residu dan aku
Dulu, sebelum paham peta batinku, jiwaku bekerja mirip bengkel restorasi. Setiap barang rongsok yang lewat langsung kuanggap sebagai benda antik yang wajib diselamatkan.
Ketika ada yang datang membawa cerita retak, kusediakan semen dan cat perbaikan. Saat seseorang meniupkan debu kegagalan, mataku perih ikut menangis. Pun sewaktu ada yang menyeret bangkai impian yang membusuk, pintu garasi utama langsung kubuka lebar-lebar.
Lambat laun, hakikat interaksi itu makin terang. Tidak semua yang datang membawa kerusakan berniat membenahinya. Sebagian hanya menjadikan diriku penampungan barang bekas, mencari sudut gelap untuk membuang beban, lalu pergi tanpa pernah berpikir untuk membersihkannya.
Kini, arsitektur pikiranku telah berubah. Indra meraba, akal memilah, dan nurani menilai. Aku tak lagi memosisikan diri sebagai montir utama bagi setiap jiwa yang singgah.
Terutama sewaktu mereka membongkar mesin masa lalu, memamerkan rakitan yang sengaja dibakar, lalu menuntutku menyalakan kembali apinya. Dari sana terpancar satu fakta eksistensial: tidak semua mesin mogok itu korban nasib. Beberapa di antaranya memang dirancang untuk meremukkan tangan siapa pun yang mencoba memengetuknya.
Saat ini, jika ada yang datang membawa dentang kerusakan, aku cukup berdiri memperhatikan dari jauh tanpa terburu-buru mengambil kunci pas. Aku paham, beberapa orang mengeluhkan keretakan bukan untuk mencari perbaikan, melainkan butuh wadah untuk menghancurkan milik orang lain.
Pola yang sama berulang pada kediamanku yang sunyi, yang pernah kuperlakukan seperti cagar alam gratis. Siapa saja yang mengetuk membawa riuh dan lelah kota, langsung kubukakan pintu paling lebar.
Ada kepala bising yang datang, kusediakan sudut hening dan secangkir teh keheningan. Ada napas sesak karena ambisi, kuajak menghirup udara tenang sepuasnya. Bahkan bagi mereka yang lari dari benturan dunia luar, kubiarkan mereka menggelar tikar di halaman jiwa, menjadikannya sanggar terapi tanpa biaya.
Belakangan tersadar, banyak manusia datang bukan untuk belajar mencintai kesunyian. Mereka bertandang sekadar menumpahkan sampah kebisingan yang tak sanggup dipikul sendiri, lalu pergi meninggalkan jejak kotor begitu kepalanya kembali ringan. Aku hanya dijadikan tempat transit penimbun penat, sebelum mereka kembali berlari mengejar keramaian yang merusak.
Sebab itu, caraku menyambut tamu kini berbeda. Mata melirik niat, otak menakar jarak, dan sunyiku berdiri sebagai benteng, bukan lagi fasilitas umum. Aku berhenti membiarkan setiap jiwa lelah menjadikan ruang ini sebagai pelarian sementara.
Apalagi jika tujuannya mengeksploitasi kedamaian yang kubangun bertahun-tahun, menyedot habis oksigen tenang, lalu menyuruhku menanggung residu kegelisahan mereka. Setelah memahami tabiat para pemburu hening, aku memetik satu hal: tidak semua orang yang mencari tempat tenang itu sedang ingin sembuh. Kadang mereka hanya parasit yang kehabisan inang untuk dihisap kedamaiannya.
Akhir-akhir ini, kalau ada yang mengetuk membawa kepenatan, kubiarkan mereka berdiri di luar terlebih dahulu. Tidak semua yang mengagumi kesunyian rumah ini benar-benar siap tinggal dalam hening. Sebagian hanya butuh ruang untuk meletupkan kebisingan, lalu membakar rumah yang telah menampungnya.
Namun, yang tertulis di atas tentu tak sekadar terbaca tentang montir, bengkel, peralatan, atau pertapa yang mengurung diri dalam kediaman sunyi. Ini tentang siklus pelajaran yang akhirnya kululuskan setelah bertahun-tahun mengalami kelelahan tanpa sebab yang jelas. Ini adalah muara dari kesadaran akan batas; sebuah pemahaman mendalam bahwa empati tanpa batas tegas hanyalah bentuk lain dari penghancuran diri secara perlahan.
Ibarat seorang pengembara yang terlalu lama menjadi penampung beban orang lain hingga lupa arah jalannya sendiri, aku akhirnya belajar membedakan mana panggilan jiwa yang butuh pertolongan murni, dan mana sekadar manipulasi yang menghisap energi. Ini adalah pernyataan sikap atas kedaulatan batin, bahwa menjadi baik tidak berarti harus membiarkan diri sendiri habis terbakar demi menerangi jalan orang lain yang bahkan tak berniat untuk melangkah.
Pomalaa, 20260822
duiCOsta_hatihati
Comments
Post a Comment