aku, sebagian lainnya bukan
Aku adalah jeda yang tak pernah kalian undang dalam perjamuan. Di saat kalian sibuk menata mimbar dan menyesuaikan pencahayaan agar prasangka kalian tampak seperti wewangian, aku memilih duduk di barisan paling belakang, menikmati bagaimana kalian saling melempar senyum penuh patron, seolah-olah surga adalah ruang privat yang kuncinya baru saja kalian salip dari saku kanan celana Tuhan. Kalian menyebutku asing, sebagian lagi menuduhku rongsokan moral yang enggan diperbaiki. Padahal, aku hanya menolak ikut serta dalam drama kolosal yang kalian sutradarai sendiri. Kalian membangun menara dari pembenaran-pembenaran kecil, merapikannya dengan dogma, lalu panik ketika ada angin kejujuran yang berembus sedikit terlalu kencang. Bagi kalian, menjadi manusia adalah tentang kerapian kompromi. Bagi aku, itu adalah kepalsuan yang dirayakan bersama-sama.
Aku, si prasangka yang kalian benamkan
di dasar cawan yang kalian sebut kesucian.
Kalian memoles dahi dengan jejak doa,
namun menimbun belati di balik lipatan jubah.
Kalian mengeja kebaikan
seperti pedagang pasar malam,
menghitung untung rugi,
dari setiap desah napas yang dipamerkan,
menukar keheningan dengan riuh tepuk tangan
sesama pengagum bayangan.
Persetan dengan tatanan,
yang kalian rakit dari ketakutan.
Ibadahku kalian sebut cela,
sebab aku menolak bertransaksi dengan keabadian.
Kalian sibuk mengukur kedalaman neraka orang lain,
menggunakan jengkal kepalsuan
yang kalian warisi dari kebiasaan.
Di teater yang kalian agungkan ini,
pembusukan nurani
kalian beri nama kebijaksanaan,
ketakutan untuk jujur
kalian bungkus sebagai kesantunan,
dan kelumpuhan jiwa
kalian rayakan sebagai kesalehan.
Aku memilih tetap berada di luar tirai,
memperhatikan kalian saling bertukar topeng
berlomba menyanyikan kidung tentang cahaya,
di atas tanah yang kian membusuk
oleh ludah keangkuhan.
Kalian selalu butuh musuh untuk merasa suci, bukan? Kalian butuh sosok seperti aku, si pendosa yang terang-terangan, agar kalian punya tolok ukur untuk berkata, "Untunglah aku tidak seperti dia." Sungguh kalkulasi yang menyedihkan. Kesalehan kalian ternyata tidak berdiri di atas kedalaman cinta, melainkan di atas bongkahan rasa takut dan kebutuhan akan pengakuan. Kalian menakar kadar keimanan seseorang dari seberapa pandai ia melipat wajahnya saat berhadapan dengan khalayak. Namun di kamar yang gelap, ketika lampu-lampu panggung padam dan suara riuh masyarakat mereda, aku tahu kalian gemetar. Kalian takut menatap cermin, sebab di sana, topeng yang kalian pakai sepanjang hari telah melekat begitu erat hingga tak bisa dibedakan lagi mana wajah asli dan mana kepalsuan.
"Kalian tidak sedang mencari surga; kalian hanya sedang mencari penonton yang bersedia bertepuk tangan saat kalian berpura-pura menjadi malaikat."
Pomalaa, 20260727
duiCOsta_hatihati
Comments
Post a Comment