Wale, kum Salam
Suatu hari, siang hari di waktu libur kerja, Wale sedang duduk di bawah pohon sembari memegang sebutir jeruk. Kulitnya kuning berkilau, mulus tanpa cacat.
Hani, yang lewat dan melihat betapa mesranya Wale menatap buah itu, menghentikan langkah. Dalam hati Hani, Wale ini memang sudah tidak tertolong, seperti halnya orang-orang menganggap Wale gila karena cara pandangnya yang kelewat ganjil terhadap dunia, dan terutama terhadap Hani sendiri.
"Wale," tegur Hani dengan nada sok tahu. "Jeruk itu warnanya kuning sempurna. Kau tak perlu jadi ahli taksir untuk tahu kalau itu jeruk termanis di pasar hari ini."
Wale mendongak, tersenyum tipis. "Oya? Kalau begitu, apakah kau mau memakan kulitnya, Hani? Tentu tidak, kan? Lalu mengapa matamu begitu yakin menghakimi isi hanya dari bungkus yang bahkan tidak akan masuk ke kerongkonganmu?"
Hani bersedekap, agak tersentil. "Tentu saja kulitnya dibuang. Tapi dari warnanya, orang berakal bisa tahu!"
Wale tidak langsung menjawab. Ia memegang jeruk itu, memijatnya perlahan dengan ibu jari.
"Lalu aku merabanya," ujar Wale tenang. "Tingkat kelunakannya memberi sinyal kematangan. Tapi bukankah rabaan tangan ini pun hanya tafsir yang rawan meleset? Kelunakan bisa berarti manis, bisa juga tanda ia mulai membusuk dari dalam. Mata dan jemarimu hanya bisa meraba 'gejala', Hani, bukan 'hakikat'."
Dengan perlahan, Wale mengupas kulit jeruk itu. Ia memisahkan satu ulas, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Ia memejamkan mata sejenak, menikmati setiap bulir yang pecah di lidahnya, sementara Hani memandangnya dengan rasa penasaran yang tertahan.
"Baru setelah lidahku bersentuhan langsung dengannya, vonis itu lahir," kata Wale seraya membuka mata. "Ternyata ini agak asam, dengan sedikit jejak pahit di ujungnya. Kebenaran jeruk ini tidak terletak pada prasangka matamu, bukan pula pada teori di kepalamu. Ia baru menjadi nyata setelah dirasakan sendiri."
Hani terdiam. Selama ini, ia dan orang-orang di luar sana, selalu menilai kisah antara dirinya dan Wale hanya dari kulit luar. Mereka memberi label, menghakimi mana yang benar dan salah, mana yang pantas dan gila, seolah-olah mereka sudah mengecap sendiri pahit-manisnya perasaan yang melandasi hubungan itu.
"Begitulah cara kerja mata, kepala, dan hatiku untuk memberi ruang dalam hidup ini," lanjut Wale, menatap Hani dengan kedalaman rasa yang membakar sekaligus menenangkan.
"Aku tidak lagi mudah percaya pada apa yang kelihatan mengkilap. Sebab, tidak ada yang benar-benar 'benar' dalam takwil manusia. Jikapun ada kebenaran yang benar,
apakah kepastian bahwa itu baik terjamin??.."
Wale menggantung kalimatnya, menatap sisa jeruk di tangannya.
"...bukankah tidak semua kebenaran itu baik jika dipaksakan keluar? Ada kebenaran yang kalau dikupas mentah-mentah justru merusak rasa, dan tidak semua hal manis di luar akan berujung indah di dalam."
Sebab pada akhirnya, wahai kawan, mata kita ini acap kali bertindak seperti pembeli awam di pasar malam: gampang terpesona oleh kilau lampu penyuplai, padahal yang dibeli cuma barang sepuhan.
Kita ini terlalu sering kelelahan karena sibuk bertengkar mengutuki "kulit", sementara isi di dalamnya bahkan belum sempat disicipi. Kita sibuk menghakimi warna jeruk orang lain, meramal rasa pahit-manis kehidupan tetangga, lalu merasa paling bijak hanya karena berhasil menebak tingkat kelunakannya dari jarak jauh. Padahal, kalau disodori kulitnya untuk dikunyah, kita sendiri bakal meludah.
Maka, cara paling bijak untuk memberi ruang dalam hidup ini sederhana saja:
Jangan terlalu percaya pada pandangan pertama mata. Mata itu cuma pintu gerbang, bukan hakim garis. Ia sering kali cuma melihat apa yang ingin dibayangkannya, bukan apa yang sebenarnya ada.
Istirahatkan kepalamu dari memproduksi teori. Tidak semua hal di dunia ini perlu ditafsirkan sampai tuntas, dianalisis sampai berbusa, atau diberi vonis "benar" dan "salah". Kadang, jeruk itu asam ya cuma karena ia memang asam, bukan karena ada konspirasi langit di baliknya.
Sediakan mangkuk yang lapang di dalam hati. Jika kau menemukan kebenaran, syukuri. Tapi ingat, tak perlu semua kebenaran kau semburkan ke muka orang lain. Sebab, menyuapkan kebenaran yang jujur tapi mentah kepada orang yang belum siap, itu persis seperti memaksa orang menelan jeruk mentah beserta biji-bijinya, bukannya kenyang, malah bikin tersedak dan sakit perut.
Tertawailah prasangkamu sendiri sebelum kau tertawa karena dikerjai oleh kenyataan. Kupas kulitnya pelan-pelan, nikmati rasanya, entah itu manis, asam, atau pahit, lalu usap bibirmu, dan tersenyumlah.
Sebab di hadapan Semesta, kita semua ini sejatinya cuma penikmat jeruk yang sama-sama masih sering keliru menebak rasa.
Comments
Post a Comment