patologi lima perkara

Selama hampir seperempat abad melangkah, berdiri, dan mengamati gelombang manusia dalam labirin industri, menyaksikan megah berdirinya entitas hingga meratapinya saat karam menjadi puing, aku sampai pada sebuah muara pemahaman bahwasanya keruntuhan sebuah persekutuan kerja jarang sekali disebabkan oleh kemiskinan akal atau ketiadaan intelegensi. Sejarah pertukangan manusia mencatat bahwa benteng-benteng megah sering kali dihuni oleh jiwa-jiwa paling cerdas di zamannya, namun rubuh bukan karena gempuran musuh dari luar, melainkan oleh korosi halus yang menggerogoti tiang penyangga secara senyap. Bagaikan penyakit kronis yang merayap tanpa rasa sakit, ia menipu mata dengan paras keharmonisan di permukaan, padahal di dalam organ vitalnya, kesakitan tengah menjalar menuju ajal. Sembilan puluh persen persekutuan yang tercerai-berai sejatinya tidak dibunuh oleh kerasnya zaman, melainkan oleh kemunculan lima patologi mematikan yang dibiarkan bertakhta.

Dalam falsafah luhur leluhur Jawa, tempat di mana sebagian kitab bacaan dan perenunganku berkiblat, dikenal ajaran Molimo, yakni lima perkara cela yang menjadi musuh utama bagi kesucian jiwa dan pengekangan nafsu manusia. Pun demikian halnya dalam belantara industri; aturan tak kasat mata itu berlaku serupa. Ada setidaknya lima perkara patologis yang menjadi akar dari segala pembusukan struktural dan kehancuran entitas bisnis dari dalam. Lima keburukan yang jika dibiarkan menjangkiti persekutuan kerja, niscaya akan merusak sendi-sendi keharmonisan dan memadamkan daya hidup organisasi.


​Tragedi pertama bermula tatkala ruang-ruang dialog berubah menjadi sarang pergunjingan. Ketika energi kolektif yang seharusnya dirajut untuk melahirkan karya justru habis menguap di lorong-lorong bisikan gelap, peradaban kecil di dalam tim mulai membusuk. Manusia-manusianya mendadak mahir menenun cerita di balik punggung, namun membisu kaku saat ditantang berhadapan muka. Waktu dua jam untuk berkarya ditenggelamkan oleh enam jam senggang yang dihabiskan demi menguliti keburukan sesama.

​“Untuk apa berbicara terus terang jika bisik-bisik di belakang jauh lebih menenangkan ego?” Desis bising para pelaku.

​“Di hadapanku mereka menebar senyum hangat, namun di balik bayangku mereka sibuk mengasah belati.” Bisik sunyi para korban.

​Terkadang bibir menyapa bagai sahabat,
di belakang, kata menjadi sembilu.
Lupa bahwa rumah yang dirawat,
akan rubuh oleh racun berbisik syahdu.

​Dari benih gosip itu, mekar pulalah kepalsuan yang lebih sistematis dalam wujud sindrom persetujuan buta: Asal Bos Senang. Mimbar diskusi yang sejatinya diciptakan sebagai tempat dialektika pemikiran, mendadak bergeser menjadi arena penganggukan massal. Para pemikir menyingkir atau dipaksa bungkam, digantikan oleh barisan penjilat yang lihai mengamini setiap titah tanpa cerna. Ketika setiap gagasan atasan disanjung bagai wahyu yang tak boleh tercela, sang pemimpin akan terbius dalam ilusi kebenaran mutlak, sementara tim di bawahnya mengalami kemandulan berpikir yang akut. Kejujuran intelektual ditukar secara murah demi kenyamanan posisi sementara.

​“Kebenaran hanyalah apa saja yang ingin didengar oleh telinga sang penguasa.” Ungkapan para pemelihara lidah.

​“Gagasan murni kami mati di meja rapat, tergantikan oleh amuk ego yang tak bersedia disanggah.” Ratap perawat kepala yang terasing.

​Ketakutan dan kepalsuan ini lambat laun melahirkan wabah yang jauh lebih dingin dan mematikan, yakni pembatasan diri yang tegar dalam sikap acuh tak acuh. Manusia-manusia di dalamnya mulai memagari diri dengan kalimat keramat: "itu bukan jobdesk saya". Ketika satu sudut kapal mengalami kebocoran, anggota lain memilih memangku tangan, merasa aman karena air belum menyentuh bilik tidur mereka. Padahal, dalam pelayaran bersama, tenggelamnya kapal tak pernah memilah penumpang. Satu orang yang memelihara kebebalan cukup untuk menumbangkan seluruh bahtera, sebab kepedulian telah mati ditelan ego individualis.

​Namun, dari sekian banyak kerusakan, tidak ada yang lebih cepat mengusir jiwa-jiwa berdedikasi selain munculnya para pencuri panggung. Kanker perampasan kredit ini bekerja dengan rumus yang amat culas: tatkala keberhasilan diraih, tangan-tangan pembual akan dengan sigap mengklaim mahkota; namun saat kegagalan menerpa, telunjuk mereka akan melayang cepat menunjuk muka orang lain. Ketidakadilan bertopeng klaim ini adalah racun paling mematikan bagi iklim kerja. Ia membuat manusia-manusia terbaik, yang bekerja dengan keringat dan ketulusan, memilih angkat kaki, menyisakan ruang kosong yang kemudian diisi oleh para manipulator yang mahir bersolek kata.

​“Hasil indah ini milikku karena namaku yang tertera; adapun cacatnya milikmu karena engkau yang mengeksekusi.” Dalih pencuri kredit

​“Keringatku yang menetes dijadikan tinta untuk menuliskan namanya di atas prasasti.” Keluh jiwa pemilik karya.

​Seluruh pembusukan itu akhirnya bermuara pada kesibukan semu yang dirayakan secara kolosal melalui ritual demam rapat. Ketagihan berkumpul tanpa arah menjadi candu baru untuk melarikan diri dari kerja yang sesungguhnya. Rapat berjam-jam digelar hingga menguras daya, namun hanya menghasilkan kesimpulan hampa tanpa muara tindakan. Dan yang lebih tragis, kebuntuan dari rapat tersebut kerap diselesaikan dengan menjadwalkan rapat berikutnya untuk membahas mengapa rapat sebelumnya tidak menghasilkan apa-apa. Sebuah labirin tanpa jalan keluar, di mana waktu menguap dan manusia-manusianya merasa telah "bekerja keras" hanya karena telah lelah bersuara di ruang hampa.

​Waktu mengalir di meja bundar,
kata berbusa tanpa muara.
Kira berkarya padahal terdampar,
di dalam labirin bicara yang hampa.

​Dalam perenungan panjang dari puncak pengamatan dua puluh empat tahun ini, aku mendapati bahwa penawar dari segala kerumitan patologi tersebut sejatinya amat bersahaja, walau amat langka untuk dipraktikkan: kejujuran yang berani di dalam ruang rapat, dan kebaikan yang tulus di ruang belakang. Jika lima perkara ini terus dibiarkan membusuk dan mengendap dalam dada suatu entitas, ingatlah bahwasanya yang akan binasa pada akhirnya bukan sekadar keharmonisan sebuah tim, melainkan seluruh urat nadi dan jiwa dari bisnis itu sendiri.

Pomalaa, 20260901
duiCOsta_hatihati 

Comments

Popular Posts