Kalian Aku

Di sudut malam yang bising, atau mungkin di tengah riuhnya pasar yang menawarkan fatamorgana, ia selalu terlihat seperti sebuah titik yang mandek. Orang-orang berlarian mengejar waktu, saling bertabrakan kata, berkerumun demi merasa ada. Namun dia memilih menarik diri dari gerombolan itu. Dia diam. Lidahnya terkunci, namun matanya tidak pernah benar-benar tidur; ia mengamati setiap jengkal sandiwara dunia dengan ketajaman yang ganjil. Di balik batok kepalanya, otaknya berputar cepat, berfikir dan mengurai takdir, mengolah semua ketukan yang tertangkap indera tanpa kendali, karena semua sudah berputar dengan sendirinya disana. 

Sementara di ceruk dadanya yang paling sunyi, hatinya melantunkan senandung lirih ingatan kepada kekasih terlupa yang tak putus, seperti detak jam dinding yang setia pada setiap putaran detiknya. Semua kerumitan itu berjalan bersamaan, melebur dalam satu wadah bernama "Sebagian Kalian yang sedikit itu" atau terwalikan sederhana dalam "Aku", bertahun-tahun lamanya atau mungkin sejak purba belum terhitung waktu, sudah ada Aku-aku yang begitu.


​Manusia di sekitarnya kerap kali menatapnya dengan dahi berkerut. Menghakimi. Bagi mereka, dia adalah manusia antik yang gagal beradaptasi, sebuah teka-teki yang salah dipahami. Mereka melihatnya berjalan sendiri, lalu dengan iba yang keliru, mereka menyimpulkan bahwa dia sedang kesepian.

​Wadughh, 
alangkah dangkalnya cara dunia menilai bahagia.

​Ia memang nampak sendirian, tapi jiwanya tidak pernah mengenal sepi. Bagaimana mungkin ia kesepian jika di balik punggungnya berdiri kokoh pasukan senyap? Pasukan kasat mata yang hanya bisa kau lihat jika kau mau membasuh matamu dengan air mata suci dari mata air Ibu, lalu memandang menggunakan mata hati. Sayangnya, kebanyakan manusia terlanjur rabun, mata telanjang mereka terlalu sibuk digunakan hanya untuk mengintip dan mencari-cari celah nyaman, sebagai bahan dari naskah karangan bebas pengisi waktu, tak peduli benar salah baik buruk, hingga luput melihat keindahan yang tersembunyi.

​Maka dengarlah sebuah nasihat kuno yang berbisik di antara angin malam: "Jangan pernah mengusiknya". Seseorang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri dan telah menemukan keintiman bersama Cinta Sejati dalam wujud dekat tak bersentuh, jauh tak berjarak meski perjalanan mereka dalam tangga pencarian sunyi karena takdir lupa manusia. Itu adalah sumbu yang berbahaya jika kau sulut dengan percikan cemburu ego dan keakuan yang akan membakar habis setiap yang menyebutnya diri.

​Lalu, siapakah sebenarnya sosok ganjil ini?

​Jika kau menimbangnya dengan ukuran dunia modern yang serba bising dan pamer, karakter ini jelas terasa aneh. Dia adalah sebuah anomali, sebuah kesalahan sistem di mata masyarakat yang gila hormat dan ritualis. Namun, jika kau bersedia menyelam lebih dalam ke dasar samudera kehampaan dan spiritual, kau akan tahu bahwa dia adalah permata langka yang sengaja disembunyikan Tuhan dari pandangan indera yang khianat.

​Dan malam ini, saat riuh dunia akhirnya memudar dan menyisakan hening yang jujur, aku menatap bayanganku sendiri di cermin retak itu. Aku tersenyum tipis, menyadari sebuah rahasia yang selama ini tersembunyi rapat.

​Manusia antik, anomali yang sunyi, dan permata yang terasing itu... ternyata adalah kalian yang sedikit, tersisihkan dan tak tersentuh. 

Bisa jadi juga, itu adalah aku... sebagai satu-satunya keakuanku yang semoga di ampuni, dari rahim yang lebih luas dari cemburu itu sendiri.

Tetaplah begitu, biar saja.
Itu bukanlah dosa,
Tersangka tanpa tuduhan
Yang kau dengar, simak saja
Yang kau lihat, ingat saja
Yang kau pikir, serahkan saja..
Karena Sisa dari itu semua,
Sia-sia dan mengada-ada..

Yogyakarta, 20260710
duiCOsta_hatihati 

Comments

Popular Posts