jeda spasi karsa-rasa

Di hadapan cermin kesadaran yang hening, di kelilingi legam malam yang hangat oleh sunyi dan kesednirian, jiwa bertatap muka dengan bayang-bayangnya sendiri, membisikkan sebuah keraguan yang telah lama mengendap di relung dada: wahai diri, apakah sejatinya batas yang memisahkan antara cinta dan nafsu? 

Dari kedalaman lembah paling sunyi, gema semesta menjawab dengan bisikan yang lembut namun tajam, bahwa nafsu adalah denyut rahasia kehidupan, sebuah hasrat biologis yang ditanamkan agar roda keberadaan terus berputar, sebab tanpanya, kehangatan tak pernah dimulai dan kemanusiaan akan punah ditelan dinginnya zaman. Lalu diri kembali bertanya dalam keheningan, jika demikian, di manakah gerak cinta bersemayam? Resonansi batin mendesir pelan, menegaskan bahwa cinta bergerak di ranah pautan jiwa, menjadi perekat tak kasatmata yang menjaga dua insan tetap tinggal dalam kesetiaan, bahkan ketika gelora gairah telah mereda ditelan waktu.

​Ada nestapa yang sering kali diusung manusia, yaitu ketika mereka sibuk meromantisasi cinta hingga diagungkan ke langit, sementara nafsu dinistakan dan dipermalukan di bumi. Padahal, nafsu itu jujur, ia hadir tanpa topeng, telanjang tanpa berpura-pura. Sedangkan cinta butuh dibuktikan, membutuhkan ruang, kesabaran, serta bentangan waktu yang panjang untuk menguji keabsahannya di hadapan ujian kehidupan. Diri kemudian bertanya kembali kepada sang kesadaran sejati, bagaimana mungkin keberadaan cinta itu dapat teruji bila batas-batas fisik sengaja dipagari dan sentuhan menjadi terlarang?

​Kesadaran dalam belantara diri berbisik riak, menjelaskan bahwa nafsu selalu terikat oleh batas waktu dan dahaga kepuasan; tatkala tak ada kemajuan fisik yang dijanjikan, energinya akan surut, lalu perhatiannya berpaling mencari padang baru. Namun cinta justru berhembus ke arah kedalaman, menelusuri lekuk karakter, menyelami sifat-sifat yang tersembunyi, serta merayakan setiap keunikan jiwa.

​Apakah itu berarti dinding batasan fisik harus ditegakkan demi menyingkap kebenaran rasa? Dan semesta tanpa ragu mengangguk pelan penuh etika dan kasih sayang, mengingatkan bahwa ketertarikan fisik harus ada terlebih dahulu sebagai pemicu awal, sebab tanpa percikan itu, hubungan hanyalah sebuah persahabatan yang tersesat di ruang yang salah. Namun ketika pagar pembatas itu didirikan dan seseorang tetap bertahan dalam kesetiaan, terus mendedikasikan perhatiannya meski tanpa janji sentuhan, di situlah terbukti bahwa jiwa tersebut tidak sekadar mengingini raga, melainkan telah siap untuk mengarungi samudera kedalaman bersama.

​Sebab nafsu adalah 
ketelanjangan yang jujur pada tanah,
sementara cinta adalah
piala ghaib yang harus ditempa waktu.

Pagarilah ragamu
di hadapan bayang yang mendekat,
agar kau tahu 
siapa yang berniat menetap dalam sunyi,
dan siapa yang hanya singgah 
menyadap hangat lalu membelakangi.

​“Jangan memadamkan api nafsu sebab ia adalah bara penuntun hayat, namun jangan pula menyembahnya sebab ia tidak berjiwa. Pancangkanlah pagar kesucian di pintu ragamu; biarkan yang hanya mengingini dagingmu berputar balik karena dahaganya tak terobati, dan biarkan yang sungguh merindukan jiwamu bertahan duduk mengalirkan bakti dalam heningnya ruang tunggu.”

Yogyakarta, 20260906
duiCOsta_hatihati 

Comments

Popular Posts