Mengeja Takdir
Tuhan, izinkan aku melangkah mendekati takhta-Mu malam ini. Kubawa sebentuk tanya yang paling rapuh dari lubuk jiwaku, kumohon, pandanglah ia dengan tatapan rahim-Mu yang mahaluas, dan jangan biarkan murka-Mu menyala atas kelancanganku. Ini hanyalah gema sunyi dari seorang makhluk yang sedang tertatih mengeja kehendak-Mu.
Sebenarnya, ke manakah gerangan perginya doa-doa yang selama ini kualamatkan ke langit? Ke mana larinya seluruh rapalan dan air mata yang kuamanahkan pada angin malam?
Apakah mereka kini terperangkap di balik labirin takdir yang belum dijamah oleh jemari waktu? Ataukah permohonan bersahajaku ini membeku dalam ruang tunggu semesta, terselip di atas meja misteri kosmis yang begitu sunyi, sebuah tempat yang bahkan batas terjauh dari kesabaran insani pun kehilangan peta untuk menemukan alamatnya? Aku cemas, doa-doaku terdampar dalam senyap, menjadi arsip-arsip bisu di bawah agungnya ketetapan-Mu.
Ampunilah kelancanganku, Sang Arsitek Semesta. Aku hanyalah seorang peziarah kecil, musafir ringkih yang kakinya telah terlanjur berakar di ambang batas penantian. Musim demi musim telah berganti, meluruhkan helai-helai usiaku yang fana. Telah berulang kali kupertaruhkan seluruh sisa harapanku pada keluasan cakrawala, namun malam demi malam, hanya sunyi yang kembali padaku, memelukku bagai sahabat paling setia, menjadi satu-satunya surat balasan yang paling konsisten kuterima dari haribaan-Mu.
Maka, jika malam ini dadaku bergemuruh dan suaraku meninggi seolah sedang menggugat langit, ketahuilah dengan pasti: yang sedang mengetuk pintu-Mu bukanlah ketidakimanan, bukan pula tanda ingkar atas kekuasaan-Mu yang absolut.
Yang sedang berbicara di keheningan ini adalah kerinduan yang membakar dada seorang hamba; kerinduan yang amat sangat untuk sekadar memahami bahasa kasih-Mu yang tersembunyi, dan mengerti bagaimana kemurahan-Mu menenun takdir indah yang masih Kau rahasiakan dariku.
Gusti, redam murka-Mu.
Ada tanya memburu.
Doa yang kulangitkan,
di mana Kau sembunyikan?
Membeku di lipatan takdir?
Atau tersesat di ujung masa?
Ampuni aku, musafir lumpuh.
Lama mengeja tunggu.
Ufuk hanya mengirim sepi.
Sebuah jawaban mati.
Malam ini aku menggugat.
Bukan ingkar yang mencuat.
Ini rindu yang sekarat.
Mencari ujung kebingungan,
yang hakiki..
Yogyakarta, 20260716
duiCOsta_hatihati
Comments
Post a Comment