Dear, My Noble Adversary!
Mereka bilang aku sengaja menjaga rasa sakit ini, seolah melepaskan adalah perkara sederhana yang tuntas dalam semalam. Padahal, jika ada tombol untuk menghapus jejak yang tersisa, tentu sudah kutekan sejak awal.
Seperti bait-bait puisi yang berbisik bahwa hujan akan membasuh jejakmu, itu adalah dusta indah yang sangat ingin kupercayai. Nyatanya, meyakini kelenyapan itu justru menyadarkanku pada satu kemustahilan yang nyata.
Aku lelah melangkah membawa beban yang sama. Aku ingin senyumku kembali utuh, tanpa dibayangi rasa bersalah setiap kali menengok ke belakang. Sebuah persengketaan dua generasi yang baru benar-benar kupahami justru setelah engkau berpulang. Rindu kini menyiksa setiap kali aku sadar telah kehilangan "musuh" terbaikku, sosok yang sepanjang hidup tak pernah berhasil kumanangkan. Kepergianmu di suatu pagi tanpa pamit adalah tragedi, sebab ia makin menasbihkan kekalahanku yang abadi.
Bagaimana caranya melangkah pergi jika setiap sudut ingatan masih memantulkan sosok yang sama? Sosok yang dulu selalu membakar dendamku untuk memberi pembuktian, bahwa bocah lelaki yang dulu kau timang ini bercita-cita menempatkanmu di tahta tertinggi suatu hari nanti. Kini, bayangmu seolah tersenyum getir menyadari kepergian yang terasa terlalu cepat. Dan kekalahanku yang abadi kembali mengusap luka lama, naik ke podium juara, sementara aku berdiri di barisan paling belakang sebagai pecundang yang ditaklukkan oleh waktu.
Jadi, beri aku waktu. Biar kuraung sisa duka ini sampai tandas dengan caraku sendiri. Sebab hanya mereka yang pernah benar-benar kehilangan arah yang paham bahwa jalan menuju pemulihan tak pernah sedatar yang tampak dari luar.
Biar kukikis perlahan sejarah yang mulai berkarat di kepala ini, sambil menunduk dalam peci penyesalan. Aku butuh waktu, entah sampai kapan, hingga bising di dada ini reda dengan sendirinya.
Mungkin suatu hari nanti, saat riuh di kepala berubah menjadi hening yang damai, aku tak lagi mengenangmu dengan mata yang basah. Aku akan mengingatmu sebagai alasan terbesar mengapa aku belajar menjadi lelaki seutuhnya: seseorang yang akhirnya paham bahwa merelakan bukanlah tanda menyerah, melainkan bentuk penghormatan tertinggi bagi cinta yang tak sempat selesai diucapkan.
Di balik sunyi peci yang makin melonggar,
aku merawat kalah dari bayang yang tak lagi berakar.
Pagi itu kau pergi,
tanpa sempat menyelesaikan pertarungan,
meninggalkan bocah laki-laki,
yang masih mengejar pengakuan.
Kini ridhomu tak lagi bisa kutawar dengan tahta,
sebab waktu lebih dulu merampasmu dari arena.
Namun di dalam dada,
dendam pembuktian itu telah luluh,
menjelma rindu paling patuh,
yang belajar bersimpuh.
Selamat istirahat,
Musuh Terbaikku;
keabadianmu adalah damaiku.
Yogyakarta, 20260904
duiCOsta_hatihati
Comments
Post a Comment