diam bersujud tanpa nama
di antara lekuk-lekuk tak bernama,
aku menunggu
seperti doa yang tak kunjung dilafazkan.
aku menunggu
di balik lipatan waktu
seperti cermin yang tak lagi mengingat wajah.
kau datang, kadang!!
sebagai desir rahasia
yang menyentuh ruh melalui celah-celah fana.
kau meninggalkan gema
pada dinding-dinding merah,
bilik kedap suara, bukan rasa,
seperti sebuah huruf,
berulang, terbata aku mengeja...
tapi tak sempat kupanggil menjadi nama,
sebab lidahku
telah lebih dulu sujud pada diam.
lalu kau pergi,
meninggalkan satu isyarat
yang tak sempat kutafsir,
karena maknanya
hanya bisa dijawab oleh sunyi.
sisanya, kebisingan asing
di tempat sunyi yang saling,
detik tak lagi berdetak,
sebagai prasasti abadi,
dari jejak yang tak sempat ku pahami.
Pomalaa, 2050710
duiCOsta_hatihati
Comments
Post a Comment