wajah kompeni anak-cucu Ken Arok

Dalam koridor korporasi yang dingin, manusia sering kali hanyalah bayang-bayang yang berdansa di atas panggung ambisi, mengenakan topeng-topeng yang membiaskan cahaya kebenaran. Kita terjebak dalam teater absurditas, di mana keberhasilan sering kali hanyalah fatamorgana yang dibangun di atas fondasi keropos, dan kegagalan adalah hantu yang disembunyikan di balik tirai laporan tahunan. Di sini, di antara deru mesin fotokopi dan aroma kopi yang basi, terbentang spektrum jiwa-jiwa yang tersesat para aktor yang memerankan peran-peran tragis tanpa menyadari bahwa panggung tempat mereka berpijak sedang perlahan runtuh dimakan rayap ketidaktulusan.

​Logika hanyalah peluru hampa,
di tangan mereka yang memuja gema,
menanam mawar di atas bara,
lalu bertanya mengapa tangan terbakar duka.

​Ia adalah arsitek menara pasir yang memandang setiap butir debu sebagai emas murni, seorang visioner yang buta akan angka namun fasih mengeja kata "ekspansi." Baginya, setiap pengeluaran adalah persembahan suci di altar pertumbuhan, sebuah paradoks di mana ia merasa sedang membangun imperium padahal sejatinya ia sedang menyulut api pada gudang logistik sendiri. Ia menciptakan kesibukan yang megah, sebuah orkestra kebisingan yang menutupi suara retakan finansial yang kian membesar, membakar masa depan demi membeli decak kagum sesaat yang tak memiliki nilai tukar di dunia nyata.

​Emas yang kau gali dari kantung sendiri,
hanyalah debu yang menutup mata matahari.
Kau sibuk menenun sutra,
saat telanjang adalah takdir yang tersisa.
untukmu,
Sang pemuja investasi fana...

​Di sudut ruangan, ia menari dalam badai kertas dan rentetan notifikasi, menciptakan ilusi produktivitas yang begitu meyakinkan hingga waktu pun merasa tertipu. Ia adalah personifikasi dari gerak tanpa arah, sebuah gasing yang berputar kencang di titik yang sama namun merasa telah menempuh perjalanan ribuan mil. Kehadirannya adalah racun yang manis; ia membuat tim merasa telah mendaki puncak gunung tertinggi, padahal mereka hanya sedang berjalan di atas treadmill yang diletakkan di dalam lubang gelap yang tak berujung.

​Langkah seribu di atas karpet beludru,
keringat menetes tapi bumi tetap kaku.
Kau adalah pelari yang mengejar bayangan,
tapi lupa membawa raga ke tujuan.
dan kau,
memilih tersesat sebagai badut fatamorgana...

​Ketika cahaya keberhasilan bersinar, ia berdiri paling depan, membiarkan wajahnya meminum seluruh pujian bagai tanah kering yang haus akan hujan. Namun, saat badai kegagalan datang mengetuk pintu, ia lenyap menjadi udara atau menjelma telunjuk yang menusuk dada sesamanya. Ia adalah hantu tanggung jawab yang hanya eksis dalam kemenangan; sebuah lubang hitam dalam kepercayaan tim yang secara perlahan menghisap kohesi organisasi hingga yang tersisa hanyalah saling curiga dan sunyi yang mencekam.

​Mahkota itu dicuri dari kepala kawan,
saat pedang musuh baru saja diayunkan.
Kau selamat, tapi kesendirian adalah hukuman,
di istana yang kau bangun dari pengkhianatan.
dengan juluk,
Mahkota berwajah bayang-bayang...

​Ia adalah penjaga gerbang waktu yang menolak jarum jam berputar, seorang pemuja status quo yang menganggap perubahan sebagai bidah yang paling nista. Dengan mantra "dari dulu juga begini," ia membangun tembok-tembok tak kasat mata dari ketakutan yang dibungkus dengan rapi dalam kemasan tradisi. Ia tidak merusak dengan kapak atau api, melainkan dengan keheningan dan kelembamannya yang mematikan, memastikan bahwa benih inovasi mati sebelum sempat menyentuh tanah, membiarkan perusahaan menjadi fosil yang masih bernapas.

​Sungai yang diam adalah kuburan bagi ikan,
dan kau adalah batu yang menolak aliran.
Keamananmu adalah jeruji yang paling kuat,
membunuh sayap sebelum sempat melompat.
sebagai sipir penjara yang nyaman,
dengan zirah narapidana...

​Performa kerjanya mungkin tak bercacat, namun di bawah lidahnya tersimpan bisa yang sanggup melumpuhkan semangat satu batalion. Ia adalah pengkhotbah sinisme yang memandang setiap harapan sebagai kenaifan dan setiap kerja keras sebagai kesia-siaan yang patut ditertawakan. Satu kalimatnya adalah tetesan tinta hitam di dalam segelas air bening; ia tak perlu menghancurkan meja kerja untuk merusak kantor, cukup dengan membisikkan keputusasaan hingga seluruh organisasi kehilangan detak jantung ambisinya.

​Mulutmu adalah sumur yang menawarkan dahaga,
setiap tegukan adalah kematian bagi cinta.
Kau mematikan lilin orang lain,
hanya agar gelapmu punya kawan bermain.
dan peracik racun tulang untuk sekitar...

​Wajahnya adalah cermin yang hanya memantulkan apa yang ingin dilihat oleh penguasa, sebuah topeng loyalitas yang sebenarnya adalah belati bagi kebenaran. Ia membunuh manajemen dengan pelukan kebohongan, menyajikan laporan-laporan manis di atas piring perak sementara kenyataan sedang membusuk di dapur. Ia adalah navigator yang mengatakan laut tenang saat kapal sedang menuju pusaran air, mempercepat kehancuran dengan cara membungkam suara-suara jujur yang seharusnya menjadi pelampung penyelamat.

​Iya yang kau ucap adalah nisan bagi fakta,
pelukanmu adalah cara halus untuk buta.
Tuanmu senang, kapalmu tenggelam,
kau adalah pemandu menuju palung terdalam.
​Penari gemulai dipanggung "Asal Bapak Senang"...

​Bagi dirinya, aturan hanyalah saran yang mengganggu dan integritas adalah beban bagi mereka yang lambat. Ia mengejar hasil dengan cara menginjak-injak etika, menanam bom waktu risiko di bawah karpet kesuksesan jangka pendek demi kepuasan ego pribadi yang rakus. Ia mungkin terlihat seperti pahlawan yang membawa hasil cepat, namun ia sebenarnya adalah rayap yang sedang berpesta pora di tiang penyangga reputasi perusahaan, menunggu saat yang tepat ketika seluruh bangunan itu runtuh demi segenggam emas yang ia curi.

​Kau memetik buah dengan menebang pohonnya,
lalu bangga dengan hasil yang sekejap mata.
Besok kau lapar, tapi akar sudah tak ada,
tinggallah kau memakan debu dari sisa sejarah.
termasyur sebagai legenda
Pemburu Celah yang Durjana...

​Pada akhirnya, kantor bukanlah sekadar gedung bertulang baja, melainkan sebuah ekosistem moral di mana setiap tindakan adalah benih bagi masa depan. Jika kita membiarkan karakter-karakter tragis ini mendominasi panggung, maka kita sedang menulis naskah bagi kejatuhan kita sendiri. Kebenaran mungkin sering kali pahit dan sunyi, namun ia adalah satu-satunya fondasi yang tidak akan goyah saat badai realitas menghantam tirai teater yang kita sebut pekerjaan. Berhati-hatilah pada apa yang kau puja di bawah lampu neon, karena apa yang kau bangun dengan kepalsuan, akan runtuh dengan kepastian.

Meski dari sudut dimana letak sumber tak tersentuh. Seringkali memebri tanda, arah atau menggiring opini. Tentang kutukan sebagai anak cucu Ken Arok di wajah modern. Nyata tali simpul dari keadaan yang aku enggan membaca... Aku tuliskan semoga tidak dengan kita.

yang tidak bisa dikendalikan,
tidak akan pernah "benar" dimata mereka, 
karena tujuan mereka,
bukan kebenaran 
tapi kendali, 
dan ketika kendali gagal, 
narasi kebencian adalah rumah tujuan,
sebagai pelarian.

Pomalaa, 20260419
duiCOsta_hatihati 

Comments

Popular Posts