Abunawas dan Majenun

​Foto hitam-putih nan estetik terpasang rapi: bayangan para jemaah tersiram cahaya syahdu di dalam masjid. Namun, begitu mata turun membaca teksnya… BOOM.

​"Ia pergi ke masjid untuk mengadukan perlakuan orang-orang yang telah menzaliminya... namun ia justru mendapati mereka sedang salat di saf paling depan!"

​Abunawas mengusap janggut tipisnya, lalu memiringkan kepalanya sedikit. Di sampingnya, Majenun sedang menyipitkan mata menatap layar ponsel, mencari makna eksistensial dari sebuah komedi situasi yang baru saja lewat di beranda.

​"Aduuuh, Gusti..." Abunawas memecah keheningan dengan desahan yang sangat dramatis. "Ini komedi atau tragedi? Aku sampai bingung mau tertawa atau ikut sujud."
​Dia menunjuk layar ponsel dengan gerakan jari yang lentik dan anggun.

​"Coba perhatikan visualnya. Hitam putih yang syahdu, pencahayaan masjid yang begitu artistik, bayangan-bayangan jemaah yang bersujud pasrah. Estetikanya... chef’s kiss. "Astaga! Ternyata dunia ini panggung sandiwara, dan barisan terdepan saf adalah panggung utamanya! Murni, damai, dan elegan, sampai kamu membaca kalimatnya. Plot twist terbaik tahun ini, tapi disutradarai langsung oleh Takdir!"

​Majenun terkekeh kecil, gaya matanya berbinar seperti filsuf yang baru saja menemukan teori absurditas baru.
​"Ahaaa... inilah, Saudara-saudara. Sebuah pemandangan yang begitu puitis tentang efisiensi spiritual!" timpal Majenun sambil mengetukkan jarinya ke meja. "Bayangkan ironinya. Si korban datang dengan hati hancur berkeping-keping, membawa seluruh derita hidup untuk diadu di 'Customer Service' semesta. Eh, begitu sampai di lokasi, si penzalim sudah nongkrong paling depan, duduk manis di barisan VIP, lengkap dengan wajah paling khusyuk se-kecamatan."

​"Sangat strategis, bukan?" Abunawas menyeringai miring, matanya berkedip jenaka. "Mungkin si penzalim menerapkan prinsip "Keep your friends close, and your enemies closer". Zalim seharian di luar, lalu buru-buru antre di saf depan untuk bernegosiasi. Mereka pikir saf depan itu seperti kursi front-row di konser musik, pasti dapat perhatian khusus dan diskon ampunan langsung dari Pusat."

​"Atau jangan-jangan..." Majenun menopang dagunya, pura-pura berpikir keras dengan kening berkerut, "...ini adalah teknik "shaming by praying". Mereka shalat di depan bukan cuma karena takut dosa kelihatan kalau di belakang, tapi untuk memberi pesan ke korban: 'Lihat, aku sudah di saf depan, jadi aduanmu otomatis ke-filter!' Sungguh sebuah manajemen takdir yang luar biasa cerdik!"

​Sementara itu, si korban hanya bisa berdiri melongo di saf belakang (atau malah dekat rak sandal), sambil membatin: 'Serius, Tuhan? Di sini juga? Aku bahkan belum sempat curhat, tapi mereka sudah dapet porsi ampunan duluan?'
​"Tapi ya, mari kita bersikap chill dan santai," lanjut Abunawas sambil menyesap kopinya dengan tenang. "Setidaknya mereka shalat, kan? Dan di saf terdepan pula. Itu artinya mereka punya semangat yang sangat tinggi untuk diampuni. Siapa tahu besok-besok semangatnya nular untuk tidak menzalimi orang lagi. Kan adem."

​Majenun tersenyum lebar, mengangguk setuju. "Betul sekali. Tetap tenang, dan biarkan kebenaran serta antrean saf mengatur dirinya sendiri. Toh hidup ini memang panggung sandiwara yang indah. Yang penting, jangan sampai kita yang sibuk menilai saf orang lain, malah malas shalat sendiri. Itu baru ironi yang hakiki."

​Abunawas menatap ke arah kita, tersenyum santai dengan gaya super keren.

​"Nikmati saja keindahannya, Kawan. Keindahan dari sebuah komedi kehidupan... yang dibungkus dengan sangat, sangat elegan."

Pomalaa, 20260812
duiCOsta_hatihati 

Comments

Popular Posts