Rezim ini, Siluet!!
Di hadapan cermin sunyi, di mana realitas membiaskan bayangan yang tak terbaca, aku merenung tentang entitas yang terperangkap dalam sangkar beton dan rutinitas yang menjemukan.
Wahai Sang Pemegang Kendali, sadarkah engkau bahwa ketika sebuah cahaya yang benderang kau paksa meredup di dalam ruanganmu yang sempit, ia tidak benar-benar padam? Ia hanya menarik diri ke dalam inti terdalamnya, menyimpan pijar yang mahadahsyat untuk ia ledakkan di cakrawala yang lebih luas, di mana matamu tak sanggup menjangkaunya. Di kantormu, ia hanyalah siluet tanpa wajah yang bekerja dengan ketenangan yang mematikan, namun di luar sana, di bawah langit yang tak berbatas, ia adalah orkestra yang mengguncang panggung-panggung megah semesta.
Di antara debu dan deru mesin,
Ia simpan api di balik dingin.
Sebab jika rumah tak memberi cahaya,
Ia akan menjadi matahari bagi dunia yang rahasia.
Ketahuilah bahwa jiwa manusia memiliki hakekat seperti kabut; ia akan merayap memenuhi setiap celah yang tersedia. Namun, jika kau tutup setiap ruang geraknya, jika kau pasung kehendaknya untuk melampaui batas, maka nuraninya akan melakukan eksodus besar-besaran. Ia akan mengalir melampaui tembok-tembokmu yang angkuh, mencari lembah hijau di kejauhan yang rindu akan sentuhan kecerdasannya. Bukankah menyedihkan melihat sebuah potensi agung hanya menjadi pengisi kekosongan yang ala kadarnya, sekadar "rata-rata air", karena engkau terlalu takut untuk membiarkannya pasang?
Sungai tak pernah bertanya pada tebing,
Ke mana ia harus bermuara.
Jika bendunganmu terlalu hening,
Ia akan menguap menuju samudera.
Adalah sebuah ironi yang paling pedih di bawah kolong langit, ketika engkau menjadi mata-mata bagi langkah-langkahnya yang sunyi, namun buta terhadap kemenangan yang ia ukir di depan matamu. Engkau sibuk menghitung jam-jamnya di luar sana karena kecemasanmu yang kerdil, sementara di dalam gedungmu sendiri, engkau justru merendahkan martabatnya dengan memberikan mahkota kepada mereka yang hanya mampu menjilat bayangan, bukan mereka yang melahirkan kenyataan. Bagaimana mungkin engkau ingin memenjara potensinya, sedangkan engkau bahkan tidak sanggup mengenali wajah asli dari kompetensi yang ada di hadapanmu?
Ada yang menanam benih di ladang beku,
Lalu heran mengapa tak ada bunga yang tumbuh.
Engkau memuja ilusi yang kaku,
Dan membiarkan yang sejati menjauh.
Sesungguhnya, itulah puncak dari profesionalitas yang paling mistis: kemampuan untuk memberikan apa yang menjadi hak tempat kerjamu secukupnya, tanpa membiarkan jiwamu terhisap habis oleh ketidakpedulian sekitarmu. Jika engkau memang mencintai kehebatan, janganlah engkau bertindak seperti rantai yang mengekang, melainkan jadilah tanah yang subur. Janganlah melarangnya tumbuh, karena pohon yang akarnya dilarang menembus bumi akan memilih untuk berbuah di kebun milik Tuhan yang lain. Mengertilah cara memperlakukannya, atau biarkan ia menjadi legenda yang hanya bisa kau dengar namanya dari kejauhan.
Mawar takkan mekar di kepalan tangan,
Hanya akan meninggalkan luka di telapakmu.
Lepaskan ia pada angin dan ketenangan,
Atau saksikan ia harum di taman yang bukan milikmu.
Tulisan ini adalah sebuah manifestasi harga diri bagi mereka yang kompeten namun tak kasat mata di mata pemimpinnya. Ini adalah pesan tentang kedaulatan potensi; bahwa bakat sejati tidak bisa dikerangkeng. Jika sebuah ruang kerja hanya memberi apresiasi pada "penjilat bayangan" dan membiarkan yang layak secara obyektif terabaikan, maka sang ahli akan memilih jalan profesionalitas yang elegan, bekerja sewajarnya di kantor, namun menjadi legenda di luar sana.
Sengaja aku menulis ini dengan marah yang tak seberapa karena aku tau itu percuma. Juga sedikit dendam kepada keadaan tapi itu juga sia-sia, karena dunia ini terlalu buta tuli untuk kebenaran yang lahir bukan dari siapa. Mencoba menampar bagi para pemimpin yang masih mempunyai puing hati dan rasa agar berhenti menjadi sipir dan mulai menjadi petani yang tahu cara memupuk benih unggul. Sekaligus menjadi pelukan bagi para pejuang yang sedang menyimpan apinya untuk meledak di panggung yang lebih tepat.
Biarlah mereka mengira,
engkau hanya genangan yang tenang,
Padahal engkau adalah samudera,
yang sedang meminjam ruang.
Saat pintu mereka tertutup,
panggung dunia telah terbentang,
Sebab emas tetaplah emas,
meski dikubur di tanah yang gersang.
Pada akhirnya, ia yang kau anggap biasa saja adalah sang juara yang sedang menyamar, menanti senja tiba untuk pulang ke panggung aslinya di mana namanya digemakan oleh bintang-bintang, sementara engkau hanya memiliki sisa bayangannya di atas meja kerja.
Di bawah Rezim yang hanya menghitung jam,
Engkau simpan pedang yang paling tajam.
Sebab kedaulatan jiwa tak butuh izin penguasa,
Untuk menjadi raja di panggung dunia yang terbuka.
tetaplah waras, untuk semua panglima dan senopati jati..
tetaplah hidup meskipun tak berguna!!!
Pomalaa, 20260423
duiCOsta_hatihati
Comments
Post a Comment