cieeee, aku kamu

​Di bibir, aku memuji bahwa Kekasih itu Maha Adil. Namun di dalam hati, aku protes keras ketika keadilanmu tidak berpihak kepada ingin dan anganku.

​Pengakuan paling sadisku adalah: yang kupuja selama ini bukanlah kamu, melainkan berhala dari bayangan diriku sendiri yang merasa tak pernah salah.

​Pantas saja jalan pintas ke surga kita terasa buntu, jalan cepat ke sana terasa panjang berkelok. Jika sejauh ini ruang cinta kita terasa begitu sunyi dan sempit, itu karena aku telah mengusir semua orang yang layak, hanya demi menyisakan aku dan aku untuk menetap dan memenuhi seruang surga itu.

​Pada akhirnya, aku berharap masih ada waktu untuk merayumu kembali, seperti yang sudah-sudah. Agar berhala yang kupahat sendiri runtuh tanpa jasad, dan aku bisa kembali memelukmu tanpa canggung setelah kamu Cemburu.

​Aku rida dihalau dari surga solipsistik rekayasa egoku, demi melarung dan luluh dalam rengkuhan magfirat maha-ada yang kau bentangkan.

​Sebuah rahasia manis yang baru kusadari: petunjukmu tidak pernah datang saat aku berdiri, merasa puas atas kesombongan-kesombongan yang kubeli. Rasa itu lahir seperti arah cahaya di setiap pecah pagi; hadir saat aku di tempat paling rendah, di mana ego tak lagi punya ruang untuk bernapas, dan saat kepala serta hati berada lebih rendah dari lubang kotor di belakang yang biasanya berada di atas.

​Setelah sekian panjang perjalanan dan berulang kali mengeja setiap jengkal peristiwa, sejauh ini aku rupanya masih selalu bebal perihal pengakuan, tentang bagaimana seharusnya aku hanyut dan luluh seutuhnya padamu. Hingga sampailah aku pada satu simpul mutlak: persetan jika neraka harus membakar habis surga, aku tak lagi peduli. Bahkan jika kelak aku tak mendapat tempat di dalam ruang mana pun, sekali lagi aku tak peduli. Sebab setiap langkah perjalananku selalu mengajarkan satu kebenaran purba tentang ke mana arah cinta sejati ini seharusnya bermuara: Kamu. Ya, hanya kamu.

Yogyakarta, 20260718
duiCOsta_hatihati 

Comments

Popular Posts