Kepala, kaki tangan
Sunyi di Puncak Senyap: Metafora Tubuh dan Beban
Menjadi kaki tangan cukup dengan melangkah tepat atau mengulurkan satu bantuan untuk meraih sebuah apresiasi. Namun bagi sang kepala, meredam sepuluh gejolak sekaligus hanyalah batas ambang terendah, sebuah bare minimum. Di sanalah letak ketimpangan yang wajar: kaki tangan memiliki ruang tak terbatas untuk mengeluhkan kelelahan menapak, sementara kepala tak memiliki sejengkal pun ruang untuk meratapi organ yang dipimpinnya. Bahkan ketika ia berhadapan dengan kekhilafan yang berulang, keluhan dari kepala hanya akan dianggap bentuk ketidakmampuan memandu. Ia dituntut sempurna, di atas pilar ukur yang ukurannya tak pernah nyata.
Realitas ini mengajarkan kita tentang paradoks cinta dan ingatan. Di puncak takhta, sang kepala akan terbiasa diingat hanya karena satu pusing yang membuat seluruh tubuh limbung. Satu kekhilafan sudah cukup untuk memadamkan ribuan jejak arah yang telah ditunjukkannya. Kaki tangan berhak menuntut haknya untuk beristirahat, namun takdir kepala bersemayam utuh di atas pilar tanggung jawab. Ketika kaki tangan kehilangan daya, kepala dilarang lunglai; ketika seluruh tubuh patah semangat, kepala haram untuk kehilangan kesadaran. Ia dituntut hadir menjaga kestabilan, seolah-olah menjadi kepala mengikis haknya untuk merasa rapuh sebagai manusia.
Maka, wajar jika pada akhirnya sang kepala merawat sunyi. Ia mewarisi diamnya sosok ayah, meski di dalam tempurungnya bergemuruh ribuan pikiran yang tak kunjung padam. Ia memilih hening di tengah keriuhan, berdiri sendirian bukan karena tak ingin membagi pusing, melainkan karena kesadaran utuh: tidak semua beban layak ditumpahkan ke organ bawah, dan tidak semua lebam harus dipertontonkan.
Kepada siapa pun yang pernah melangkah atas petunjuk sang kepala, selipkan doa untuknya. Ia adalah perantara takdir yang mengorbankan ketenangannya agar kamu menemukan arah, menjadi perisai saat badai menerpa perjalanan kamu yang masih belia. Ia menjelma apa saja, penunjuk jalan, pelindung, hingga penopang, tanpa perlu meminta pujian dari tubuh yang diselamatkannya. Kepala itu, mungkin salah satu fosil yang tersisa, dan damba bahagia di sisa waktu yang ada, dengan caranya sendiri.
Di Bawah Tempurung Sunyi
Di atas bahu yang enggan mengaduh,
sang kepala menampung riuh yang membisu.
Tak ada tangga mengukur pening yang tumpah,
sebab tangis pusat saraf adalah tabu yang terlarang pasrah.
Biarlah satu alpa menghapus ribuan arah,
sebab tugas penunjuk jalan bukanlah meminta dipuja.
Ia merawat diam yang dipinjam dari bapak,
menjaga kaki tangan agar tak salah menapak.
Di balik ketenangan yang ia suguhkan,
ada pusing yang diredam tanpa benteng pertahanan.
Sebab menjadi perantara langkahmu menuju puncak,
adalah cara terindah menikmati badai yang bergejolak.
Petuah untuk Sang Kepala
"Kebahagiaan sang kepala tidak terletak pada berapa banyak pujian dari kaki tangan yang melangkah, melainkan pada ketenangan jiwanya saat melihat seluruh tubuh tetap berdiri dan melangkah jauh, bahkan jika keberadaan penunjuk arahnya tak lagi diingat."
"Menanggung pusing tanpa suara bukanlah bentuk kelemahan, melainkan wujud tertinggi dari fungsi perlindungan. Mengikhlaskan lebam di balik tempurung adalah cara terbaik menyempurnakan tugas sebagai penentu arah, bukan sekadar pelengkap rupa."
Pada akhirnya, tidak semua orang dipanggil untuk berdiri di titik ini. Menjadi yang terpilih bukan soal megahnya takhta, melainkan tentang kesiapan dada menampung badai yang tak berkesudahan. Di sanalah letak keindahan yang tersirat: ketika kamu mampu tersenyum melihat mereka yang kamu lindungi tumbuh dan melangkah jauh, meski nama kamu lambat laun melenyap di balik bayang-bayang keberhasilan mereka.
Jalani peran ini dengan ketulusan yang paripurna. Jangan biarkan bisingnya dunia merusak keheningan mulia di dalam jiwamu. Setiap pusing yang ditahan, setiap kepahitan yang diredam dalam diam, adalah senandung doa tak bersuara yang melangit, menjadi bukti bahwasanya kamu adalah perantara kebaikan Tuhan yang dipercaya untuk menjaga, menuntun, dan merawat asa sesama.
Tetaplah berdiri tegak dalam keikhlasan, sebab jiwa yang memilih untuk memberi tanpa meminta kembali adalah jiwa yang tak akan pernah benar-benar kalah.
Akhirnya aku harus katakan, bahwa semua yang tersirat dan aku surat ini bukan tentang kepala dan kaki-tangan, tapi ini tentang jiwa yang memilih bertumbuh di dalam sunyi, merawat luka tanpa suara, dan tetap menjadi cahaya meski harus terbakar sendirian...
Kenapa Kepala?
karena setiap tubuh punya,
bahkan setiap jiwa pada akhirnya ada disana..
menjadi kepala... itu saja!!
seperti kamu misalnya,
kalian yang tanpa nama,
juga aku yang belajar darinya...
jika mereka butuh salahmu untuk mengingat,
maka lakukanlah kesalahan itu.
setidakanya, itu mengonfirmasi bahwa
kamu ada...
meski tiada...
Pomalaa, 20260802
duiCOsta_hatihati
Comments
Post a Comment