Tiga Arah Waktu Khidir untuk Musa

PERAHU YANG DILUBANGI
Pesan dari masa sekarang

Khidir melubangi perahu,
bukan karena ia rusak,
bukan pula karena hendak merusaknya,
tapi karena hari ini
harus ada retakan,
agar kelak perahu itu tak dirampas tangan fasik.

Di mata Musa, itu tampak merusak.
Di mata waktu, itu adalah penjagaan.

Maka,
jika hari ini kau harus retak
untuk tetap hidup,
retaklah.
Karena tidak semua kerusakan adalah kehancuran.
Kadang, ia adalah bentuk penyelamatan
yang menyamar sebagai luka.

Perahu adalah hidup kita saat ini
tampak baik, stabil, terapung.
Tapi hidup bukan hanya tentang hari ini.
Ia tentang hari ini dalam bayang ancaman esok,
dan tak semua luka menunggu terjadi.
Sebagian harus dicegah sejak sekarang,
meski sakit.

ANAK YANG DIBUNUH
Pesan untuk masa depan

Khidir membunuh seorang anak,
yang belum berdosa,
belum menyakiti siapa-siapa.

Tapi dalam dirinya,
masa depan yang hitam sedang tumbuh pelan-pelan,
dan jika dibiarkan hidup,
ia akan merobek iman dua orang tua
yang kini masih bersih.

Maka,
jika hari ini kau harus kehilangan
agar esok tidak kehilangan segalanya,
kehilanganlah.
Karena tidak semua yang kau rawat
akan menumbuhkan keselamatan.
Sebagian cinta harus dilepaskan
agar iman tetap bertahan.

Anak itu bukan hanya seorang bocah.
Ia adalah simbol dari harapan yang keliru.
Dari cita-cita yang tampak indah hari ini,
namun membawa kehancuran di kemudian hari.

Kadang, kita harus memutus hari ini
demi iman di masa depan.

TEMBOK YANG DITEGAKKAN
Pesan dari masa lalu

Khidir menegakkan tembok,
di kota yang pelit,
untuk dua anak yatim yang belum mengerti
apa yang sedang dijaga untuk mereka.

Tembok itu menyimpan harta,
dan harta itu disimpan
karena ayah mereka dulu orang saleh.

Kebaikan yang sudah lama lewat,
masih bekerja hari ini.

Maka,
jika kebaikanmu tak dibalas hari ini,
tetap tanamlah.
Karena masa lalu yang bersih
tak pernah dibiarkan mati.
Ia akan menjaga,
bahkan setelah kau tiada.

Tembok itu bukan hanya batu.
Ia adalah warisan tak terlihat dari amal yang tulus.
Kadang bukan kau yang memetik buahnya.
Tapi anakmu.
Atau seseorang yang tak tahu kau pernah berbuat baik.

Dan Allah tetap menjaganya,
seperti Ia menjaga sesuatu yang disembunyikan di bawah dinding,
di tengah kota yang tak tahu berterima kasih.

SIMPULKU SEDERHANA,
Tiga peristiwa.
Tiga pesan.
Tiga arah waktu.

Perahu masa kini keputusan pahit demi selamatnya hari ini.
Anak masa depan pencegahan dari bencana yang belum datang.
Tembok masa lalu buah dari kebaikan yang telah ditanam dan dilupakan.

Dan semuanya,
terjadi di luar pemahaman Musa.
Seperti juga banyak hal yang terjadi
di luar pemahaman kita.

Hidup tak selalu harus bisa dijelaskan sekarang.
Tapi ia bisa dijalani dengan percaya,
bahwa ada tangan yang mengatur segalanya
melintasi masa lalu, sekarang, dan masa depan

Pomalaa, 20250725
duiCOsta_hatihati 

Comments

Popular Posts