Hilang di Sembilan Tahun
Lalu berkatalah seorang musafir yang telah sembilan tahun melangkahkan kakinya di bawah naungan istana kerja yang sama:
"Bicarakanlah kepada kami tentang kelelahan jiwa yang tak bersuara, tentang raga yang masih tertambat tatkala jiwa telah lama berlayar."
Dan ia mengangkat wajahnya yang teduh, tatapannya menembus cakrawala waktu yang silam, lalu bersabda:
Dahulu, tempat ini adalah ladang di mana benih-benih impianku berakar. Nawa warsa berlalu, dan setiap tetes keringatku adalah karsa yang kusiramkan dengan rasa bangga. Aku dipanggil sang kebanggaan, pekerja yang berhati lurus, yang tak rela membiarkan beras dan sepiring nasi tercemar atau pekerjaan terhenti sebelum fajar menyingsing.
Di dalam lorong-lorong batu ini, aku merasa diriku ada; aku adalah tiang yang menopang atap, dan jiwaku bersatu dengan bumbungan bangunan ini.
Namun, waktu adalah sungai yang tak pernah berhenti mengalir. Datanglah nahkoda baru dengan bahasa yang asing bagi nuraniku. Ia membawa panji-panji yang tak kukenal dan menuntut layar dikembangkan ke arah yang tak diyakini oleh kompassku. Pada awalnya, kuberkata pada hatiku yang lugu:
“Mungkin akulah yang harus melunakkan kaku belularku, mungkin akulah yang harus belajar menari mengikuti irama tabuhannya.”
Namun betapa melelahkan tatkala engkau harus memahat karya dengan cara yang mengingkari kebenaran di dalam dadamu. Kusaksikan betapa kejujuran kini bersimpuh di hadapan pencitraan yang megah namun hampa. Kusaksikan mereka yang nyaring bersuara tanpa makna dipuji bagai pahlawan, sementara tangan-tangan yang sungguh-sungguh menanam justru dilupakan di kegelapan. Dan tatkala badai kecil menerpa, orang-orang tidak lagi bahu-membahu memperbaiki dinding yang retak, melainkan sibuk menudingkan jari untuk menyelamatkan jubahnya sendiri.
Maka bersabda pula jiwaku:
dahulu aku adalah suara yang nyaring
menyuarakan kebenaran,
kini perlahan aku memilih menjadi keheningan.
Bukan karena aku telah kalah,
melainkan karena kata-kata telah kehilangan
tempat berteduhnya.
“Kehilangan semangat itu bukanlah petir yang menyambar di siang bolong, melainkan gerimis halus yang meresap perlahan dimulai dari satu kekecewaan yang tak terobati, hingga engkau tak lagi mampu marah, tak lagi mampu kecewa, dan akhirnya tak lagi peduli.”
Maka sampai pada suatu hari di mana aku terbangun dan terperanjat pada cermin batinku sendiri. Sungguh, aku belum mengangkat kaki dari pintu istana ini. Ragaku masih datang saat fajar, jariku masih menandai lembaran absen, tanganku masih menerima keping-keping perak gaji harian juga bulanan bahkan tahunan. Namun duhai wahai sahabatku, jiwaku telah lama mengepakkan sayapnya dan terbang meninggalkan tempat ini.
Malam Senja di hari Minggu telah berubah menjadi bayang-bayang kecemasan yang mencekat dada. Langkah kaki di pagi hari terasa seberat gunung batu. Di dalam ruangan kerja, mataku hanya menghitung detak sang waktu. Dan tatkala senja tiba dan aku melangkah pulang, lega di dadaku bukanlah karena sebuah karya telah usai disentuh, melainkan karena aku berhasil melarikan diri dari tempat yang tak lagi merawat jiwaku.
Dalam belenggu rantai tanggung jawab dan ketakutan akut di lembah sunyi aku berbisik pada angin malam: “Aku ingin pergi.” Namun sang Realita berdiri di ambang pintu dengan mata yang tegas. Ada nasi dan sepotong roti yang harus disajikan di atas meja, ada janji-janji hidup yang harus ditunaikan, ada benang-benang tanggung jawab yang tak boleh kuputus secara mendadak.
Dan di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, bersirat rasa takut yang dingin: “Jika aku melangkah keluar ke lembah yang asing, akankah ada tanah yang mau menerima keahlianku? Pengalamanku memang seberat dua puluh dua dan sembilan tahun perjalanan indah, namun apakah dunia di luar sana masih membutuhkan manusia dengan satu warna abu-abu seperti diriku?”
Sekian lama sudah ku menyusun sayap di tengah kegelapan namun untuk saat ini, aku memilih bertahan. Meski ketahuilah, bertahanku bukanlah karena rasa puas, bukan pula karena aku telah menyerahkan nasibku untuk membusuk di tempat ini. Aku bertahan untuk mengumpulkan keberanian yang berserakan dan memahat jalan keluar yang paling aman.
Jika hari ini aku belum bisa mengepakkan sayap untuk terbang, maka hari ini aku akan menenun bulu-bulu sayapku kembali. Aku akan belajar lagi, memperluas jalinan persahabatan, menabung keping demi keping ketenangan, dan menatap celah-celah cahaya di luar sana.
“Sebab jalan keluar dari sebuah sangkar tidak selalu berarti mematahkan jerujinya hari ini juga. Kadang, kebebasan yang sejati adalah merawat diri dan memperkuat kepakan, sampai suatu hari engkau memiliki takdir untuk memilih kemana engkau hendak terbang.”
Janganlah menyalahkan tempat ini atau nahkoda yang membawamu berlayar dengan arah dan cara yang berbeda. Merekalah bentuk dari takdir mereka sendiri. Mungkin bukan tempat ini yang sepenuhnya menjadi buruk, melainkan dirimu yang telah tumbuh melampaui ukuran wadahnya. Pohon yang telah membesar tak lagi bisa dipaksakan hidup dalam pot yang sempit.
Pergi bukanlah tanda dendam atau kebencian. Pergi hanyalah tanda bahwa sang kembara telah siap untuk menemukan tanah baru, tanah yang cukup luas bagi jiwanya untuk kembali berbunga dan menjadi dirinya sendiri.
Bismillaaah saja seperti biasa dan itu cukup seperti biasanya. Meski selalu butuh ribuan pinta dan semoga.
Pohon ini tak lagi muat untuk akarmu.
Rumah ini tak lagi kenal namamu.
Kau masih di sini,
namun hatimu sudah lama jadi debu.
Di meja kerja, kau memetik perak dari luka.
Suaramu mati, diganti hening yang setia.
Kau tukar keheningan jiwa
demi asap yang tak pernah bikin kenyang lega.
Jangan tergesa mematahkan sangkar.
Tenun kembali bulu yang tanggal.
Diamlah.
Sampai langit memanggilmu pulang.
Atau setidaknya,
Gerbang kota raja terbuka
dan terhubung dengan ladang
di kota seberang...
Pomalaa, 20260817
duiCOsta_hatihati
Comments
Post a Comment