkan,
biar kukibarkan bendera bajak laut di pucuk tiang,
sebagai malu atas kemerdekaan setengah tiang,
saat kami berkabung di rumah para tuan.
(Lampu sorot panggung mulai redup sebelum padam total. Hening, Gulita dan tak ada yang berani bertepuk tangan)
Pomalaa, 20260806
duiCOsta_hatihati
Comments
Post a Comment