peluk malam kaum kusam
Sini, bersandar saja. Tak perlu bayar sewa, tak ada tarif yang naik cuma karena hatimu lagi butuh tempat teduh.
Di sini tak ada dialektika yang menuntut menang, tak ada garis partai yang memaksa tunduk. Kalau dunia di luar sana terlalu bising membakar amarahmu, melucutilah di bahu ini. Aku tak akan pernah menguasai aset rindumu atau memonopoli hangat pelukan, karena bersamamu, aku sudah memenangkan segalanya tanpa perlu bertaruh.
Telanjanglah memeluk aku yang lebih dingin dari tatap matamu. Bergumulah sesukamu karena aku akan me-ruanh sebagaimana bentuk yang kau butuh. Bahkan pucatku tetap akan tersenyum meski samar di sapu angin sembari teduh kita bersetubuh.
Jadi, matikan dulu bisingnya revolusi malam ini. Biar seluruh lelahmu, beristirahat tenang tepat di sampingku. Sebelum atau sesudah klimaksmu mengutarakan semua arah yang kau pungut sepanjang hari.
Itulah jawaban paling romantis dari malam kepadaku yang beku sepanjang waktu. Karena merasa tak sempat berdiri sudah linglung lagi, belum sempat sadar sudah mabuk lagi, belum juga terjaga harus suri lagi...
Terima kasih, malam. Setidaknya aku tahu kau adalah teman yang paling bisa mengerti dan berbaur dengan keadaan sejatinya. Bahkan jika keteduhanmu adalah kebohongan terbesar pun, aku tidak pernah meminta kesakitan lain. Tetaplah berpura-pura, karena yang kubutuhkan juga bagaimana kau bisa berpura-pura menikmati hidup yang sudah lama mati, bisa melangkah tanpa henti di tempatku berdiri dan tak pergi.
Terima kasih, malam, atas jawaban yang paling melankolis atas semua tanya dan cerewet isi kepala. Tanpa pernah kauurai, tapi aku terbuai, tenang, damai, dan merasa berteman, meski hanya semalam denganmu, malam.
Sebab pada mulanya, aku hanyalah peragu yang berbisik pasrah:
Bolehkah kupinjam bahumu, Malam?
Aku lelah terus bersandar pada ideologi.
Kiri menyuruhku bertaruh,
kanan memaksa berteduh.
sementara hatiku cuma ingin
pensiun dari segala dialektika,
lalu mengajukan pengunduran diri
di suaka di heningmu.
Jadi biarkan aku bersandar sebentar,
sebab pundakmu jauh lebih menenangkan
daripada utopia revolusi.
Jika cinta adalah opium,
aku tak keberatan mati overdosis
tanpa candu.
asal kau tak mendadak kapitalis
tanpa maklum
yang mematok tarif peluk
tiap kali rindu ini krisis cumbu...
Yogyakarta, 20260909
duiCOsta_hatihati
Comments
Post a Comment